
Paus Fransiskus membasuh kaki 12 narapidana Regio Ceoli dalam Kamis Putih pra Paskah 2018.
Paskah diperingati sebagai hari kebangkitan Yesus bagi umat Kristen. Tidak seperti Natal yang selalu diperingati setiap 25 Desember, setiap tahun, Hari Paskah selalu diperingati pada tanggal yang berbeda.
Pada 2014, Paskah diperingati pada 20 April. Sedangkan pada 2015 dan 2016, hari sakral yang juga disebut "Easter Day" tersebut jatuh masing-masing pada 5 April dan 27 Maret.
Tahun ini, Paskah diperingati pada Minggu, 1 April 2018. Sedangkan pada 2019 dan 2020, peringatan yang dijadikan hari libur nasional di Indonesia ini tiba lebih lambat, yakni pada 21 April dan 12 April.
Butuh waktu 11 tahun hingga Hari Paskah kembali diperingati pada 1 April. Sedangkan terakhir kali umat Kristen memeringati Paskah pada tanggal tersebut terjadi 62 tahun lalu, yakni pada 1956.
Mengapa Paskah diperingati pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya?
Brent Landau, pengajar Kajian Agama di University of Texas at Austin, mengatakan berbagai hari penting nan suci dalam tradisi Kristen erat kaitannya dengan perubahan musim.
Dalam artikel bertajuk "Why Easter is called Easter, and Other Little-known Facts About the Holiday", Landau mengatakan alasan utama kelahiran Yesus diperingati setiap 25 Desember karena tanggal tersebut bertepatan dengan terjadinya solstis musim dingin menurut kalender Romawi, yang jamak digunakan sebelum kalender Julian di Eropa.
Solstis musim dingin merupakan peristiwa Matahari melintas di garis 23,4 derajat lintang selatan. Garis yang dinamakan Tropic of Capricorn itu adalah lintang paling selatan yang dicapai Matahari. Menurut kalender Gregorian, momen tersebut terjadi pada 21 atau 22 Desember dan menandai dimulainya musim dingin di Bumi belahan utara.
"Karena durasi siang hari berangsur lebih lama setelah solstis musim dingin, ia menjadi simbolisme ideal untuk kelahiran 'cahaya dunia' sebagai termaktub dalam Injil Yohanes," jelas Landau.
Setelah solstis musim dingin, lintasan Matahari berpindah lebih ke utara hingga mencapai ekuinoks vernal yang pada akhirnya juga menjadi penanda dimulainya musim semi di Bumi belahan utara dan menjadi patokan perayaan Paskah.
"Musim semi juga berarti kembalinya kehidupan tumbuhan dan hewan yang tidak aktif selama musim dingin. Di musim semi pula, sebagian besar hewan beranak-pinak. Mengingat simbolisme kehidupan baru dan kelahiran kembali, adalah wajar untuk merayakan kebangkitan Yesus," ujar Landau.
Meski demikian, antara tanggal perayaan dan fenomena alam yang menjadi patokannya bisa jadi tidak sesuai karena ketidaktepatan cara perhitungan.
Gereja ortodoks dan sejumlah denominasi lain hingga kini tetap menggunakan kalender Julian untuk menetapkan perayaan Natal dan Paskah. Pada 2018, para penganut Kristen Ortodoks memperingati Natal pada 7 Januari, sementara hari Paskah ditetapkan jatuh pada 8 April.
Menurut Fotopoulos yang juga Associate Professor bidang Perjanjian Baru di Departemen Kajian Agama Saint Mary’s College at Notre Dame, Indiana, AS, penetapan ekuinoks vernal yang digunakan oleh Gereja Ortodoks untuk perhitungan Hari Paskah tidak sesuai dengan keadaan aktual pergerakan bumi dan bulan purnama Paskah yang sebenarnya. Perhitungan gereja Ortodoks menyatakan ekuinoks vernal terjadi pada 3 April, padahal semestinya 21 Maret.
"Secara sederhana, kalender dan sains terbaik yang ada kini tidak lagi digunakan untuk perhitungan Paskah yang menghasilkan perayaan Paskah Gereja Ortodoks yang kerap tidak sinkron dengan fenomena astronomi: ekuinoks vernal, bulan purnama paskah dan sering diperingati saat sudah lama masuk musim semi," jelas Fotopoulos.
Di tengah perbedaan itu, usaha-usaha untuk menunggalkan tanggal Hari Paskah bermunculan para pemimpin tertinggi umat Kristen sejak lama.
Catholic News Agency melansir Paus Koptik Tawadros II menulis surat kepada Paus Fransiskus pada 2014 yang isinya meminta pertimbangan untuk melakukan upaya baru menunggalkan tanggal Paskah. Pada Juni 2015, Paus Fransiskus mengatakan kesepakatan bersama bahwa tanggal tunggal Hari Paskah mesti dicapai berdasarkan perhitungan kalender Gregorian gereja Ortodoks.
Seminggu kemudian, National Catholic Reporter melansir Aphrem II, pemimpin tertinggi gereja Ortodoks Suriah yang mengatakan kepada Paus Fransiskus bahwa dua tanggal berbeda dalam merayakan Paskah adalah sumber ketidaknyamanan.
Pada bulan Januari 2016, nama Persekutuan Gereja Anglikan, Uskup Agung Canterbury Justin Welby mengumumkan bahwa mereka bergabung bersama perwakilan Katolik, Koptik dan Ortodoks untuk menetapkan tanggal tunggal Paskah. Sebagaimana dikutip The Telegraph, Welby menyarankan Paskah diperingati pada hari Minggu kedua atau ketiga bulan April kalender Gregorian.
Baca juga artikel terkait PERAYAAN PASKAH atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam