
Uzone.id — kabar merger antara dua raksasa ride-hailing di Indonesia Grab dan GoTo masih dalam tahap wacana. Akan tetapi, banyak pihak yang sudah memperkirakan dampak dari menyatunya dua platform ini.
Maxim Indonesia, sebagai salah satu pelaku ride-hailing di Indonesia turut buka suara terkait wacana tersebut. Perusahaan ini mengkhawatirkan adanya monopoli jika kedua platform ini bersatu.“Yang kami takutkan nantinya ada monopoli dan lainnya. Tetapi, saya yakin pemerintah akan memberikan solusi sebaik-baiknya terkait hal tersebut,” kata Dirhamsyah, Development Director Maxim Indonesia dalam acara Diskusi Panel, Kamis, (11/12).
Terkait hal tersebut, Maxim pun secara aktif akan terus memantau dan berkoordinasi dengan pemerintah termasuk dengan KPPU jika hal ini terjadi.
“Kami pasti akan mencoba berkoordinasi juga dengan instansi-instansi dan pemerintah terkait, mungkin nanti juga dengan KPPU. Tapi, selagi belum (terjadi) dan belum ada kepastian, kami masih belum akan bertindak,” tambah Dirham.
Sementara itu, prediksi lain dari Riset Euromonitor International mengungkap bahwa merger keduanya kemungkinan bisa menguasai hampir 91 persen pangsa pasar transportasi online di Indonesia dan 90 persen di Singapura.
Saat ini, Grab dan Gojek sendiri menjadi dua pemain besar di Indonesia. Gojek misalnya, platform ride-hailing ini memegang hampir 50 persen pasar layanan antar jemput di Indonesia.
Kabar merger GoTo dan Grab (dua platform ride hailing terbesar di Indonesia) terus mencuat ke permukaan di tahun 2025 ini. Terbaru, sinyal merger ini kembali menjadi sorotan setelah pemerintah mengiyakan rencana soal Grab-GoTo akan merger.
Namun, seperti kabar-kabar sebelumnya, GoTo keukeuh menyebut belum ada kesepakatan apapun dengan Grab terkait hal ini.
“Menanggapi spekulasi media terkait potensi transaksi antara GoTo dan Grab, GoTo menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada suatu keputusan ataupun kesepakatan terkait hal tersebut,” kata R. A Koesoemohadiani, Direktur Legal dan Group Corporate Secretary GoTo dalam keterangan yang diterima Uzone.id, Selasa (11/11).
Hal serupa juga disampaikan oleh Grab, Presiden dan COO Grab, Alex Hungate pun meredam kabar tersebut dengan menyebut kalau isu ini selalu muncul ke permukaan. Bahkan ia menyebut kalau gosip ini datang dan pergi begitu aja selama enam tahun terakhir.
Ketika ditanya apakah startup tersebut akan mengakuisisi pesaingnya, Alex mengatakan bahwa perusahaan selalu mempertimbangkan peluang tetapi menepis adanya kemungkinan tersebut.
“Kalau ada peluang untuk tumbuh lebih cepat lewat merger atau akuisisi, kami tentunya akan mengambilnya,” kata Hungate, dikutip dari The Business Time.