
-
Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Sampah yang dihasilkan juga banyak mencemari lautan yang sebagian dihasilkan dari wilayah daratan terutama kota-kota besar.
Diperkirakan ada sekitar 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke lautan setiap tahun di dunia. Jambeck, et.al (2015) pernah mempublikasikan penelitiannya yang berjudul Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean.
Dalam riset yang dilakukan terhadap 192 negara, terlihat bahwa Indonesia menyumbang sebanyak 3,22 juta metrik ton (millions of metric tons/MMT) limbah plastik. Penelitian lebih spesifik dilakukan oleh Lamb, et.al (2018) yang berjudul Plastic Waste Associated with Disease on Coral Reefs. Riset ini menunjukkan bahwa sampah plastik paling banyak ditemukan di Indonesia, yakni 25,6 bagian per 100m2 terumbu karang di lautan.

Kota Denpasar, Bali merupakan kota dengan tingkat keterangkutan sampah terbesar di Indonesia, yaitu 97,47 persen dari 3.719 meter kubik sampah yang diproduksi. Posisi Bali sebagai destinasi wisata internasional memang menjadi faktor capaian positif ini. Sedangkan, tingkat keterangkutan sampah di Kota Mamuju merupakan yang terendah di Indonesia, yaitu hanya 2,82 persen dari total produksi sampah sebesar 7.383 meter kubik.
Permasalahan sampah tak hanya terkait dengan produksi maupun keterangkutannya, tapi masalah pemilahan terhadap jenis organik dan nonorganik. Manajemen pemilahan sampah akan menentukan pengelolaan sampah yang baik.
Secara umum, volume sampah organik yang terangkut per harinya lebih besar dibandingkan anorganik dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Di Jakarta, misalnya, pada 2016, tercatat 3.233,77 meter kubik sampah organik yang terangkut, sedangkan untuk anorganik hanya sebesar 2.748,90 meter kubik dan B3 sebesar 33,63 meter kubik.
Persoalan limbah B3 juga tak kalah pentingnya. Pada 2016, Kota Samarinda merupakan wilayah dengan volume keterangkutan B3 terbesar di Indonesia. Pada 2016, sampah B3 yang terangkut di kota itu mencapai 1.163,36 meter kubik, lebih besar dibandingkan organik (1.161,36 meter kubik) dan anorganik (840,89 meter kubik).
Dengan segala capaian plus dan minus di beberapa kota di Indonesia, apakah Indonesia mampu mencapai target mengurangi sampah di lautan hingga 70 persen di 2025?
Jawabannya memang sangat kompleks karena banyak faktor. Permasalahan yang cukup signifikan soal penanggulangan sampah adalah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak di rumah tangga.
Masyarakat Indonesia masih belum memiliki kesadaran untuk memilah sampah. Berdasarkan riset BPS, pada 2013 dan 2014, perilaku mengelola dan memilah sampah rumah tangga di Indonesia mengalami penurunan dari 23,69 persen menjadi 18,84 persen. Kemudian perilaku tidak memilah sampah sebelum dibuang naik dari 76,31 persen pada 2013 menjadi 81,16 persen di 2014.
Maluku Utara merupakan provinsi yang paling tidak sadar dalam memilah sampah. Pada 2014, 91,82 persen rumah tangga menyatakan tidak memilah sampahnya sebelum dibuang. DKI Jakarta yang merupakan kota terpadat pun, kesadaran masyarakatnya untuk memilah sampah masih rendah, yang dapat ditunjukkan dengan 88,65 persen rumah tangga tidak melakukan pemilahan sampah.
Sedangkan, provinsi dengan rumah tangga yang sudah cukup sadar melakukan pemilahan sampah adalah Sulawesi Selatan. Sebanyak 31,88 persen rumah tangga yang sudah melakukan pemilahan sampah dan 68,11 persen belum memilah sampah.
Lemahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah ini akan berdampak pada sulitnya untuk melakukan daur ulang sampah atau B3 di Indonesia. Apalagi tantangan yang dihadapi dengan semakin bertambahnya penduduk di kota-kota besar dan aktivitas industri, produksi sampah juga makin meningkat dari tahun ke tahun.
Faktor-faktor itu juga akan mempengaruhi volume pengangkutan sampah. Tingkat tidak terangkutnya sampah yang rata-rata sekitar 70 hingga 80 persen membuat realisasi pengurangan 70 persen sampah di lautan pada 2025 bakal sulit dicapai. Pemecahan masalah ini bisa dimulai dari rumah tangga, termasuk individu-individu di dalamnya.
Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA