
Hampir setiap negara kini mengandalkan tank dan panser untuk memenangkan peperangan di wilayah darat. Sebelum teknologi tersebut ditemukan, manusia memanfaatkan gajah-gajah.
Salah satu peristiwa yang jamak dikenal, khususnya di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, ialah hari lahir Nabi Muhammad. Laki-laki yang dijuluki Al-Amin (dapat dipercaya) itu lahir di Mekkah, pada 571 M—sekitar 1446 tahun yang lalu.
Dalam khazanah tarikh (sejarah) Islam, tahun itu disebut "Tahun Gajah". Sebutan ini bukan tanpa alasan. Kala itu, raja vassal Ethiopia di Yaman, Abrahah, menyerang Mekkah dengan pasukan gajah. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Quran surah Al-Fil.
Disebutkan ketika pasukan gajah Abrahah memasuki Mekkah, mereka dihujani batu yang dilempar burung ababil. Pasukan Abrahah luluh lantak. Ia kalah, Mekkah pun selamat.
"Tidak pernah ada batu yang jatuh pada tentara kecuali membubarkan dagingnya dan membuatnya hancur ... Abraha Al-Ashram melarikan diri sementara dagingnya hancur berkeping-keping dan meninggal dalam perjalanan kembali ke Yaman," ujar ahli tafsir Al-Quran, Ibn Katsir.
Baca juga: Kala Majid Majidi, Sineas Iran, Menafsirkan Nabi Muhammad
Serangan pasukan gajah ke Mekkah bukan yang pertama. Dalam War Elephants: From Ancient India to Vietnam karya David Ison mencatat gajah telah dimanfaatkan manusia sejak 4000 tahun lalu di India.
Pada mulanya gajah digunakan dalam pertanian. Dengan kekuatannya, gajah mampu mengangkut pepohonan yang berat. Gajah juga dimanfaatkan untuk membersihkan wilayah yang bakal digunakan sebagai lokasi peternakan dan konstruksi bangunan.
“Karena mereka menunjukkan sifatnya yang mampu dilatih sebagaimana kekuatannya, hanya tinggal menunggu waktu sebelum hewan besar itu diikutsertakan dalam militer. Menurut beberapa sumber Sanskrit, transisi ini terjadi sekitar 1100 SM,” ujar Ison.
Bagi Aleksander, gajah-gajah Raja Porus adalah senjata rahasia. Tapi bagi orang-orang India, perang menggunakan gajah bukan rahasia lagi. Dalam Elephantology in Sanskrit, Jacob V. Cheeran menjelaskan adanya konsep Chathuranga Sena yang berarti empat angkatan perang: kavaleri, infantri, kereta roda, dan gajah.
Cheeran juga mengungkap setidaknya ada tujuh kitab dalam bahasa Sanskerta yang memuat ragam bahasan mengenai gajah. Ada kitab Hasthi Ayurveda yang mengandung 12.000 tentang fisiologi dan penyakit pada gajah. Keseluruhan isi kitab ini termaktub dalam 12 bab yang dibukukan dalam kitab Mathangaleela.
Sementara itu, kitab Manasollasa membahas pentas pertarungan gajah. Pentas ini menjadi hiburan utama para raja. Sedangkan empat kitab lainnya antara lain Brihat Samhita, Gaja Sastra (sains hayati gajah), Arthasasthra (politik pragmatis ala India), dan Yasatilaka.
Gajah juga lazim digunakan untuk duel dan perang di Asia Tenggara. Lantaran memperebutkan takhta, dua anak tertua Raja Intharaja dari Siam (1409-1424) memilih duel satu sama lain dengan menunggangi gajah. Kemudian pada 1177, pertempuran Khmer melawan Champa melibatkan gajah perang di kedua kubu.
Baca juga: Ketika Serambi Mekkah Diperintah Para Sultanah
An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra yang disusun Anthony Reid membeberkan gajah perang yang dimiliki Sultan Iskandar Muda (1604-1637) dari Aceh. Kisah ini diambil dari Hikayat Aceh.
“Semua gajah-gajah yang sangat kuat dan sangat gagah jumlahnya tidak terhitung. Dan kota itu tidak berdinding seperti kebiasaan kota lain yang membentengi karena jumlah gajah perang yang ada di kota itu.”
Pada Perang Dunia II, Jepang menggunakan gajah untuk mengangkut logistik agar mudah masuk ke hutan lebat. Saat Perang Vietnam meletus, pasukan Viet Cong juga menggunakan gajah untuk mengangkut logistik ke Vietnam bagian selatan.
Baca juga artikel terkait MAULID NABI atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam