Uzone.id - Sudah nyobain Asus ROG Xbox Ally X, sekarang kami berkesempatan jajal langsung konsol handheld lainnya, yakni Legion Go 2 besutan Lenovo. Legion Go 2 dibanderol dengan harga yang lebih mahal dari pesaingnya, yakni Rp17,9 jutaan.
Pertama kali mencobanya, ada beberapa poin kesan dari kami untuk konsol ini, yakni bongsor, powerful, tapi kasih experience gaming yang lebih dinamis.
Beda banget kalau main di Legion Go 2, rasanya kurang pas kalau harus mainin di mode handheld dalam waktu yang lama. Ya, pasti bakalan pegal, karena bobot konsol ini tembus 920 gram, lebih berat 200-an gram dari kompetitornya.
Emang sih, genggaman atau grip-nya jadi lebih ergonomis dibanding Legion Go generasi pertama. Dan kalau kalian ngeuh, kami tulis 'mode handheld' di atas, karena konsol ini memang kasih fleksibilitas bermain buat para gamer.
Kalau pegal dipegang terus, buka saja kickstand di bodi belakangnya, kemudian lepas kontroler Legion TrueStrike-nya. Ya, fitur-fitur ini adalah dua hal yang tidak dimiliki ROG Xbox Ally X.
Saat melepas kontrolernya, kemudian mendirikan layar 8,8 incinya di atas meja, Legion Go 2 langsung kasih pengalaman bermain layaknya Nintendo Switch 'versi bulky'.
Bukan itu saja kelebihannya. Kontroler ini juga bisa dijadikan 'mouse dadakan' untuk bermain game FPS.
Lenovo mengerti, gak semua gamer bisa main game FPS pake kontroler analog, dan akhirnya mereka pun pertahankan FPS Mode ini pada Legion Go 2.
Kasih layar lebih besar, ditenagai AMD Ryzen Z2 Extreme
Sebenarnya wajar juga Legion Go 2 punya bobot yang lebih bongsor, karena layarnya pun lebih luas dari ROG Xbox Ally X. Konsol ini punya panel OLED 8,8 inci dengan resolusi 1.920 x 1.200 piksel.
Ya, OLED, bukan LCD seperti pesaingnya. Memang beda sih main game di perangkat dengan layar OLED, warnanya lebih hidup dengan hitam yang pekat. Layarnya juga dukung variable refresh rate (VRR) sampai 144Hz.
Dapur pacunya jelas 'kelas berat'. Legion Go 2 ditenagai prosesor AMD Ryzen Z2 Extreme yang sama dengan ROG Xbox Ally X. Jadi secara performa mentahnya, kedua konsol memang setara.
Lenovo memasangkan chip yang sudah kencang dengan RAM 32 GB berjenis LPDDR5X 8000 MHz dan SSD 1 TB, dengan baterai mencapai 74 Whr. Nah, ini yang jadi kekurangan Legion Go 2, baterai yang lebih kecil untuk menopang layar sebesar 8,8 inci.
Untuk menjaga performanya tetap stabil, Lenovo membekalinya dengan sistem pendingin Legion Coldfront baru. Radiator dan kipasnya kini dibuat lebih besar, diklaim mampu meningkatkan aliran udara hingga 45 persen tanpa menambah kebisingan. Ada pula dual heat pipe baru untuk distribusi panas yang lebih efisien.
Fitur lainnya, Legion Go 2 punya dual speaker 2W yang didukung Nahimic Audio dan Spatial Audio untuk arah suara yang jelas. Terdapat pula dual near-field microphone array untuk komunikasi yang jernih.
Konektivitasnya sudah modern, mencakup Wi-Fi 6E dan Bluetooth 5.3. Perangkat ini juga memiliki dua port USB4 Type-C yang terletak di bagian atas dan bawah untuk kemudahan akses.
Dan, seluruh tampilan dari koleksi game yang sudah kalian install, hingga segala penyesuaian performa, dan lainnya, terpampang via Legion Space. Di Legion Space, kalian bisa memantau tingkat performa konsol, mengatur performanya dari Quite, Balance, Performance, hingga Custom, sampai menyetel putaran kipas pendingin.
Di Indonesia, Lenovo Legion Go 2 dijual dengan harga Rp17.999.000. Lenovo melengkapi pembelian Legion Go 2 dengan layanan purna jual Accidental Damage Protection. Layanan ini memberikan garansi dari kerusakan yang tidak disengaja seperti ketumpahan cairan, jatuh, layar rusak karena benturan, hingga lonjakan listrik.