
“Apa yang dibisikkan Bill Murray ke kuping Scarlett Johannson?” tanya saya.
“Kan enggak dikasih tahu filmnya.”
“Iya. Itu aku tahu. Maksudnya, menurutmu teori yang paling laris apa?”
“Ha?”
“Mana mungkin fans Lost in Translation enggak pernah bikin teori tentang itu?”
“Oh,” ada jeda sebelum Senja menjawab panjang pertanyaan itu.
Senja adalah penggemar Lost in Translation kelas berat. Buatnya, Bill Murray dan Scarlett Johannson—yang jadi pemeran utama dalam film itu—semacam Romeo dan Juliet bagi penggemar Shakespeare, atau Cinta dan Rangga bagi remaja Indonesia awal 2000-an. Mungkin lebih. Kisah cinta Bob (yang diperankan Murray) dan Charlotte (yang diperankan Johannson) lebih pahit dari akhir kisah Romeo dan Juliet, sekaligus lebih manis daripada cinta pertama milik Cinta dan Rangga.
“Ini jenis film yang punya visual amat kuat. Tidak banjir dialog, bahkan punya banyak momen sepi—yang bikin kita larut dalam perenungan tokohnya. Bukan cuma terpapar emosi mereka,” kata Senja di lain waktu.
Saya langsung teringat puluhan adegan senyap itu. Baik Bob, apalagi Charlotte, memang punya banyak sekali adegan menatap jendela. Lost in Translation dibuka dengan tampang Bob yang menatap keluar jendela taksi, langsung menghadap gedung-gedung penuh pariwara khas Tokyo. Jendela-jendela itu adalah metafora dari masa kontemplatif kedua tokoh utamanya—metafora dari refleksi yang mereka lakukan di negeri sakura.
Bob adalah pria baya yang umurnya lebih tua tiga dekade dari Charlotte. Namun, keduanya tengah dilanda krisis hidup—Bob dilanda midlife crisis, sementara Charlotte dilanda quarter-life crisis.
Tampang Bob seringkali kelihatan lelah dan sedih, meski sesekali juga bisa melucu dengan humornya yang gelap. Tak jauh beda dari Charlotte, yang juga lebih sering terlihat linglung dan kesepian. Bob yang seorang artis senja pergi ke Jepang untuk syuting iklan wiski. Sementara Charlotte ikut suaminya, seorang fotografer yang sedang ada proyek motret.
Diam-diam, keduanya memelihara kesepian di hiruk-pikuk Tokyo.
Mereka sering berpapasan, tapi baru benar-benar “bertemu” di sepotong malam yang bikin susah tidur. Percakapan pertama keduanya terjadi di bar hotel—sebuah tempat yang cocok jadi simbol kesementaraan. Sebab semanis apa pun sebuah kamar di hotel, ia cuma jadi tempat singgah, tak pernah jadi rumah.
Bob dan Charlotte jadi akrab. Tapi, tak instan. Proses itu yang disebut Senja sebagai “bagian yang paling relate buatku, mungkin juga mereka—orang lain yang juga suka film ini.” Ada proses tarik-menarik duluan yang harus dilewati Bob dan Charlotte. Keduanya asing satu sama lain. Namun, Tokyo membuat dua orang asing ini tak cuma jadi saling menemani, tapi juga mengikat emosi. Kesendirian dalam menjadi orang asing yang akhirnya membuat mereka saling menemukan.
Ujungnya? Kita semua sudah tahu. Bob memang tak bisa bersama Charlotte.
Keduanya sempat bertukar ciuman, sebelum berpisah. Dalam adegan dramatis nan manis itu, Bob membisikkan sesuatu yang sampai sekarang masih jadi misteri. Ia memeluk Charlotte yang sedang mengisak, lalu berkata sesuatu yang sengaja tak direkam Sofia Coppola, sang sutradara.
“Yang dibisikkan Bill ke Scarlett tidak pernah sengaja diniatkan jadi sesuatu. Saya mau mencari tahu apa kira-kira yang bisa ditambahkan ke adegan itu, tapi pada akhirnya kami tidak pernah melakukan itu,” katanya pada IndieWire, akhir Agustus kemarin. Zach Sharf mewawancarai putri Francis Ford Coppola, sang pencipta trilogi The Godfather itu, dalam rangka merayakan satu setengah dasawarsa Lost in Translation. Film ini dirilis pada 12 September 2003, tepat hari ini 15 tahun lalu.