
Ada guyonan yang akrab sejak beberapa tahun lalu, tentang warteg yang sudah lama memakai teknologi layar sentuh.
Maksudnya: pembeli menunjuk lauk yang ada di dalam lemari kaca, dan wuss, lauk sudah ada di piring. Guyonan itu jadi lucu karena menabrakkan dua hal yang bertolak belakang. Layar sentuh adalah perlambang teknologi digital yang jauh dari warteg, tempat makan yang dicitrakan tradisional, pula konvensional. Seiring perkembangan dunia digital yang makin kencang, warteg pun seolah memangkas jarak dengan apa-apa yang beraroma digital.
Salah satu alasan sukarnya warteg bergabung dengan Go-Food adalah ketiadaan menu paket di warteg. Menu di warteg memakai konsep prasmanan. Pembeli akan memilih sendiri jenis lauk yang dihidangkan secara a la carte. Sedangkan banyak pembeli Go-Food memilih menu paket, misalkan paket pecel ayam, atau paket soto Bogor, dan sebagainya.
Aristo Kristandyo, VP Marketing Go-Food, secara tersirat mengiyakan bahwa merchant-merchant yang bergabung ke Go-Food harus memiliki paket makanan, yang disebutnya stock keeping unit (SKU). “Merchant-merchant kami membuat menu-menu itu jadi paket. Dia harus membuatkan paket. (Dalam kasus warteg), wartegnya akan menyatukan. Misalnya nasi ayam tempe orek menjadi paket A. (Paket A itu) didaftarkan jadi stock keeping unit (SKU)," ujarnya.
SKU memudahkan pelanggan Go-Food untuk membeli makanan-makanan yang dijual. Aristo menyebut pembuatan menu paket dalam aplikasi Go-Food memudahkan pembeli dalam melakukan transaksi. Meski begitu, gaya konvensional warteg yang menjajakan makanan secara satuan juga bukanlah masalah. Menurut Aristo, menjual hanya nasi, hanya tempe orek, ataupun hanya telur dadar bisa juga dianggap 1 SKU. Secara sistem, Go-Food telah siap.
“Dari pihak Go-Food ngga ada kendala memasukkan warteg, ini memang sebuah proses,” tutur Aristo. “Itu menjadi salah satu keinginan kami merangkul small medium enterprises,” lanjutnya.
Sedangkan untuk "diskon" yang dibilang Puput, itu adalah fee dari harga makanan yang dijual via aplikasi. Catherine Hidra Sutjahyo, Chief Commercial Expansion Go-Jek, mengungkapkan fee yang diambil Go-Jek pada makanan, dilakukan dengan hati-hati, melibatkan grup sales Go-Food yang duduk bersama penjual makanan untuk merumuskan harga agar kedua belah pihak “tetap mengembangkan bisnisnya dengan sustainable.”
Catherine mengakui, terdapat beberapa merchant yang menaikkan harga makanan jualan mereka di Go-Food dibandingkan membeli langsung. “Harga dinaikkan itu bukan solusinya. Ada beberapa merchant memilih seperti itu. Dari Go-Food ada cut dari merchant yang sudah kita hitung baik-baik,” tegas Catherine.
Go-Food merupakan layanan pengantaran jenis baru di dunia yang serba diisi oleh aplikasi ponsel pintar. McKinsey & Company menyebut, layanan seperti Go-Food ini disebut sebagai layanan new delivery. Ini merupakan tipe layanan pengantaran makanan yang dibantu pihak ketiga, dalam hal ini penyedia aplikasi all-in-one. Selain Go-Food yang disediakan Go-Jek, ada pula GrabFood yang disediakan Grab, dan UberEats yang disediakan Uber. Selain disediakan aplikasi transportasi online, ada pula layanan new delivery yang dibangun secara khusus, misalnya Foodpanda.
McKinsey & Company menyebut bahwa pasar pesan antar makanan berada di angka 83 miliar Euro di seluruh dunia. Meskipun terlihat besar, angka tersebut hanya 1 persen dari keseluruhan pasar makanan di dunia. Atas kehadiran new delivery, pasar makanan pesan antar diperkirakan meningkat.
Beberapa alasan new delivery akan mampu meningkatkan pasar pengantaran makanan, menurut McKinsey & Company, karena platform seperti Go-Jek telah lengket hidup dengan masyarakat. Selain itu, platform sanggup memberikan personifikasi berbasis algoritma, yang akan membuat penggunanya dijejali makanan-makanan yang sesuai selera mereka. Lantas, new delivery bisa menggema karena sukses menghemat waktu para penggunanya untuk memperoleh makanan.
Go-Jek memperkenalkan Go-Food pada 1 April 2015. Pada Maret 2017, layanan itu mengklaim telah “menerima pengiriman makanan melebihi jumlah pesanan yang diterima seluruh startup makanan di Indonesia.” Kini, ada sekitar 300 ribu gerai makanan yang telah bekerjasama dengan Go-Food. Besarnya gerai yang bergabung didukung oleh lebih dari 1 juta pengemudi Go-Jek.
Selain Go-Food dari Go-Jek, new delivery di Indonesia disediakan oleh Grab melalui GrabFood. GrabFood mulai beroperasi di Indonesia melalui masa uji coba (beta) pada 2 Mei 2016 lalu, yang hanya bisa dilakukan di SCBD, Semanggi, Kuningan dan Senayan, dan tersedia setiap hari pada pukul 11:00 – 14:00 WIB.
Masuknya GrabFood di Indonesia merupakan kelanjutan dari hadirnya GrabFood di Singapura. Di Singapura sendiri, GrabFood hadir untuk menyasar 4.000 restoran dan 12.000 penjual makanan asongan/kaki lima yang belum memiliki sistem pengantaran makanan sendiri.
Baca juga artikel terkait GO-FOOD atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin