
Seorang akan tertidur begitu melihat kertas tisu terbakar atau mendengar hitungan maju hingga angka ketiga. Setelahnya, ia mulai membongkar sendiri aib dan bercerita tentang keluh kesah hidupnya. Sementara itu, sang pemberi sugesti dan orang-orang di sekelilingnya menikmati aktivitas tersebut sebagai hiburan gratis yang disuguhkan pada mereka.
Begitulah kira-kira aksi hipnosis yang selama ini dipertontonkan di layar kaca: tak jauh-jauh dari urusan bongkar-bongkar masalah asmara atau eksploitasi cerita sedih masa lalu. Subjek hipnosis nantinya akan terbangun dengan amnesia singkat dan ditertawakan karena “tak sinkron” saat menjawab pertanyaan yang diajukan sugestor.
Dalam aksi itu, tak ada manfaat positif yang diterima subjek hipnosis. Kecuali rasa malu atau “lega” karena telah berhasil curhat di depan orang banyak. Padahal, sejatinya praktik hipnosis punya nilai lebih ketimbang sekadar bincang-bincang bongkar aib. Ia adalah salah satu bantuan psikoterapi.
Menurut laman WebMD, hipnoterapi adalah teknik terapi yang dilakukan untuk membuat seseorang rileks dan fokus, sehingga kesadaran untuk menerima sugesti menjadi meningkat. Dalam keadaan ini, ragam hal yang terjadi di sekitar orang tersebut akan terblokir sementara. Mereka jadi lebih mudah mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan kenangan menyakitkan yang tersembunyi dari pikiran sadar.
Beberapa terapis menggunakan hipnosis untuk memulihkan memori yang ditekan alam sadar. Namun, di tahap ini terkadang kualitas informasi yang diingat pasien tidak selalu bisa diandalkan. Hipnosis dapat menciptakan ingatan palsu, umumnya terjadi karena saran atau pertanyaan yang diajukan terapis salah arah.
Selama ini, hipnosis digunakan oleh psikolog atau psikiater sebagai analisis pasien atau terapi sugesti. Dalam menganalisis pasien, pendekatan hipnosis akan membuat mereka jadi lebih rileks untuk mengungkap akar gangguan psikologis yang ia alami. Sementara hipnosis sebagai terapi digunakan agar pasien lebih mudah menangkap saran dan mengubah persepsi.

Dokter yang sudah membuka praktik selama sepuluh tahun ini kemudian menceritakan pengalamannya menangani pasien bipolar yang mendapat hipnosis. Selama ini, si pasien melakukan kontrol dan mengimbangi terapinya dengan konsumsi obat-obatan, gejala gangguan disosiatifnya cenderung dapat ditekan. Namun, suatu saat keluarganya mengambil langkah untuk melakukan hipnosis, dengan harapan menyembuhkan pasien secara instan.
Sesaat pasca-hipnosis kondisinya memang seakan membaik. Namun, setelahnya, perempuan itu justru bersikap impulsif dan reaktif. Perasaannya mengalami fluktuasi cepat dan drastis, dari marah dan sering memukul tiba-tiba bisa langsung menangis tersedu-sedu. Akibatnya ia harus dirawat inap dan diberi obat-obatan injeksi untuk memulihkan kondisi seperti sedia kala.
“Makanya kita menyarankan teman-teman praktisi untuk edukasi dan tukar pikiran. Karena dampaknya akan berujung ke pasien juga.”
Baiknya, jika ingin menggunakan jasa hipnosis, pastikan dulu kondisi gangguan psikis yang dialami. Jangan sampai niat menyembuhkan justru membikin gangguan semakin parah. Datanglah ke tenaga profesional hipnosis yang memiliki latar belakang ilmu kejiwaan supaya mendapat penanganan tepat.
Baca juga artikel terkait HIPNOSIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri