Digilife

Kronologi Kasus Pembobolan WhatsApp Aktivis Ravio Patra yang Bikin Geger Netizen

  • 23 April 2020
  • Bagikan :

    (Ilustrasi/Unsplash)

    Uzone.id -- Jika kalian memperhatikan linimasa Twitter pada siang hari ini, Kamis (23/4), salah satu tagar yang menggema di platform mikroblog itu dan menempati di jajaran Trending Topic ini hari berbunyi #bebaskanravio. Sebenarnya ada kasus baru apa lagi, ya?

    Aktivis Ravio Patra yang juga seorang peneliti independen yang terlibat dalam Open Government Partnership (OGP) saat ini telah diperbincangkan oleh netizen Indonesia lantaran dirinya ditangkap oleh intel polisi setelah akun WhatsApp-nya dibobol oleh peretas pada Selasa malam (21/4).

    Dari penjelasan Direktur Eksekutif SAFEnet Damar Juniarto, semua berawal dari akun WhatsApp-nya yang beberapa kali mengalami percobaan diretas oleh hacker tak dikenal.

    “Informasi awal pada Selasa kemarin sekitar pukul 14.00 WIB, Ravio mengadu kepada SAFEnet kalau ada yang meretas WhatsApp miliknya. Ketika ia mencoba menghidupkan WhatsApp, muncul tulisan ‘You’ve registered your number on another phone’,” terang Damar dalam pernyataannya kepada Uzone.id, Kamis (23/4).

    Dia melanjutkan, “setelah itu Ravio melakukan pengecekan inbox SMS, ternyata ada permintaan pengiriman OTP.”

    Masih dari penjelasan Damar, kemudian di antara pukul 13.19 hingga 14.05 WB, Ravio mendapatkan panggilan dari nomor 0821-6767-2001, 0812-2666-1865, dan nomor telepon asing dengan kode negara Malaysia serta Amerika Serikat.

    “Ketika diidentifikasi melalui aplikasi, nomor tersebut merupakan milik AKBP HS dan Kol ATD. Kuat dugaan kami bahwa pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomor mereka untuk bisa mengambil alih WhatsApp,” jelas Damar.

    Dia melanjutkan, “karena OTP dikirim ke nomor Ravio, besar kemungkinan pembobol sudah bisa membaca semua pesan masuk lewat nomor tersebut.”

    Yang membuat keheranan, diketahui Ravio sudah menerapkan keamanan berlapis pada WhatsApp miliknya, berupa penerapan Two Way Verification dan memasang sidik jari. Namun, ternyata hal ini tetap bisa dibobol.

    Baca juga: Telkomsel CloudX, Platform Lokal Andalan Pemerintah Gantikan Zoom

    Lebih parahnya lagi, tak hanya dibobol, tetapi akun WhatsApp-nya itu dimanfaatkan untuk menyebarkan kabar hoaks pada pukul 1.435 WIB.

    "KRISIS SUDAH SAATNYA MEMBAKAR! AYO KUMPUL DAN RAMAIKAN 30 APRIL AKSI PENJARAHAN NASIONAL SERENTAK, SEMUA TOKO YG ADA DIDEKAT KITA BEBAS DIJARAH,” begitu isi pesan hoaks yang seolah dikirim oleh Ravio selama WhatsApp-nya diretas.

    Kemudian, Ravio mengumumkan soal masalah peretasan akunnya itu di Twitternya, @raviopatra dan mengimbau kepada semua orang agar tidak menanggapi pesan hoaks tersebut.

    Kemudian pada pukul 19.00 WIB, WhatsApp Ravio akhirnya berhasil dipulihkan.

    “Sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio menghubungi SAFEnet lagi dan mengatakan, ‘Mas, kata penjaga kosanku ada yg nyariin aku tapi udah pergi. Tampangnya serem kata dia.’ Kami meminta Ravio untuk mematikan ponsel dan mencabut baterainya sesuai prosedur keamanan standar, lalu mengevakuasi diri ke rumah aman,” terang Damar.

    Ravio sempat menghubungi dan berkomunikasi dengan Pengurus YLBHI untuk meminta advis hukum dan juga menghubungi Komisioner Komnas HAM untuk meminta bantuan jika terjadi sesuatu dalam waktu dekat.

    Ia sempat mengabarkan sedang bersiap mengevakuasi diri ke rumah aman, tetapi kemudian sudah lebih dari 12 jam ia tidak bisa lagi dihubungi. Pada saat yang bersamaan sekitar pukul 00.30 WIB, muncul artikel di seword.com dengan teks memojokkan Ravio disertai dengan hasil tangkapan layar yang mencantumkan pesan provokasi.

    Pada Kamis (23/04) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, SAFEnet mendapat informasi bahwa Ravio ditangkap semalam oleh intel polisi di depan rumah aman.

    Diketahui, Ravio belakangan ini sempat mengkritik Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar yang diduga kuat terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintah di Papua. Ia juga sempat menuliskan kritik tentang penanganan COVID-19 di media online.

    Saat ini tim SAFEnet bersama Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus tengah mendesak Presiden Joko Widodo dan pihak Polri untuk mengusut kasus ini.