
Kapiten Paulus Tiahahu adalah orang terpandang di Nusa Laut, Maluku. Sejak awal Mei 1817, ia dan beberapa orang terpandang terlihat sibuk. Mereka punya rencana melawan pemerintah kolonial.
Paulus hanya punya satu anak, namanya Martha Christina. Saat itu Martha baru berusia 17 dan sudah tahu soal rencana bapaknya. Martha memang sangat dekat dengan sang bapak karena ibunya telah meninggal dunia.
Dalam buku yang disusun Dra. Nyonya L.J.H. Zacharias terbitan Depdikbud berjudul Martha Christina Tiahahu (1981) disebutkan, tiga kali Martha ingin ikut bertempur melawan pemerintah kolonial, tapi tiga kali pula Paulus melarang. Pada akhirnya larangan pun jadi kesia-siaan. Putri tunggalnya itu ikut pula (hlm. 60).
Meski terlambat, mereka akhirnya tiba di Saparua. Terlibatlah mereka dalam perlawanan terbesar orang Maluku terhadap Belanda yang selalu disinggung dalam narasi sejarah nasional Indonesia.
Kapiten memang sebuah pangkat militer. Tapi dalam konteks Maluku zaman Pattimura, kapiten bukan pemimpin pasukan terlatih. Kapiten adalah pemuka masyarakat yang bisa mengerahkan rakyat yang berada di bawah pengaruhnya.
Seperti dalam peperangan lain dengan tentara Belanda, orang-orang Indonesia yang melawan bukanlah militer terlatih. Mereka lazimnya adalah petani. Orang-orang yang jadi tentara para raja biasanya hanya abdi raja atau petani yang dijadikan milisi.
Negara-negara tradisional di Nusantara tak mengenal istilah tentara profesional di masa lalu. Berbeda dengan Belanda yang sedari zaman VOC sudah punya tentara profesional terlatih. Baik tentara bayaran maupun tentara reguler.
Akhirnya, pada 14 Mei 1817, dalam sebuah rapat, Kapiten Paulus Tiahahu dan kapiten-kapiten atau raja-raja di sekitar Saparua itu memercayakan komando kepada Kapiten Pattimura. “Thomas Matulessy alias Pattimura adalah bekas sersan Mayor dari tentara milisi Inggeris,” tulis Mattijs Sapija dalam Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960: 201).
Pengalaman militer Pattimura tentu bisa berguna dalam menembus benteng Belanda.
Sementara itu, di daerah Ulat dan Ouw, Saparua, terjadi pertempuran yang bukan cuma bikin rakyat sipil terluka, tapi juga perwira militer Belanda. Di sanalah Martha Christina terlibat dan orang-orang menganggapnya sebagai sosok yang luar biasa berani.
“Dalam suasana pertempuran bukan saja ia telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi juga telah ikut serta dengan pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya,” ujar perwira Belanda Verheul yang dikutip Nyonya Zacharias dalam bukunya (hlm. 94).
Christina terbiasa memegang tombak untuk bertempur. Dia cukup berhati-hati hingga selamat dalam pertempuran.
Ketika Paulus dan pasukannya keras melawan, armada pemerintah kolonial tetap sabar menghadapinya. Setiap musuh pemerintah kolonial yang memberontak selalu bermasalah dalam logistik perang. Entah untuk menjaga perut maupun untuk menembaki lawan.
Jadi, sedari dulu hingga sekarang, setiap pemberontakan terhadap pemerintah selalu ada durasinya. Memang ada masa bergelora melawan, tapi akan ada masanya berhenti. Ini berlaku juga bagi ayah-anak Tiahahu.
Pada 12 November 1817, para pemimpin Nusa laut berhasil disergap. Termasuk di dalamnya Martha Christina dan ayahnya yang makin tua. Setelah ditahan dan diperiksa pada 15 November oleh Laksamana Buyskes, Martha berusaha bersikap tenang.
Namun setelah ada vonis mati untuk ayahnya, Martha berusaha membujuk para pejabat Belanda agar dirinya menggantikan ayahnya dalam menjalani hukuman. Martha sendiri termasuk yang mendapat hukuman untuk dibuang ke Jawa.
Hukuman mati Paulus dilaksanakan pada 17 November 1817. Ketika hukuman mati hendak dilaksanakan, Martha dibawa masuk agar tidak melihat kematian ayahnya, yang dieksekusi di sebuah tanah lapang.
Tubuh Paulus dirobohkan dengan peluru-peluru algojo yang merupakan serdadu rekrutan dari daerah Maluku lainnya. Sesudahnya, seperti ditulis Nyonya Zacharias, tubuh Paulus Tiahahu ditusuk-tusuk kelewang (hlm. 101).
Martha Christina sempat tidak ditahan dan dibiarkan bergerak dalam ruang yang agak lebar. Namun, karena tingkah lakunya yang dianggap gila oleh aparat, Martha pun ditangkap. Bersama pemberontak lain, Martha Christina Tiahahu dinaikkan ke kapal Eversten. Di kapal dia ditempatkan dalam ruangan kosong.
Rasa sedih atas kematian ayahnya masih ada. Ketika jatuh sakit, dia tak mau menerima obat dari aparat Belanda. Makanan pun sebenarnya dia ogah menerima, meski dimakannya sedikit. Semangat hidupnya sudah habis seperti remaja putus asa.
Tak hanya ayahnya yang hilang, tapi juga kebebasannya. Hidup Martha jadi hampa di usia yang baru 17. Gadis di zaman itu seharusnya bukan di dalam tahanan aparat kolonial, tapi di dalam "tahanan" orang tua untuk dikawinkan dengan laki-laki pilihan mereka.
Atau setidaknya, di usia itu harusnya Martha adalah gadis yang menikmati hura-hura ala muda-mudi Indonesia timur yang bahagia. Apa yang dialami Martha kebalikannya.
Malam tahun baru 1818, tubuhnya makin lemah. Pada dini hari 2 Januari 1818, tepat hari ini 201 tahun lalu, di perairan antara Pulau Buru dan Manippa, Martha Christina Tiahahu mengembuskan napas terakhir. Saat itu umurnya hampir 18 tahun. Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut.
Seperti kebiasaan pelayaran zaman itu, mereka yang meninggal langsung dibuang ke laut. Pemudi pembela rakyat Maluku ini pun bersemayam di sekitar Laut Banda.
Baca juga artikel terkait PAHLAWAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi