
Korea Selatan bakal menginvestasikan dana sebesar 88 miliar won atau setara Rp1,2 miliar untuk mengembangkan sistem senjata anti-pesawat nirawak setelah insiden penerobosan drone dari Korea Utara.
"Kami ingin meningkatkan sistem tersebut sehingga akan benar-benar mampu mengintersepsi jet tempur dan satelit," ujar Song Chang-joon, seorang pejabat senior Badan Program Akuisisi Pertahanan Korsel (DAPA).
Dengan sistem anti-drone ini, Korsel berharap dapat melindungi negaranya sementara mereka berupaya mengurangi ketegangan dengan Korut melalui jalur diplomasi.
Korut dan Korsel secara teknis masih dalam status berperang karena Perang Korea 1950-153 lalu berakhir dengan gencatan senjata, bukan kesepakatan damai.
Asa perdamaian sempat naik ketika Presiden Korsel, Moon Jae-in, dan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, bertemu untuk pertama kalinya tahun lalu.
Harapan perdamaian kian tinggi usai beberapa pertemuan lanjutan antara kedua pemimpin negara. Namun, asa itu mulai pupus seiring ketidakjelasan kelanjutan dialog denuklirisasi antara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.