
Pegrafis Sri Maryanto kembali menggelar pameran tunggal Lithografie kedua, 13-21 Mei 2017 di Bentara Budaya Yogyakarta. Antok, sapaan Sri Maryanto, merefleksikan sungai sebagai fokus utama karya grafisnya.
Melalui refleksi sungai, Antok mencoba menyoroti isu lingkungan. Terutama soal pergeseran fungsi maupun kondisi sungai dari waktu ke waktu.
Usaha mengingat sungai ini dikuatkan dengan teknik lithografienya. Sebab, teknik ini adalah memindahkan tinta dari atas batu ke atas kertas. Tonny menambahkan, pada sisi lain, pengertian batu bagi Antok adalah rujukan sejarah. Dalam sisi personal menjelma sejarah dari ingatan seniman sendiri di masa kecil.
Pegiat grafis, Syahrizal Pahlevi mengungkapkan, pameran lithografie Sri Maryanto diharapkan mampu membimbing pikiran dan stereotip terhadap 'iman' seorang pegrafis. Sebab, pegrafis sangat rawan terhadap godaan.
Mereka yang tidak kuat 'iman grafis'nya akan mudah pindah haluan ke media yang lebih mudah dan menjanjikan. Terlebih, kalau pegrafis mendapati respon pihak luar terhadap karyanya yang sebagaimana diharapkan.
Menurut Syahrizal, mengikuti perjalanan kesenimanan Antok cukup menarik. "Sri Maryanto cukup lama dikenal dengan teknik cukilan kayunya kali ini memamerkan karya-karya berteknik 'stone lithography'," ujar Syahrizal.
Padahal, teknik lithografie menjadi media yang mulai ditinggalkan. Teknik lithografie adalah teknik cetak klasik yang sudah berabad-abad digunakan untuk menyebarkan kisah-kisah suci dan ilmu pengetahuan di Eropa. Di Indonesia, teknik ini masih langka dan jarang dimanfaatkan seniman.