
Bukankah membaca kata ‘sate’ pada judulnya saja sudah membuat Anda lapar dan jadi ingin mencari penjual sate terdekat? Kombinasi daging bakar dengan sambal kacang, terlebih bila sate yang dibayangkan adalah penjual sate langganan, tentu meningkatkan nafsu makan. Namun penyajian sate langganan yang seringkali hanya berupa gerobak dorong maupun angkringan pinggir jalan menghantarkan kita pada pertimbangan, apakah aman bila makan sate saat hamil?
Susunan tusukan daging yang telah dibakar kemudian dilumuri saus kacang tersaji di atas piring memang menggugah selera. Pembeli pun tak perlu waktu yang lama untuk menunggu pesanannya siap dinikmati. Namun kondisi tersebut justru memberi keraguan ibu hamil terhadap kematangan dan kebersihan daging satenya.Protein merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan ibu hamil. Protein bisa didapatkan dengan takaran yang tepat salah satunya dengan mengkonsumsi daging. Namun daging yang belum matang justru menjadi media yang nyaman bagi bakteri untuk hidup. Bakteri tersebut antara lain:
Berdasarkan ulasan di atas, ibu hamil sebenarnya diizinkan mengkonsumsi sate, hanya bila dapat dipastikan daging yang dibakar pada sate benar-benar matang dengan suhu pemanasan minimal mencapai 75 derajat Celcius. Pemanasan daging pada suhu yang tepat dapat membunuh bakteri yang terdapat pada daging sehingga meminimalisir infeksi pada ibu hamil dan janinnya.
Laporan The American Pregnancy Association bahkan mengungkapkan bahwa, ibu hamil 20 kali lebih rentan terpapar infeksi bakteri (listeriosis) dibandingnya ibu pada umumnya. Bila ibu hamil ingin mengkonsumsi sate, mungkin akan lebih disarankan untuk membeli sate yang dijual rumahan dibandingkan dari gerobak yang lewat di depan rumah maupun angkringan, yang lebih terjamin kebersihannya. Deteksi lebih dulu juga kalau ternyata Anda alergi kacang atau sambal kacang.
The post Makan Sate Saat Hamil, Apa Boleh? appeared first on Hello Sehat.