LIMS Buat Sadap Prabowo Lebih Ngeri Dibanding Pegasus Israel?
LIMS, teknologi penyadapan yang diduga menyadap nomor presiden, dianggap lebih menakutkan dari Pegasus karena mudah, murah, senyap, dan tak terdeteksi.

Highlight Artikel
- LIMS (Lawful Interception Management System) dianggap lebih menakutkan dibandingkan spyware Pegasus karena lebih mudah, murah, dan senyap.
- LIMS bekerja di jaringan operator telekomunikasi, sehingga tidak meninggalkan jejak di perangkat target dan sulit dideteksi.
- Penyadapan menggunakan LIMS tidak menimbulkan perubahan apapun di perangkat yang disadap, membuatnya sama sekali tidak terdeteksi oleh korban.
- LIMS dapat mengakses isi percakapan telepon, SMS, lokasi terbaru berdasarkan BTS, dan aktivitas internet (alamat situs), namun hanya metadata untuk aplikasi perpesanan terenkripsi.
Uzone.id — Penyadapan nomor HP
Presiden RI Prabowo Subianto menggunakan teknologi LIMS atau Lawful
Interception Management System sekilas mengingatkan kita pada salah satu
spyware milik pemerintah Israel yaitu ‘Pegasus’ yang juga digunakan untuk
menyadap politisi kelas atas.
Tapi, perlu diketahui kalau keduanya merupakan teknologi
yang berbeda. LIMS merupakan perangkat lunak atau software sedangkan Pegasus
adalah sebuah spyware yang disuntikkan ke perangkat targetnya.
Nah, yang bikin menarik, Alfons Tanujaya selaku pengamat
siber dari Vaksincom menyebut kalau LIMS lebih menakutkan dari spyware
tersebut.
“Kamu takut sama Pegasus? Dalam kasus dugaan penyadapan
nomor presiden yang diungkap aparat pada 3 November 2026, alat yang disebut
dipakai justru bukan spyware canggih, melainkan LIMS. Menurut saya ini lebih
menakutkan: lebih mudah, lebih murah, dan lebih senyap,” kata Alfons saat dihubungi oleh Uzone.id, Rabu, (04/11).
Ia menyebut kalau LIMS atau Lawful Interception
Management System memang bukan perangkat lunak mata-mata seperti
Pegasus.
LIMS adalah antarmuka resmi yang menghubungkan penegak hukum
langsung ke infrastruktur jaringan operator telekomunikasi. Nomor target
dimasukkan dari pusat pemantauan, lalu operator mengalirkan salinan
komunikasinya.
Salah satu yang bikin ngeri adalah LIMS tidak menimbulkan
jejak atau tanda-tanda kalau ponsel atau orang tersebut sedang menjadi target
penyadapan.
“Di sinilah masalahnya. Karena penyadapan terjadi di jaringan operator, tidak ada perubahan apapun di perangkat yang disadap,” katanya.
Ia melanjutkan, "Kalau lewat LIMS, ya tidak bisa (dideteksi). Wong datanya disadap di operator, bukan di ponsel. Tidak ada baterai yang cepat habis, tidak ada aplikasi aneh, tidak ada tanda apa pun."
LIMS beroperasi secara senyap dan sulit untuk terdeteksi.
Sementara spyware seperti Pegasus lebih mudah untuk terdeteksi.
“Spyware ini perlu dipasang di ponsel target, dan jejaknya
masih bisa ditemukan lewat pemeriksaan forensik. LIMS tidak. Dari sisi korban,
penyadapan ini sama sekali tidak terdeteksi,” tutur Alfons.
Selain lebih senyap dan sulit, LIMS juga dianggap lebih
terjangkau untuk dibeli oleh yang memiliki akses.
“Investigasi IndonesiaLeaks tahun 2023 menyebut Pegasus untuk penyadapan terbatas sekitar 10 orang dibanderol Rp7,5–9 miliar sementara LIMS sudah tersedia. Cukup masukkan nomornya saja,” tambahnya.
Namun, bukan berarti LIMS bisa mengakses semua informasi di
perangkat korban. Alfons menjelaskan kalau teknologi ini bisa mengakses cukup
banyak data-data penting.
Termasuk isi percakapan telepon biasa yang bisa didengar
secara langsung tanpa diketahui oleh target. Mengakses isi SMS secara penuh
karena tidak memiliki pengamanan end-to-end.
“Termasuk data tambahannya yaitu kapan dikirim, kapan
diterima, siapa pengirimnya, dan status pengirimannya,” tambah Alfons.
Data lainnya berupa lokasi terbaru yang bisa dilacak
berdasarkan menara BTS yang dipakai oleh ponsel, aktivitas internet seperti
situs mana saja yang dikunjungi, kapan, dan seberapa sering.
“Karena kebanyakan situs sudah memakai HTTPS, yang terlihat
umumnya alamat situsnya, bukan isi halamannya,” tambahnya.
Sementara untuk aplikasi perpesanan lainnya seperti WhatsApp, Signal, dan sejenisnya, Alfons menyebut kalau isi pesan di aplikasi tersebut sudah terlindung enkripsi, jadi yang didapat hanya metadata saja.
Untuk bisa mendeteksi soal penyadapan ini, Alfons menyebut satu-satunya jalan adalah hanya dengan memasang jebakan, atau canary trap.
"Sampaikan sebuah informasi umpan hanya lewat ponsel itu, yang tidak diketahui siapa pun. Kalau kemudian ada pihak yang memakan umpan tersebut, besar kemungkinan komunikasi Anda disadap," sarannya.
FAQ Artikel
Apa itu LIMS (Lawful Interception Management System)?
LIMS adalah perangkat lunak atau antarmuka resmi yang menghubungkan penegak hukum langsung ke infrastruktur jaringan operator telekomunikasi untuk tujuan penyadapan.
Apa perbedaan utama antara LIMS dan spyware seperti Pegasus?
LIMS adalah perangkat lunak yang beroperasi di jaringan operator dan tidak disuntikkan ke perangkat target, sehingga tidak meninggalkan jejak. Sementara itu, Pegasus adalah spyware yang disuntikkan ke perangkat target dan jejaknya masih bisa ditemukan melalui pemeriksaan forensik.
Mengapa LIMS disebut lebih menakutkan dibandingkan Pegasus?
Menurut pengamat siber Alfons Tanujaya, LIMS lebih menakutkan karena lebih mudah, lebih murah, dan lebih senyap. Penyadapan terjadi di jaringan operator tanpa perubahan atau deteksi di perangkat korban.
Data apa saja yang bisa diakses oleh LIMS?
LIMS dapat mengakses isi percakapan telepon, isi SMS secara penuh (termasuk metadata pengiriman), lokasi terbaru berdasarkan menara BTS, dan aktivitas internet seperti alamat situs yang dikunjungi. Namun, untuk aplikasi perpesanan terenkripsi seperti WhatsApp atau Signal, yang didapat hanya metadata.
Apakah LIMS meninggalkan jejak di perangkat yang disadap?
Tidak, LIMS tidak menimbulkan jejak atau tanda-tanda apapun di ponsel target karena penyadapan terjadi di jaringan operator, bukan di perangkat itu sendiri.
Vina Insyani
Jurnalis