
Tidak ada lagi agen J (Will Smith) dan agen K (Tommy Lee Jones) di Men in Black: International (selanjutnya ditulis International). Meski dua agen itu kadung melekat dengan citra Men In Black, International memilih menghadirkan sosok agen-agen baru.
Sejak awal, film ini sudah bikin dahi mengernyit. Agen H (Chris Hemsworth) dan mentornya, High T (Liam Neeson) beraksi melawan alien di Menara Eiffel. Aksi mereka begitu cepat dan membuat saya bertanya: mereka menang kan?
Cerita berlanjut dengan masa kecil Molly (Mandeiya Flory), 23 tahun sebelumnya di Brooklyn. Saat itu ia pertama kali bertemu alien dan menyaksikan agen MIB. Momen itu membuat Molly terobsesi dengan alien dan antariksa, bahkan hingga dia dewasa (diperankan Tessa Thompson). Ketertarikan kuat itu akhirnya benar-benar membawa Molly ke markas besar MIB dan mempertemukannya dengan Agen O (Emma Thompson) yang memberinya misi perdana.
Usaha keras dan obsesi Molly, dipanggil sebagai Agen M, dapat dilihat sebagai usaha pekerja baru yang berada dalam masa penyesuaian. Ada saja kelakuan canggung yang menggelitik. Kaku, planga-plongo menyaksikan teknologi di markas MIB, tapi sekaligus berusaha tampil anggun dan profesional.
Sama seperti kisah MIB sebelumnya, benang merah cerita adalah hubungan antara manusia dan alien. Dalam International, ada dugaan pengkhianatan, juga ancaman dari alien ganas bernama Hive yang dapat mengubah wujudnya menjadi seperti layaknya manusia.
International disutradarai F. Gary Gray, setelah prekuel sebelumnya dikerjakan oleh Barry Sonnenfeld. Komedi fiksi ilmiah ini merupakan adaptasi dari komik Marvel yang ditulis Lowell Cunningham. Gray bukan nama baru di Hollywood. Sebelumnya ia telah menyutradarai Friday (1995) dan delapan film waralaba The Fast and The Furious. Berdurasi 115 menit, International dirilis di Amerika Serikat pada 14 Juni 2019.
Bagaimanapun, duet agen di MIB sejak awal menawarkan bromance. Ketika yang ditampilkan adalah satu agen cowok dan satu agen cewek, jadilah meet cute. Terlihat ada ketertarikan antara H dan M ketika membicarakan hal-hal romantis, misalnya film The Notebook. Namun, hal-hal ini semacam itu tentu lebih menarik disaksikan di Thor: Ragnarok, karena pada dasarnya agen-agen MIB dilarang keras punya kehidupan pribadi, apalagi pacaran sesama agen.
International memang punya inisiatif untuk menambah sentuhan baru di sana-sini, seperti menghadirkan pemeran baru yang sudah dikenal punya chemistry --sayangnya chemistry mereka di Thor: Ragnarok terlampau kuat, sehingga chemistry di International terkesan tempelan belaka, mendaulat Gray di bangku sutradara, dan memperkenalkan ancaman baru. Tapi, ujungnya ya begitu-begitu saja: invasi alien dapat digagalkan dengan senjata berkekuatan tinggi. Hal serupa juga dilakukan di sekuel MIB II (2002), yang dipuji almarhum Roger Ebert sebagai film yang bisa dinikmati penonton namun membosankan karena tidak menawarkan kebaruan.
Pernyataan Ebert boleh jadi juga berlaku untuk International yang berakhir nyaris tanpa kejutan apapun. Sekadar premis lama dengan musuh-musuh baru. International berusaha membawa chemistry Thompson dan Hemsworth, menggunakan banyak referensi dari Thor: Ragnarok (serius, buat apa sih?). Saya pun bertanya-tanya: seperti inikah MIB rasa Thor? Atau jangan-jangan Agen H dan Agen M memang dikirim dari universe Thor untuk jadi ‘alien’ di MIB?
Namun bagaimanapun, International adalah film aksi komedi. Dan aksi serta komedi pula yang menyelamatkannya dari sejumlah masalah. Lelucon-lelucon International rupanya masih sesegar film pendahulunya, termasuk yang dibawakan oleh Kumail Nanjiani lewat karakter Pawny, alien yang mengabdi kepada M setelah tuannya terbunuh. Kekonyolan-kekonyolan alien lainnya seperti Vungus, the Worm Guys, dan Frank The Pug juga sukses jadi bumbu International.
Tapi selain itu, ya biasa-biasa saja dan nihil hal menarik .
Baca juga artikel terkait MEN IN BLACK INTERNATIONAL atau tulisan menarik lainnya Irma Hidayana