home ×
News

Membayangkan Dunia Tanpa Vaksin

15 December 2017 By
Membayangkan Dunia Tanpa Vaksin
Share
Share
Share
Share

Ketika mendengar adanya kelompok antivaksin, mungkin sebagian dari Anda hanya bergumam pelan, tertawa sedikit, bilang “amit-amit”, lalu melupakannya begitu saja. Atau ketika melihat mereka “berkampanye” di media sosial, Anda melihatnya sekilas, merasa jengkel, lalu segera men-scroll layar ponsel, dan --lagi-lagi-- melupakannya.

Jangan.  

Jangan lupakan. Dan jangan samakan yang ini dengan kelompok pseudo-science lain macam Flat Earth Society. Ini berbeda. Yang satu ini akan berdampak serius, berbahaya, dan berpotensi membahayakan banyak orang.

Apa maksudnya?

Bukan Pilihan, Bukan Personal

Romina Libster, peneliti penyakit-penyakit menular asal Buenos Aires, Argentina, mengatakan bahwa perkara melakukan vaksinasi bukanlah kepentingan personal. 

“Vaksinasi memang terlihat sebagai aksi individu. Tapi ia punya dampak yang sangat besar secara kolektif,” ucap Libster, dikutip dari Ted Talk.

Perkara “vaksin” atau “tidak vaksin” sesungguhnya adalah masalah komunal. Sebab ia tak berdampak pada diri sendiri, tapi komunitas.

Libster punya alasan yang kuat untuk hal ini. Secara umum, pendapatnya itu termaktub dalam konsep herd immunity atau kekebalan komunal. Konsep tersebut mengatakan, minoritas anggota kelompok yang tak divaksinasi bisa menjadi ancaman bagi mayoritas yang divaksinasi.

“Orang-orang yang divaksinasi tidak hanya melindungi dirinya sendiri. Mereka juga secara tidak langsung melindungi minoritas di komunitas mereka yang mungkin tidak mampu tervaksinasi,” ucap Libster.

Di komunitas yang paling melek pengetahuan sekalipun, tetap akan ada orang-orang yang tidak tervaksinasi. Bukan berarti mereka secara sadar tak mau divaksin: mereka tidak bisa. 

Kelompok ini biasanya terdiri dari anak yang terlalu kecil untuk divaksin, orang lanjut usia, pasien yang tengah menjalani kemoterapi, dan orang-orang dengan penyakit yang mengganggu kekebalan tubuh seperti AIDS.

Alasan mereka tidak melakukan vaksinasi, sederhananya, disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang tidak kuat untuk menerima vaksin. Ketimbang mendapat dampak kesehatan yang lebih buruk, mereka mau tidak mau tidak melakukan vaksin. 

Mereka adalah vulnerable minority --minoritas rentan. Dan mereka berlindung pada kekebalan komunal tadi. 

Cara Kerja Vaksin

Vaksin tidak bisa berfungsi pada para minoritas ini. Sebabnya, sebuah vaksin mengandung patogen (bisa virus atau bakteri) yang jadi agen penyakit itu sendiri. Misal, vaksin difteri, pasti punya sebagian atau seluruh patogen Corynebacterium.

Bedanya, patogen itu telah dimodifikasi dan dilemahkan sehingga ia tidak akan membuat orang yang divaksinasi tadi benar-benar terjangkit.

Seperti dilansir The New York Times, tujuan eksistensi patogen termodifikasi itu adalah untuk memancing sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh kita akan melihat kehadiran patogen tersebut sebagai penyusup, dan akan bereaksi terhadapnya.

Yang kemudian dilakukan sistem imun adalah mempelajari patogen tadi dan membangun sepasukan antibodi untuk melawannya. Antibodi baru ini berupa sekumpulan protein dalam darah, yang secara khusus dibuat untuk menonaktifkan jenis patogen tersebut.

Maka, terdapat beberapa macam vaksin. Vaksin memang hanya bisa memaksa tubuh membuat antibodi spesifik untuk menjawab ancaman dari satu patogen yang spesifik pula.

Nantinya, saat patogen sungguhan masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh sudah tahu apa yang harus dilakukannya --karena telah belajar membuat antibodi dari patogen modif sebelumnya.

Namun, bagi mereka yang minoritas (anak yang masih sangat muda, lansia, dan mereka yang sakit), patogen yang telah dimodifikasi ini tetap terlalu kuat bagi sistem kekebalan tubuh mereka. Patogen yang telah dilemahkan tersebut masih tetap terlalu kuat bagi sistem kekebalan mereka.

Oleh sebab itu, mereka secara sadar dan paham memilih untuk tidak melakukan vaksinasi dan berlindung dari kekebalan komunal tadi.

Kelompok Antivaksin

Masalahnya kini, tak hanya mereka yang sakit, tua, atau terlalu muda yang memilih untuk tidak melakukan vaksin. Ada kelompok lain, yang sebenarnya bisa divaksin, tapi memilih untuk tidak melakukannya.

Mereka kerap disebut kelompok antivaks --antivaksin. Mereka menolak vaksinasi karena percaya vaksin akan berdampak buruk. Mereka punya banyak alasan, dari yang religius bahwa vaksin itu haram, sampai alasan tanpa dasar kuat --macam anggapan bahwa vaksin membuat anak-anak menjadi autis. 

Padahal, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid menyatakan, hukum dasar imunisasi atau vaksinasi ialah boleh (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit tertentu.

Vaksin yang digunakan, ujar Zainut, harus halal. Namun dalam kondisi darurat atau terdesak yang mengancam jiwa, ketentuan tersebut tidak berlaku.

Aturan tersebut telah dimuat dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang diterbitkan 23 Januari 2016.

Kembali ke soal penolakan vaksin. Apapun alasan di baliknya, peningkatan jumlah mereka yang tidak mau divaksin ini menghancurkan kekebalan komunal di sebuah komunitas masyarakat --dan secara tidak langsung mengorbankan keselamatan kelompok minoritas yang tidak bisa divaksinasi.  

Kekebalan Komunal

Yang dimaksud dengan kekebalan komunal ini adalah: sebuah keadaan di mana orang-orang yang tidak tervaksinasi mendapatkan perlindungan dari wabah, hanya dengan syarat berada di sekeliling mayoritas orang yang telah tervaksinasi. 

“Mereka mendapatkan perlindungan tidak langsung, yang disebut kekebalan komunal,” ucap Libster. 

Agar kekebalan komunal ini terwujud, persentase yang sudah divaksin dalam sebuah populasi telah mencapai ambang jumlah (threshold) minimal. 

“Bayangkan sebuah kota di mana penduduknya belum pernah mengalami sebuah wabah, katakanlah campak. Di kota itu, tidak ada yang punya kekebalan alami, maupun lewat vaksin. Ketika suatu saat satu orang terkena campak, virus itu tidak akan menemui hambatan yang besar untuk menyebar. Dalam waktu singkat, campak sudah akan menyebar ke seluruh komunitas kota,” ujar Libster beranalogi.

“Nah, bayangkan kasus sebaliknya. Ketika kita berada di sebuah kota di mana 90 persen penduduknya sudah tervaksinasi, virus tersebut akan menemui banyak rintangan (dengan kehadiran mereka yang tervaksinasi). Maka dari itu, virus itu tidak akan menyebar secepat dan seluas di kota yang tanpa vaksin. Wabah akan cepat dihentikan dan akan terbatas pada ruang lingkup yang sangat kecil saja,” jelas Libster. 

Sederhananya, Anda akan menjadi tameng hidup bagi minoritas tanpa vaksin dari kemungkinan terjangkit wabah.

Berikut gambaran kerja kekebalan komunal tersebut:

Tampak pada gambar di atas, mereka yang tidak bisa melakukan vaksinasi, tetap terlindungi dari wabah karena gelombang penyebaran terpotong oleh mereka yang sudah divaksin. 

Artinya, tak hanya melindungi diri sendiri, mereka yang melakukan vaksin juga memutus mata rantai penyebaran wabah ke minoritas yang tak cukup kuat untuk menerima vaksin.

Namun, agar kekebalan komunal ini bekerja, persentase mereka yang sudah vaksin harus mencapai ambang batas minimal, yang jumlah persentasenya tidak sembarangan.

Dikutip dari PBS, untuk polio yang kurang menular, persentase orang yang harus divaksin dalam sebuah komunitas harus mencapai 80-86 persen. Namun, jumlah tersebut berbeda dengan, misalnya, campak yang ambang batas bawahnya mencapai 94 persen dari keseluruhan populasi. 

Hal tersebut diamini oleh dr. Fransiska Sri Susanti, seorang dokter spesialis anak yang bertugas di RS PMI Bogor. Ia menyebut, agar imunisasi efektif dan tercapai immunity herd, harus ada lebih dari 80 persen populasi yang sudah divaksinasi. 

“(Ini) dapat melindungi individu-individu yang tidak bisa diimunisasi karena usianya yang belum cukup atau yang mempunyai penyakit yang menghalangi pemberian imunisasi,” tulis dr. Fransiska.

Apabila jumlah orang yang divaksinasi kurang dari ambang batas bawah ini, penyakit tersebut akan mulai menyebar dengan lebih bebas, dan pada gilirannya akan memunculkan wabah luas di sebuah komunitas. Bahkan, ini juga dapat terjadi pada penyakit yang sebenarnya sudah sangat jarang muncul, macam polio. 

Bagaimana jika angka yang tidak divaksinasi itu terus meningkat dengan hadirnya kelompok antivaksin?

Wabah penyakit bisa melonjak dan membawa korban dalam jumlah signifikan.

Jadi menurut Anda, apa yang harus dilakukan?

vaksin 

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article