
-
Hampir tak ada cerita miring tentang Soeharto sepanjang dua hari saya bertandang ke tempat kelahiran dan peristirahatan terakhirnya. Semua nyaris tanpa cela. Harto yang baik, ramah, dan mengayomi. Harto yang patriotik, tak berhasrat duniawi, dan dicintai rakyatnya.
Dua orang bocah laki-laki duduk berjajar di pelataran seluas 20x15 meter. Celana merah yang belum diganti dan tas ransel sebagai sandaran menandakan keduanya baru saja pulang sekolah. Mereka khusyuk menatap layar 40 inci yang menampilkan potongan-potongan gambar bergerak, ilustrasi serangan 1 Maret 1949.
Seorang pria muda dalam layar itu digambarkan gagah berani. Ia nekad menyerbu Kota Yogyakarta dan pasukannya memenangi pertarungan selama enam jam melawan Belanda. Semua itu ia lakukan demi mengobarkan semangat para pejuang daerah dan mengabarkan bahwa Indonesia belum berhasil ditaklukkan. Pria muda itu adalah Soeharto.
“Keren!” Kedua bocah itu berteriak kompak seraya menyambar tasnya. Mereka bergegas memasuki bangunan di depan pelataran. Saya mengekor di belakang mereka.
Keduanya tiada henti berdecak dan melontarkan kalimat kekaguman kala mengelilingi bangunan utama Museum H.M. Soeharto, Kemusuk, Yogyakarta itu.
“Lihat, lihat, bukunya bisa terbuka,” ujar satu di antara mereka yang berperawakan lebih tinggi. Jarinya menjelajah di katalog layar sentuh.
Museum ini memang megah. Saat masuk bangunan utama, pengunjung disuguhkan beragam diorama yang memanjakan mata.
“Materi yang digunakan tergantung siapa senimannya,” jawab Gatot Nugroho, saat saya tanya perihal bahan yang digunakan untuk membuat diorama. Gatot merupakan Pimpinan Museum HM Soeharto, sekaligus salah satu tim perumus pembangunan museum. Ia lalu menjelaskan bahwa diorama itu ada yang terbuat dari perunggu, fiber, lilin, dan kuningan.
Pembangunan museum ini memakai jasa tim khusus yang terdiri dari 15 orang ahli sejarah, seni, budaya, politik, dan arsitek dari Jakarta, Bandung, dan Jogja. Tiga bangunan utama masih asli peninggalan keluarga Soeharto. Bangunan paling depan, Gedung Atmosudiro, adalah rumah Atmosudiro, kakeknya.
Bangunan kedua yang terletak sejurus pintu masuk merupakan bekas rumah kakek buyutnya, Noto Sudiro. Tempat itu dimanfaatkan sebagai tempat istirahat keturunan Harto selepas berkunjung. Terakhir, pendopo berukuran kira-kira 7x7 meter di samping rumah Noto Sudiro. Di tempat inilah seorang perempuan bernama Sukirah melahirkan anak laki-laki yang menjadi presiden kedua Indonesia pada 8 Juni 1921.
“Memang, Pak Probosutedjo, adik tiri Pak Harto membuat museum ini untuk mengenang jasa-jasa kakaknya. Kira-kira pemugarannya menghabiskan dana Rp9-10 miliar,” kata Gatot.
“[Pada] ketukan ketiga linggis [diketukkan] ke marmer, muncul suara ledakan meriam luar biasa. Dhuaarr!”
Sukirno, sang Juru Kunci Astana Giribangun mengartikan ledakan itu sebagai pertanda, bahwa bumi telah menerima jasad Soeharto. Ia ingat betul, ledakan terjadi pada Minggu Wage, 27 Januari 2008 setelah azan Ashar. Kala itu, ia dan keluarga besar Soeharto tengah melakukan upacara Bedah Bumi. Tiga kali linggis diketuk ke marmer—bahan makam Soeharto—dimaksudkan agar acara pemakaman berjalan lancar.
Di Giribangun, Harto dan istrinya, Tien disemayamkan. Menurut sang kuncen, kepergian mereka diiringi ragam “pertanda” alam. Saat terdengar suara ledakan itu, tak ada getaran atau benda jatuh yang mengiringi. Padahal, suaranya terdengar hingga ke seluruh kompleks pemakaman. Saat prosesi pemakaman berlangsung, mendung turut menggelayut di kaki langit. Setelahnya hujan lebat turun selama satu hari satu malam.
“Ini kejadian langka, alam seperti ikut bersedih atas kepergian Bapak,” katanya.
Begitu juga yang diceritakan Mariyanti, seorang warga Desa Kemusuk. Ia masih ingat hal yang terjadi sebelum kematian Tien Soeharto, sesuatu yang disebutnya sebagai "pertanda". Sebuah pohon jangkang (kepuh) di Pemakaman Gedong, Kemusuk tiba tiba saja patah hingga membuat nisan-nisan di sekitarnya rusak.
“Tak ada sebab yang jelas, padahal pohon itu kokoh dan besar sekali,” kenangnya.
Sebelum meninggal, Tien dan Harto memang mempersiapkan Giribangun sebagai peristirahatan terakhir. Ia berdiri di atas bukit yang telah dipotong sepanjang 17 meter. Dipugar pertama kali pada tahun 1974-1976 secara manual dengan mempekerjakan 500 tenaga manusia, pemakaman ini tepat berada di bawah makam keluarga Istana Mangkunegaran, Astana Mangadeg. Secara silsilah garis ibu, Tien masih keturunan dari Mangkunegara III.
Bangunan makam mengadopsi bentuk joglo bergaya Surakarta beratap sirap. Ada tiga cungkup bangunan di kompleks ini, cungkup Argosari terletak di tengah dan paling tinggi posisinya. Cungkup inilah yang dijadikan makam Soeharto, Tien, ibu, bapak, serta kakak tertuanya. Lalu, dua cungkup lain adalah cungkup Argokembang dan Argotuwuh.
Bangunan cungkup dikelilingi oleh tiang-tiang kokoh, dilapisi logam berwarna kuning di tengahnya. Pernah ada desas-desus yang menyebut logam-logam tersebut dulunya adalah emas. Karena sering terjadi penjarahan, diganti lempeng kuningan. Namun, kebenaran cerita ini diluruskan oleh Kirno.
“Dari dulu sudah kuningan, hanya sewaktu awal-awal memang masih kinclong. Jadi mungkin dikira emas.”
Ketiadaan logam emas tak mengurangi kemewahan kompleks pemakaman tersebut. Para peziarah tak terlihat sungkan berswafoto di beragam sudut makam, layaknya di tempat wisata. Dalam sehari, ada sekitar seribu peziarah mendatangi makam, jumlahnya bisa naik 3-4 kali lipat saat musim liburan.
Di sekeliling cungkup Argosari, pengunjung seperti diberi sajian pameran foto dan lukisan Soeharto. Artinya, tempat peristirahatan ini pun punya sedikit fungsi museum, seperti halnya Museum HM Soeharto yang merepresentasikan tempat kelahiran, serta Purna Bhakti Pertiwi yang mengumpulkan jejak kejayaannya.
Di ketiga tempat itu, Soeharto abadi.
Baca juga artikel terkait SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri