
Pada Oktober 2014, terjadi peristiwa besar yang menentukan bagi nasib Google. Andy Rubin, bapak kandung sistem operasi Android, memutuskan hengkang dari Google. Keputusan itu berselang lebih dari setahun selepas ia turun dari jabatan sebagai kepala pengembangan Android.
Kepergian Rubin memang cukup mengherankan. Padahal ia adalah otak di balik Android, sistem operasi sejuta umat bagi banyak smartphone di dunia. Namun, dalam rilisan Business Insider, hengkangnya Rubin mungkin terkait dengan tabiat buruknya, “Rubin memiliki reputasi sebagai orang kasar, rewel, dan tidak bahagia dengan cara yang aneh.” Google mempertahankan orang seperti Rubin karena Larry Page, satu dari dua bos besar Google, “tidak keberatan selama mereka melayani tujuan perusahaan.”
Namun, semuanya berakhir. Selepas hengkang dari Google, Rubin mendirikan Essential Product Inc., startup yang dibekingi investasi senilai $300 juta. Selepas melahirkan Essential Phone, smartphone perintis konsep edge-to-edge display dengan tambahan notch di tengah atas layar, sebagai produk baru yaitu smartphone berbasis artificial intelligence.
Kemampuan smartphone berkonsep baru ala Andy Rubin bekerja layaknya smart speaker. Speaker pintar bukan teknologi kacangan. Di balik produk tersebut, terdapat sebuah kecanggihan bernama asisten virtual. Amazon Echo misalnya didukung oleh kekuatan cerdas bernama Alexa, sedangkan Google Home didukung oleh kekuatan Google Assistant.
Menurut data yang dipacak Statista, jumlah pengguna aktif asisten virtual di seluruh dunia pada 2015 berada di angka 544 juta pengguna. Pada 2020, angkanya diprediksi meningkat menjadi 2,2 miliar pengguna. Perangkat seperti smart speaker, dan kemudian diikuti smartphone baru ala Essential yang menjanjikan.
Menurut Cnet, speaker pintar bertujuan terutama untuk sumber hiburan, asisten pribadi, dan “remote control” bagi rumah pintar. Di Amerika Serikat, 81 persen pengguna speaker pintar menggunakannya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan pengguna.
Josh Lowitz, pemimpin firma teknologi CIRP, mengatakan kepada Geek Wire bahwa, “lebih dari setengah pengguna Echo menggunakan perangkatnya dengan pengendali-suara untuk [memainkan] musik.”
Sampai saat ini, pertarungan speaker pintar masih dimenangi Amazon Echo. Diberitakan The New York Times, untuk saat ini Echo memiliki kapabilitas yang lebih tinggi daripada Home. Sebab, Echo telah melakukan banyak kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain untuk meningkatkan kemampuan speaker pintar buatannya. Menurut laporan Geek Wire, Echo memilik 3.000 keahlian yang berbeda-beda, mulai dari menghidupkan lampu hingga memesan buku via Amazon.
Klaim keunggulan Echo diperkuat data yang dipaparkan Voicebot.ai. Sebagaimana dikutip dari Techcrunch, hingga Juni 2017, Alexa telah memiliki 15.000 "jurus". Sangat jauh mengungguli Google Assistant yang baru menguasai 378 “jurus.”
Meski Echo punya kemampuan lebih, Google masih lebih cerdas. Merujuk data dari Statista, dari 5.000 pertanyaan yang dilempar, Google Assistant mampu menjawab 20,7 persen dari semua pertanyaan di mana, tingkat kebenaran jawaban mencapai angka 90,6 persen.
Sementara itu, Alexa hanya mampu menjawab 56,5 persen dari pertanyaan tersebut dengan tingkat akurasi jawaban mencapai 87 persen.
Dilansir The Verge, kemampuan yang jauh lebih mirip apa yang hendak diciptakan Andy Rubin dihadirkan oleh Duplex. Duplex merupakan perangkat lunak yang bisa meniru suara manusia. Duplex pula bisa melakukan tindakan-tindakan dasar, misalnya memesan tempat di restoran. Sayangnya, meski menjanjikan kemampuan-kemampuan seperti yang ditawarkan Echo, Google Home, maupun Duplex masih terbatas.
Teknologi seperti yang dijanjikan Rubin dalam smartphone konsep baru memang belum tersedia saat ini tapi bakal jadi kenyataan di masa depan. Andy Rubin merupakan anak dari seorang psikolog yang tinggal di wilayah Chappaqua, New York, Amerika Serikat. Sebagaimana dilansir The New York Times, orangtuanya kemudian mendirikan sebuah perusahaan retail. Di rumah Rubin banyak perangkat elektronik berserakan.
Selepas menyelesaikan kuliahnya, Rubin bekerja di Carl Zeiss AG sebagai teknisi robot. Suatu ketika, Rubin memberi tumpangan tempat untuk tidur bagi Bill Casweel, seorang teknisi Apple. Karena tak mau hutang budi, Casweel lantas menawari Rubin bekerja di Apple. Rubin berlabuh di perusahaan yang didirikan duo Steve, Wozniak dan Jobs, itu. Di Apple, karena Rubin adalah seorang yang freak pada Robot, kawan-kawannya menamainya “Android.”
Selepas tak di Apple, Rubin malang melintang menciptakan produk-produk baru di dunia teknologi. Rubin mendirikan Danger Inc., di perusahaan tersebut ia menciptakan Hiptop, perangkat PDA. Pada 2008, danger Inc. diakuisisi Microsoft.
Setelah Danger Inc., Rubin mendirikan Android Inc. Itu startup yang membekingi penciptaan sistem operasi mobile sejuta umat Android. Di 2005, Android dijual pada Google. Penjualan itu turut membawa Rubin bekerja pada perusahaan bikinan Larry page dan Sergey Brin.
Selepas hengkang dari Google, Rubin lantas mendirikan Essential Product. Apakah Rubin dan Essential Phone akan melahirkan era baru saat ponsel pintar yang kita kenal sekarang akan terlihat bodoh?
Baca juga artikel terkait ANDY RUBIN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin