
Uzone.id — Gabungan raksasa teknologi dunia berhasil membekuk sindikat penipuan online lintas negara yang bersarang di Asia Tenggara, tepatnya di Thailand. Raksasa teknologi yang terlibat antara lain Meta, Microsoft, Starlink hingga platform kripto Coinbase.
Dalam operasinya, perusahaan ini juga bekerja sama dengan the U.S. Department of Justice, Royal Thai Police hingga penegak hukum dari Australia hingga Selandia baru untuk menangkap jaringan penipuan yang menargetkan korban di berbagai negara.“Operasi gabungan yang diumumkan hari ini, yang mencakup penutupan lebih dari satu juta akun, pembekuan aset, dan lebih dari 60 penangkapan tersangka, menunjukkan betapa kuatnya kerja sama dalam memerangi para scammer,” kata Chris Sonderby, VP and Deputy General Counsel, Meta dalam keterangannya.
Diketahui, sindikat kriminal ini mengeksploitasi jutaan orang di seluruh dunia melalui berbagai modus, seperti romance scams, penipuan investasi, hingga kerja paksa di pusat-pusat operasi online scams.
Hasil dari operasi bersama ini, Meta telah menonaktifkan lebih dari 1,4 juta akun, halaman, dan grup yang terkait dalam sindikat ini di Facebook dan Instagram. Sementara itu, Microsoft juga telah menangguhkan sekitar 20 ribu akun penipu yang terkait dengan jaringan ini.
Starlink juga ikut dalam operasi ini dan mengamankan ribuan perangkat yang digunakan untuk menjalankan penipuan ini. Sementara itu, Coinbase turut membekukan aset kripto sebesar USD3 juta yang disinyalir merupakan pendapatan dari tindakan-tindakan ilegal tersebut.
Tak hanya melakukan pemblokiran, sebanyak 63 orang yang terlibat dalam penipuan daring skala internasional ini telah diamankan oleh para penegak hukum. Mereka berhasil ditangkap berkat koordinasi lintas pihak yang berhasil mengidentifikasi jaringan penipuan dari berbagai lokasi dan jaringan.
Sebagai layanan yang digunakan untuk ‘menampung’ pendapatan dari penipuan tersebut, Coinbase mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan penegak hukum untuk melacak, membekukan dan menggagalkan jaringan kriminal tersebut.
“Berbeda dengan sistem keuangan konvensional, transparansi dan karakteristik data transaksi yang tidak dapat diubah membuat para pelaku kejahatan tidak bisa bersembunyi karena setiap transaksi meninggalkan jejak,” kata Jeff Lunglhofer, CSO, Coinbase.
Sementara itu, pihak Starlink yang perangkatnya digunakan sebagai alat konektivitas para penjahat siber menyebut bahwa pihaknya secara proaktif mendeteksi dan menonaktifkan perangkat yang terlibat dalam aktivitas ilegal.
“Melalui kerja sama dengan penegak hukum dan perusahaan teknologi, kami mendorong upaya global dalam memerangi online scams dan memastikan Starlink tetap menjadi bagian dari hal-hal yang bersifat positif,” jelas Lauren Dreyer, Vice President of Starlink Business Operations at SpaceX.
Upaya penangkapan jaringan penipuan daring ini menjadi operasi gabungan ketiga Meta dengan Satuan Tugas Pusat Penipuan Departemen Kehakiman AS sejak Desember 2025.
Menurut Meta, skala operasi yang melibatkan mereka terus mengalami peningkatan, dari 59 ribu penipuan yang dihapus pada bulan Desember, lanjut 150 ribu akun pada bulan Maret, dan 1,4 juta akun dalam operasi penindakan terbaru.
Secara keseluruhan dari ketiga operasi tersebut, perusahaan tersebut menyatakan telah menghapus lebih dari 1,6 juta akun, halaman, dan grup penipuan, serta menyediakan informasi intelijen yang membantu Kepolisian Kerajaan Thailand dalam menangkap 84 orang tersangka.