
PP Muhammadiyah melayangkan kecaman terhadap film After yang diputar di bioskop sejak 16 April lalu karena memuat adegan yang dianggap terlalu vulgar. Film After menggambarkan kehidupan remaja dan pergaulan ala masyarakat sekuler.
"Banyak dialog dan adegan yang tidak sesuai dengan budaya dan masyarakat Indonesia yang relijius," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'thi di Jakarta, Kamis.Gusti mengatakan film tersebut menggambarkan budaya barat yang lebih terbuka. Itu justru memancing penonton untuk ingin tahu.
Di sisi lain, Gusti memperkirakan bahwa masyarakat juga akan tertarik menyaksikan After karena dalam dunia film terdapat siklus, dimana masyarakat akan mengalami kejenuhan dengan genre film tertentu, misalnya horor.
Febri Sihombing dari Komunitas Anak Nonton menanggapi kontroversi After yang dinilai menampilkan adegan dewasa sementara pemain dan ceritanya mengangkat dunia remaja menyatakan, melalui film ini orang tua justru bisa mengantisipasi anak remajanya yang memasuki usia pubertas. Dalam konteks itulah, menurutnya, beberapa adegan dalam film ini tidak perlu dipersoalkan, termasuk ketika Tessa dan Hardin Scott berkencan di sekitar danau.
"Jangan hanya karena atas nama budaya maka adegan yang sebenarnya bisa menjadi unsur kekuatan dan penghibur film justru dihapuskan," ujar Febri.
Film After yang diangkat dari novel Wattpad karya Anna Todd ini mengisahkan seorang siswa berdedikasi, Tessa Young (Josephine Langford) , yang tertarik dengan pemuda yang mempunyai sisi misterius, Hardin Scott (Hero Fiennes Tiffin).