icon-category Travel

Mengenal Clear Air Turbulence yang Menimpa Batik Air

  • 25 Oct 2017 WIB
  • Bagikan :

    Pesawat Batik Air rute Jakarta-Medan dengan nomor penerbangan ID 6890 sempat mengalami clear air turbulence (CAT), Selasa (24/10). Pesawat jenis Boeing 737-80 NG itu berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 15.00 WIB menuju Bandara Internasional Kuala Namu, Deli Serdang. Pesawat tersebut mengalami CAT saat sedang terbang di wilayah udara Kabupaten Tobasa, Sumut.

    Meski tetap bisa mendarat dengan sempurna di Bandara Kuala Namu pada pukul 17.20 WIB, akibat insiden CAT tersebut, satu penumpang atas nama Hoen Tjeng Ke dan satu awak kabin Batik Air atas nama Susi Yuni Triastuti mengalami cedera. Keduanya dilarikan ke dokter KP Bandara Kualanamu untuk pertolongan pertama dan dirujuk ke Rumah Sakit Grand Medistra untuk perawatan lebih lanjut. 

    CAT berbeda dengan turbulensi yang biasa terjadi. Turbulensi yang dialami Batik Air terjadi saat langit cerah.

    "Pesawat terbang biasanya mengalami guncangan saat melintas daerah berawan dan jarang mengalami guncangan pada saat terbang di cuaca tidak berawan, namun tidak dengan CAT, pesawat justru mengalami goncangan pada ruang udara yang tidak berawan dan tanda-tanda untuk kejadian seperti ini belum dapat dideteksi oleh instrumen pesawat," ujar Pelaksana Tugas Manajer Humas Lion Air Grup Rama Aditya dalam siaran pers.

    Turbulensi merupakan gerakan udara tidak beraturan akibat yang perbedaan tekanan atau temperatur yang dapat mengganggu penerbangan. Biasanya, turbulensi dialami pesawat yang melintas daerah berawan, namun CAT justru terjadi pada ruang udara yang tidak berawan. 

    Dikutip dari laman skybrary.aero, setidaknya ada 2 penyebab terjadinya CAT, sebagai berikut :

    1. Jet stream

    CAT dapat disebabkan fenomena alam yang juga dikenal dengan jet stream. Jet stream adalah arus udara yang bergerak secara sempit dan cepat yang biasanya terjadi di tropopause. Tropopause adalah batas atmosfer antara troposfer dan stratosfer.

    CAT umumnya terjadi di ketinggian sekitar 40.000 kaki.

    2. Medan penerbangan

    Dataran tinggi dapat mengganggu aliran udara di atasnya. Tingkat keparahan turbulensi tergantung pada kekuatan aliran udara, kondisi medan seperti pegunungan, laju perubahan dan tingkat kemiringan dataran tinggi di sekitarnya.

    Dampak CAT

    CAT dapat menyebabkan kerusakan struktural pada pesawat. Dalam tingkat yang ekstrem, CAT bisa mengakibatkan pecahnya pesawat. Bahkan dalam tingkat yang menengah saja, kerusakan dapat terjadi pada alat kelengkapan di dalam pesawat terbang, terutama akibat benturan dengan barang kargo atau bagasi yang tidak terkendali. 

    Selain itu, CAT bisa menyebabkan cedera fisik pada kru atau penumpang karena goncangan yang terjadi. 

    Selain terjadi pada Batik Air, insiden CAT lainnya juga pernah terjadi di langit Indonesia. Antara lain pesawat Airbus A330-200 Etihad Airways rute Abu Dhabi-Jakarta pada Rabu, 4 Mei 2016.

    Kala itu pesawat dengan nomor penerbangan EY-474 itu mengalami CAT 45 menit sebelum mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sebanyak 31 penumpang dan awak kapal terluka akibat turbulensi yang berlangsung selama 10 menit itu.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini