
Publik tentu tak pernah membayangkan bila nama Didi Kempot mendadak populer kembali beberapa waktu belakangan. Lini masa media sosial riuh memanggil sosoknya dan menyebutnya sebagai "Godfather of Broken Heart". Yang bikin heran, ada anak-anak muda di belakang fenomena ini. Mereka dipersatukan satu keinginan: merayakan patah hati dengan jatmika.
'Renaissance' Didi Kempot bermula pada awal Juni lalu. Waktu itu, ia tengah melangsungkan konser di Taman Balekambang, Surakarta. Tak dinyana, banyak anak muda di barisan penonton. Mereka bernyanyi berjamaah—meluapkan kesedihan dan betapa nelangsanya hidup—bersama sang idola yang masih tampil prima, seakan tak tergerus usia. Video anak-anak muda yang nggrantes ini pun seketika viral di media sosial.
Sejak itu, pembicaraan akan Didi Kempot seolah tak berhenti berkumandang di ruang daring. Warganet beramai-ramai membagikan petikan lirik lagu ciptaan Didi Kempot yang mampu menggambarkan kesedihan mereka. Ada yang berupaya tetap optimistis, ada pula yang pasrah. Yang pasti: air mata membasahi jiwa mereka.
Narasi yang diangkat Didi Kempot dalam karyanya dianggap punya korelasi kuat dengan realitas percintaan yang dihadapi anak-anak muda masa kini.
Siapa yang tak pernah menangis semalaman karena ditinggal tiba-tiba? Siapa yang tak pernah merasakan susahnya move on? Dan siapa yang tak pernah hidup dalam rimba ketidakpastian?
Hampir semua anak muda pernah mengalaminya. Sebab itulah (lagu-lagu) Didi Kempot akan terus relevan.
Selain faktor kedekatan emosional, penyebab booming-nya Didi Kempot juga tak luput dari internet. Dengan internet, lagu-lagu Didi Kempot, yang sebelumnya terbatas peredarannya, kini menjadi lebih mudah diakses. Anda tinggal buka YouTube atau Spotify dan ketik “Didi Kempot” di kolom pencarian, maka lagu-lagu milik Didi Kempot akan bermunculan.
Kontribusi para influencer rupanya turut pula mengerek popularitas Didi Kempot di kalangan anak muda. Ghofar Hilman, misalnya, mengajak Didi Kempot untuk jadi bintang tamu acara #NGOBAM (Ngobrol Bareng Musisi) di akun YouTube-nya. Video ini ditonton lebih dari 800 ribu kali. Akun YouTube Ghofar Hilman sendiri punya jumlah subscriber sebanyak 464 ribu.
Di luar tiga faktor di atas, ada satu yang tak kalah penting: keinginan para penikmat musik untuk bernostalgia.
Simon Reynolds dalam bukunya berjudul Retromania: Pop Culture's Addiction to Its Own Past (2010) berpendapat bahwa pada dasarnya budaya populer dan musik senantiasa mendaur ulang masa lalu. Mereka menengok ke belakang, mencari artefak yang ada, kemudian membawa ke masa depan dalam bungkusan baru. Apa yang jadi mediumnya? Tentu saja internet.
Taufiq Rahman, redaktur politik The Jakarta Post sekaligus penulis Lokasi Tidak Ditemukan (2012) dan Pop Kosong Berbunyi Nyaring (2017), menyatakan contoh daur ulang tersebut bisa dilihat dari kehadiran Daft Punk pada satu dekade silam.
“Musik disko punya riwayat sebagai musik yang pernah dimaki-maki di AS pada era 1980-an. Namun, saat Daft Punk merilis Random Access Memories (2013), masyarakat justru menyambut dan jadi tren musik global,” katanya ketika dihubungi Tirto.
“Ini juga terjadi pada musik lain seperti hip hop dan post punk revival. Karena, pada dasarnya, produk budaya populer itu homogen dan enggak ada yang baru.”
Musik, menurut Taufiq, tak punya apa yang disebutnya sebagai tangibility kendati terus diproduksi dari masa ke masa. Inilah yang lantas membikin para pendengarnya tidak punya keterikatan terhadap pakem musik tertentu. Pendeknya, audiens musik sangat fleksibel dan bebas dalam menikmati musik.
Tapi, kasus Didi Kempot memang bukanlah yang pertama. Sebelum sosok Didi Kempot meledak, anak-anak muda lebih dulu merayakan nama-nama seperti Rhoma Irama, Nasida Ria, hingga NDX AKA. Ketiganya memainkan musik yang sebelumnya, mungkin, dipandang ‘norak’ bagi para generasi kiwari: dangdut dan kasidah. Dari ruang daring, perayaan terhadap musik-musik ini bahkan menjalar sampai panggung festival musik macam Synchronize Festival.
Tak hanya itu, keinginan anak-anak muda mereproduksi musik masa lalu dan yang berada di luar pakem pada umumnya juga muncul lewat kelompok Feel Koplo. Seperti namanya, kelompok ini memainkan lagu-lagu terkini yang dikemas dengan remix koplo khas Pantura maupun Jawa Timur. Feel Koplo membikin keriaan di panggung-panggung kecil yang pengap, membakar penonton dengan joget dan karaoke massal.
Namun demikian, menurut Idhar Resmadi, pengajar di Telkom University dan penulis Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2019), booming Didi Kempot tak lebih dari gejala semata. Hal tersebut merupakan manifestasi dari rasa penasaran dan keinginan untuk mencari bentuk yang baru anak-anak muda era sekarang.
“Aku pikir ini cuma tren saja. Belum sampai yang menciptakan market sendiri. Anak-anak muda melakukannya karena dipicu rasa penasaran saja,” tegasnya.
Memang betul. Didi Kempot bisa jadi mungkin hanya sebatas tren. Tapi, patah hati dan tangis air mata yang mengucur deras dari sadboi dan sadgerls tetap akan abadi, bukan?
Baca juga artikel terkait DIDI KEMPOT atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani