
-
Masyarakat Jakarta sempat heboh gara-gara hujan es yang terjadi di sekitar Thamrin dan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Fenomena ini terjadi pada Kamis (22/11/2018). Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hujan es berlangsung pukul 15.20 WIB dengan durasi kurang dari 5 Menit.
"Pada pukul 15.20 WIB telah terjadi hujan es di sekitar Thamrin dan Tanah Abang dengan durasi kurang dari 5 Menit. Diimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dalam beraktivitas," demikian pernyataan BPBD DKI Jakarta lewat akun Twitter-nya.
Hari itu, seturut peringatan dini cuaca oleh BPBD DKI Jakarta yang dirilis pukul 14.50 WIB, sejumlah wilayah di Jabodetabek diperkirakan mengalami hujan lebat disertai angin kencang.
Paling tidak, ada dua hujan es di Indonesia yang tercatat sepanjang 2018. Januari lalu, seperti dilaporkan Tirto, kejadian serupa pernah melanda wilayah Kabupaten dan Kota Magelang. Akibat guyuran hujan es disertai angin kencang sejumlah pohon dan baliho dilaporkan tumbang. Usai hujan es genangan air di beberapa ruas jalan umum di kota itu cukup tinggi, membuat para pengendara berhati-hati melintas.
Yang terdekat, hujan es juga pernah melanda Kabupaten Kotawaringin Timur pada September. Itu adalah hujan es kedua dalam dua tahun belakangan. Sama belaka dengan yang terjadi di Magelang, sejumlah pohon tumbang akibat peristiwa ini.
Hujan es di wilayah tropis sebenarnya fenomena alam biasa dan bukan hal baru. Pada Maret tahun lalu Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa hujan es adalah fenomena alam biasa yang jamak terjadi pada masa pancaroba. Dalam meteorologi fenomena hujan es ini disebut "hail".
"Kondisi aman dan ini peristiwa alamiah saja. Bukan ada yang menjatuhkan es dari angkasa. Hanya saat kondensasi di atmosfer melewati batas level super beku," kata Sutopo.
Dalam entri tentang hail, Encyclopedia Britannica menyebut ada tiga jenis hujan es. Yang pertama adalah soft hail. Hujan es jenis ini ditandai dengan turunnya bulatan-bulatan es dengan diameter rata-rata 6 milimeter. Kepadatan butir esnya rendah dan mudah hancur mirip salju.
Jenis kedua adalah small hail. Butiran es yang jatuh diameternya hampir sama dengan jenis pertama tetapi kepingannya lebih padat. Small hail mungkin terbentuk dari tetesan air hujan yang membeku dengan cepat jadi kepingan es padat.
Lalu yang ketiga adalah jenis hailstones atau hujan batu es. Pada tipe ini diameter batu es yang jatuh berdiameter lebih besar dari 5 mm. Ada beberapa kasus hujan es tipe ini disertai badai dan menghasilkan batu es dengan diameter sampai beberapa sentimeter.
Hailstones paling sering terjadi di daerah iklim subtropis dan jarang terjadi di daerah tropis. Hujan es tipe ini adalah yang paling merusak karena besarnya ukuran es yang jatuh dan kecepatannya. Rata-rata kecepatan jatuhnya berkisar antara 5 meter per detik untuk batu es ukuran kecil hingga 40 meter per detik jika batu esnya berukuran 5 centimeter atau lebih.
Untungnya luasan awan kumulonimbus yang menyebabkan hujan es tak terlampau lebar. Karena itu hujan es biasanya bersifat lokal dan terjadi hanya dalam hitungan menit. Namun, biasanya hujan es juga disertai petir dan angin kencang.
Seperti yang dilaporkan BPBD DKI Jakarta kemarin, daerah Jakarta Pusat yang mengalami hujan es setelahnya diikuti hujan dengan intensitas tinggi. Di beberapa titik, hujan lebat yang disertai angin menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Misalnya, pohon tumbang terjadi di Jalan Suprapto dekat Stasiun Senen.
Karenanya, meski itu adalah fenomena alam biasa, kita semestinya tetap waspada dan menjaga diri.
Baca juga artikel terkait HUJAN ES atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi