
Foto: Nurphoto/Getty Images
Uzone.id — Serangan drone Iran terus menjadi sorotan di tengah gempuran serangan Israel ke negara tersebut. Sebuah drone bernama Shahed 136 yang diproduksi Iran kini dinilai menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Bahkan, drone ini membuat militer AS kelabakan karena berhasil menargetkan berbagai fasilitas penting. Beberapa di antaranya termasuk kedutaan Amerika Serikat, sistem radar, bandara, hingga gedung tinggi.Selama satu pekan melawan Amerika Serikat, Iran diketahui telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone Shahed-136 ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Nah, yang membuat drone ini cukup ikonik adalah karena efektivitasnya dan juga harganya yang murah meriah.
Sebagai informasi, drone Shahed ini adalah kendaraan udara tak berawak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang sudah diproduksi semenjak 2021 dan punya harga yang jauh lebih murah dibanding teknologi milik AS.
Melansir dari BBC, Drone Shahed diperkirakan hanya berharga sekitar USD30 ribu hingga USD50 ribu saja per unitnya. Sementara itu, senjata AS yang memiliki kemampuan jarak jauh yang sama, misalnya, rudal jelajah dan taktis, memiliki harga puluhan kali lipat yaitu berkisar antara USD1,5 juta hingga USD3 juta per unit.
Data dari Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen drone Shahed ini berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka di negara-negara teluk.
Meski kelihatannya hanya sedikit yang berhasil, tapi hal ini justru bikin pihak lawan AS semakin terlihat ‘kalah’. Bagaimana tidak, pihak AS justru harus memggelontorkan biaya tinggi buat melawan drone murah tersebut.
Satu rudal pencegat dilaporkan bisa berharga hingga 10 kali lipat atau bahkan lebih mahal dari drone Shahed 136, dan ini justru jadi cara cerdas Iran agar ketersediaan senjata pertahanan AS semakin menipis.
Senjata murah dari Iran ini berhasil membuat AS mengakui kalau senjata canggih mereka tak bisa mencegat seluruh drone yang diluncurkan Iran. Hal ini disampaikan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine.
Ia menyampaikan bahwa drone Iran ini jadi ancaman nyata bagi AS karena sulit dicegat dan dideteksi karena terbang rendah dan lambat.
Pengamat pun melihat kondisi ini sebagai hal yang perlu dikhawatirkan militer AS, karena biaya pertahanan yang harus dikeluarkan AS menjadi sangat tinggi jika serangan drone dilakukan secara terus-menerus.
"Jika ini berlangsung lebih lama, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan untuk melakukan ini," kata Kelly Grieco, seorang rekan senior di Stimson Center, sebuah lembaga pemikir Washington.
Grieco menghitung bahwa untuk setiap USD1 yang dihabiskan Iran untuk memproduksi drone Shahed, biayanya sekitar USD20 hingga USD28 untuk mencegatnya, menurut data yang tersedia.
"Perang seperti ini adalah tujuan untuk Iran menciptakan drone tersebut," kata Kyle Glen, seorang penyelidik dengan Pusat Ketahanan Informasi nirlaba yang berbasis di London.