
Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa trauma berat yang dialami seseorang pada masa kanak-kanak dapat mengubah hidup, bahkan kepribadian seseorang.
Seringkali trauma berat ini menyebabkan mereka mengembangkan kepribadian ganda, alias dissociative identity disorder.Sayangnya, gangguan mental yang diakui oleh dunia medis ini masih banyak diliputi oleh mitos meragukan yang membuat penderitanya semakin enggan mendapatkan pertolongan.
Jadi, mana mitos tentang gangguan kepribadian yang benar, dan mana yang salah?
Gangguan kepribadian ganda, alias dissociative identity disorder (DID) atau yang dulu dikenal dengan nama multiple personality disorder, adalah kondisi psikologis yang kompleks. Seseorang dengan kondisi psikologis ini akan memiliki banyak kepribadian sebagai bentuk pertahanan diri dari trauma berat yang dialaminya
Kepribadian yang muncul dapat berupa pribadi dengan identitas yang berbeda, baik nama, usia, jenis kelamin, perangai, hobi, dan kebiasaannya. Dan tergantung dari masing-masing kepribadian, setiap “orang” dalam satu tubuh tersebut bisa memiliki kondisi kesehatan yang berbeda pula.
Masing-masing kepribadian yang muncul juga dapat memiliki gaya, gerak tubuh, dan cara bicara yang berbeda karena setiap kepribadian akan mengungkapkan siapa dirinya dengan caranya sendiri serta akan mengendalikan perilaku dan pemikiran penderita.
Proses perubahan kepribadian asli dengan kepribadian yang berbeda tersebut disebut dengan “switching”, yang biasanya akan muncul pada sikon tertentu setelah dipicu sesuatu.
Mengingat kompleksnya kondisi psikologis seseorang dengan gangguan kepribadian, tidak heran jika banyak kesalahpahaman yang muncul di tengah masyarakat. Artikel ini mencoba menguak kebenaran di balik mitos seputar kepribadian ganda.
Mitos. Banyaknya kepribadian yang muncul di dalam satu tubuh tidak jarang membuat orang awam mengira jika hal ini terjadi karena kesurupan Padahal, sudah jelas jika DID adalah gangguan psikologis yang terjadi karena:
Mitos. Banyak orang yang masih mengira bahwa pengidap gangguan mental ini sebagai orang yang suka cari perhatian, lebay, atau malah drama queen. Secara logika memang rasanya tidak mungkin bagi seseorang untuk memiliki banyak kepribadian berbeda di satu waktu.
Ketidakpercayaan tersebutlah yang akhirnya memunculkan stigma negatid pada penderitanya, yang membuat mereka enggan untuk mencari pertolongan, mengisolasi diri dari kehidupan sosial, dan membuat kondisinya malah bertambah buruk. Perlu ditekankan bahwa gangguan kepribadian adalah kondisi kesehatan nyata yang telah diakui oleh dunia medis dan profesional kesehatan sejak sangat lama.
Mitos. Tidak semua orang memiliki teman/keluarga yang mengalami kondisi psikologis ini. Namun, bukan berarti bahwa gangguan kepribadian adalah kondisi langka. Studi bahkan telah menemukan bahwa satu hingga tiga persen orang memiliki risiko untuk mengalami gangguan ini.
Mitos. Banyak orang yang mengira jika gangguan kepribadian sama dengan skizofrenia. Padahal, kedua hal tersebut sangatlah berbeda. Skizofrenia merupakan kondisi psikologis yang membuat penderitanya mengalami halusinasi, delusi, dan/atau paranoid. Seringkali penderita skizofrenia merasa mendengar/melihat/memikirkan sesuatu yang tidak nyata. Sedangkan penderita gangguan kepribadian tidak mengalami ketiga hal di atas yang seperti dialami oleh penderita skizofrenia.
Mitos. Gangguan kepribadian membutuhkan satu set pengobatan khusus. Seseorang dengan keadaan ini sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat. Bahkan, sebuah studi telah menemukan bahwa pengobatan dan perawatan yang tepat pada pasien DID dapat memperbaiki kondisi psikisnya, terutama untuk membantunya mengendalikan kemunculan setiap kepribadian dalam dirinya.
The post Menguak Mitos Dan Fakta Seputar Kepribadian Ganda (Dissociative Identity Disorder) appeared first on Hello Sehat.