Lumut Jadi Filter Udara Pintar, Inovasi Siswa SMA Ini Juara SFT 2026
AeroSpora, Inovasi dinding lumut pintar buatan siswa SMA Negeri 81 Jakarta berhasil jadi juara di Samsung Solve for Tomorrow 2026.
.jpg&w=3840&q=75)
Pemenang SFT 2026 Kategori SMA, Bryotech Alpha
Uzone.id – SMA Negeri 81 Jakarta melalui tim Bryotech Alpha berhasil meraih juara pertama kategori SMA dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow 2026. Tim yang beranggotakan Azka, Keanu, Vania, dan Aqeela ini membawa inovasi bernama AeroSpora, filter udara otonom yang memanfaatkan lumut Leucobryum glaucum sebagai alternatif air purifier konvensional.
Berbeda dari alat penyaring udara pada umumnya, AeroSpora mengandalkan kemampuan lumut untuk membantu menyaring polutan di udara. Inovasi ini juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) dan AI.
Gagasan ini berangkat dari persoalan kualitas udara yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Tim Bryotech Alpha melihat tingginya konsentrasi polusi PM2.5, terutama di kawasan perkotaan, sebagai salah satu alasan perlunya alternatif teknologi penyaring udara yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, mereka menilai air purifier konvensional masih memiliki sejumlah keterbatasan, mulai dari harga yang relatif mahal hingga penggunaan filter sintetis yang berpotensi menghasilkan limbah.
“Jadi latar belakangnya di sini kan kita tahu ya berdasarkan riset, Indonesia berada di nomor pertama negara di Asia Tenggara PM2.5 tertinggi. Dan kita tahu air purifier konvensional itu cukup mahal dan juga menghasilkan limbah sintetis yang memang sulit untuk terurai di lingkungan. Dan juga yang ketiga itu karena ada kasus penyakit pernafasan yaitu ISPA dan juga asma,” ujar Azka perwakilan dari Bryotech Alpha saat ditemui Uzone.
Mengandalkan Sensor untuk Memantau Kondisi Lumut
Dalam pengembangannya, AeroSpora dilengkapi sejumlah sensor yang ditempatkan di bagian luar maupun area media tanam. Sensor tersebut bertugas menangkap berbagai data lingkungan, mulai dari kondisi udara hingga kondisi tanah tempat lumut tumbuh.
Hasil pemantauan ini tidak hanya digunakan untuk mengetahui kondisi lumut, tetapi juga mengatur sistem penyiraman otomatis melalui relay module.
Sistem otomatis tersebut menjadi bagian penting dari AeroSpora karena lumut membutuhkan kondisi lingkungan dan kelembapan yang terjaga agar tetap bisa tumbuh dengan baik. Jika terlalu kering, kemampuan lumut untuk menjalankan fungsinya sebagai filter udara bisa terganggu.
"Ada beberapa sensor yang memang dikhususkan di luar untuk menangkap data dari udara dan ada juga yang dari tanah. Lalu data-data yang ditangkap sensor ini akan diakumulasikan dan akan diproses oleh ESP32 S3. Lalu ada yang akan ke relay module untuk mengatur sistem misting secara otomatis dan ada juga yang akan dimunculkan di dashboard kami yaitu VERA atau Visual Environmental Real Time Analytics untuk ditunjukkan kepada masyarakat luas,” kata Vania.
Perangkat berukuran 120 x 50 cm ini membutuhkan daya 15–25 watt dan diklaim mampu menjangkau ruangan seluas 50-80 m².
VERA, Dashboard Edukasi yang Terintegrasi AI
Tak hanya mengandalkan sistem pemantauan otomatis, Bryotech Alpha juga mengembangkan VERA (Visual Environmental Real Time Analytics). Dashboard ini dibuat untuk melihat data yang dikumpulkan sensor AeroSpora.
Menariknya, VERA juga dilengkapi chatbot berbasis AI bernama AeroSpora AI. Melalui fitur ini, masyarakat bisa berinteraksi dan mencari informasi seputar kesehatan lumut, hingga teknologi yang digunakan dalam inovasi tersebut.
“Jadi VERA ini adalah website yang memang kita develop untuk menjadi media edukasi buat masyarakat luas. Jadi itu Aerospora kami ini tidak hanya bekerja di belakang layar namun kami juga memberikan transparansi data dari sensor untuk masyarakat bahkan kami mengintegrasikan chatbot Aerospora AI supaya masyarakat bisa berbincang dengan Aerospora terkait kesehatan lumut, PM2.5, dan pastinya tentang inovasi kami,” ujar Vania, anggota Bryotech Alpha.
Targetkan AeroSpora Bisa Diterapkan di Berbagai Kota
Meski berhasil membawa pulang gelar juara pertama Samsung Solve for Tomorrow 2026 kategori SMA, Bryotech Alpha mengaku masih memiliki target yang lebih besar.
Mereka ingin inovasi ini tidak berhenti sebagai proyek kompetisi, tetapi bisa dikembangkan dan diterapkan di berbagai kota.
“Jadi untuk target kami ke depannya pastinya Aerospora ini tidak hanya akan berhenti di sini Aerospora tidak akan hanya menjadi suatu produk yang membawa kami menjadi juara satu namun target akhir kami adalah untuk melakukan ekspansi. Mengapa? Karena kami percaya bahwa Aerospora ini menjadi inovasi yang seharusnya dijadikan standar oleh setiap kota dan bahkan jika bisa Indonesia dan hingga global,” tutur Vania lagi.
Ia menambahkan, “karena Aerospora ini menjadi filtrasi yang juga sangat mendukung green smart city dan oleh karena itu kami akan terus berkomunikasi terus berkolaborasi dengan stakeholder-stakeholder yang diperlukan dan kami akan benar-benar wujudkan Aerospora ini menjadi standar kota yang hijau.”
Melalui pencapaian ini, Bryotech Alpha juga berharap Samsung Solve for Tomorrow bisa terus hadir sebagai wadah bagi anak muda untuk mengembangkan ide dan menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Mungkin saya ingin mengucapkan terima kasih dan semoga ke depannya bisa lebih dilanjutkan programnya dan bisa melahirkan generasi-generasi muda yang inovatif dan visioner,” kata Keanu, perwakilan dari Bryotech Alpha.

.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)
