
Langit Jakarta mulai gelap saat beberapa mahasiswa asal salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di Bandung berlarian menghindari tembakan gas air mata aparat kepolisian. Mereka berlari terengah-engah, coba menjauh dari Gedung DPR/MPR RI, tempat aksi unjuk rasa mereka menolak RKUHP dan sejumlah RUU lain.
Dalam pelarian, napas mereka kian sesak menghirup bau gas air mata yang menusuk hidung. Termasuk Nunik (bukan nama sebenarnya).
Dia sempat terpisah dari rombongan karena kakinya sempat terkilir. Tubuhnya juga melemas karena seharian berunjuk rasa.
Ia sempat memutuskan rehat sejenak di depan Gedung Badan Pemeriksa Keuangan (Keuangan) di Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Lihat juga:Massa Bakar Pos Polisi di Pejompongan |
Akhirnya Mawar pun dibawa ke kampung Petamburan 7, perumahan kumuh di tepi rel kereta Tanah Abang-Palmerah. Salah seorang warga yang juga berprofesi tukang pijat, Aceng, dengan sigap menuntun para mahasiswa.
Nunik dibawa ke sebuah warung makan milik warga. Ia direbahkan di lantai. Aceng pun langsung memberinya segelas air hangat dan memijit kaki Mawar yang terkilir.
"Tadi saya lihat ada rame-rame terus samperin. Saya lihat ini langsung mau bantu, kebetulan bisa mijit," ujar Aceng.
"Saya Sunda juga soalnya," ucapnya sembari tertawa.
Nunik sempat beristirahat hampir sejam. Warga menyarankan mahasiswa untuk membawa Mawar ke Rumah Sakit Bhakti Mulia untuk perawatan lebih lanjut.
Dibonceng sepeda motor warga, Nunik pun dibawa ke rumah sakit. Rekan-rekannya menyusul dengan berjalan kaki.
"Kita melihat situasi dulu, sesuai arahan korlap juga. Kalau menginap juga bisa karena kayaknya sudah enggak ada bus malam gini ke Bandung," ucap Adit.