
Perubahan iklim menimbulkan efek domino. Semua lini kehidupan terkena dampak, termasuk pola pikir manusia. Salah satunya adalah pemikiran yang memilih untuk tidak mempunyai keturunan.
Musisi Inggris, Blythe Pepino, misalnya, yang merasa takut perubahan iklim membuat dirinya enggan memiliki keturunan.
"Saya cinta pasangan saya dan ingin memiliki anak dengannya, tapi saya merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat," ujar Pepino, mengutip CNN.
Lihat juga:Dari Pembalut Jadi Bumi yang Kian Tak Lestari |
"Kalian sama saja berjudi pada kehidupan seseorang," ujar Cody Harrison, seorang pria yang baru bergabung bersama BirthStrike. "Jika sesuatu tidak berjalan baik, maka manusia juga tak akan memiliki kehidupan yang baik."
Joseph Ferorelli, anggota lain BirthStrike mengatakan, perubahan iklim ibarat bom waktu. Dia mengatakan, tak ada jawaban untuk memperbaiki kerusakan yang menimpa generasi mendatang di dunia.
Selain karena adanya kekhawatiran terhadap kualitas kehidupan di masa mendatang, BirthStrike juga beralasan bahwa anak-anak akan menghasilkan emisi ekstra.
Mereka berpikir, bertambahnya populasi, bertambah pula emisi karbon dan jumlah hutan tropis yang menghilang.
PBB memprediksi akan ada sekitar 8,5 miliar penduduk di Bumi pada 2030 mendatang. Angka itu diprediksi terus meningkat pada 2100 mencapai 11 miliar. Sebagian besar pertumbuhan populasi dunia terjadi di negara-negara berkembang.
Ada asumsi yang menyebut bahwa setiap warga yang tinggal di negara industri harus mempertimbangkan untuk memiliki anak dengan jumlah lebih sedikit demi mengurangi emisi. Namun, masalah tak sesederhana itu.
Sebuah studi yang dilakukan pada 2014 menyimpulkan bahwa mengurangi populasi manusia bukan solusi untuk meredam permasalahan lingkungan.