
-
Peneliti menyebut fenomena lubang raksasa di Sukabumi tidak akan terjadi lagi saat musim kemarau. Sebab, menurutnya terbentuknya lubang itu dipicu oleh hujan lebat.
"Iya [lubang terjadi akibat hujan lebat]. Ketika musim kemarau saya pikir tidak akan terjadi lagi fenomena itu," jelas Peneliti Geoteknologi LIPI Adrin Tohari saat dihubungi CNNIndonesia.com via sambungan telepon, Senin (29/4).
Hal ini diungkap Adrin ketika menjelaskan fenomena lubang raksasa yang terbentuk di Kampung Legok Nyenang, Desa Sukamaju, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Lihat juga:Ke Mana Air Kami Mengalir? |
Namun ia meyakinkan kalau lubang raksasa yang terbentuk di Sukabumi itu tidak akan bertambah dalam karena ditemukan batuan di dasar lubang.
"Kalau di Sukabumi kan tidak teratur ya [bentuk lubang raksasa] dan tidak menerus [makin dalam]. Kalau ini kan dia ada dasar batuan keliatan, di mana muncul aliran airnya," jelas Adrin.
Sebelumnya, Kepala Badan Geologi ESDM menyebut lubang itu terjadi akibat aliran sungai bawah tanah yang terbentuk karena endapan gunung api. Menanggapi pendapat ini, Adrin menyebut hal tersebut masih berupa hipotesa.
"Jadi ini berupa hipotesa saja karena itu [lubang raksasa] terjadi di daerah endapan vulkanik, kemungkinan ada aliran sungai bawah tanah yang terbentuk kembali," kata Adrin.
Lubang dengan diamater sekitar 16 meter dengan kedalaman 12 meter muncul secara tiba-tiba di area persawahan penduduk di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Laporan dari Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Jawa Barat menyebut bahwa sebayak 109 rumah terdampak peristiwa. Laporan terakhir sebanyak 338 orang diungsikan di lokasi yang lebih aman termasuk ke rumah penduduk lain dan masjid.
Warga pun diimbau untuk tidak kembali ke rumah hingga waktu yang tidak bisa ditentukan sebab tanah masih belum stabil.