
Semua dimulai dari persaingan teknologi dalam Perang Dingin sebelum Perang Dunia II antara kubu komunis yang dikomandoi Uni Soviet melawan kubu kapitalis dengan Amerika Serikat sebagai simbolnya. Persaingan tersebut tak hanya perkara senjata canggih, namun juga tentang penjelajahan luar angkasa. Dari perseteruan inilah kemudian muncul istilah "Perang Bintang."
Dari kubu Soviet, Presiden Nikita Khrushchev menginginkan sebuah proyek ambisius menjelang peringatan 40 tahun Revolusi Bolshevik: mengirim seekor anjing bernama Laika untuk mengelilingi bumi dengan pesawat Sputnik 2. Namun, pesawat tersebut meledak saat dalam perjalanan kembali ke bumi. Media-media barat pun berlomba-lomba mengecam Soviet karena dianggap telah bertindak "barbar."
Kendati demikian, AS tetap masih ketinggalan dari Soviet dalam hal penjelajahan luar angkasa. Karena tak ingin terus tertinggal, AS lalu meluncurkan satelitnya dari Space Center Florida di bulan berikutnya. Sayang, sebagaimana Sputnik 2 yang hancur, pesawat ini pun meledak. Alhasil, sejarah kemudian mencatat bahwa manusia pertama yang berada di ruang angkasa adalah seorang astronot Soviet: Yuri Gagarin.
Ketika Soviet tengah larut dalam kebanggaannya, AS yang kala itu dipimpin oleh John Fitzgerald Kennedy justru sedang mempersiapkan rencana menginvasi Kuba. Lagi-lagi rencana itu gagal karena armada Fidel Castro berhasil mematahkannya—bahkan menyandera pasukan CIA dengan nilai tukar USD53 juta—pada 19 April 1961. Peristiwa memalukan itu dikenal sebagai Invasi Teluk Babi.
Sebagai negara yang kerap memproklamirkan diri sebagai "negara adidaya," kegagalan demi kegagalan yang dialami AS tersebut jelas amat memalukan mereka. Untuk memperbaiki citra mereka, Kennedy pun bertemu dengan para pejabat lembaga antariksa Amerika, National Aeronautics and Space Administration (NASA), dan merencanakan sebuah misi spektakuler: pendaratan ke bulan.
Sekitar sebulan setelah penyerangan ke Kuba, Kennedy mengumumkan misi tersebut dalam sebuah pidato di hadapan Kongres pada 25 Mei 1961. "Saya percaya bangsa ini bisa berkomitmen mencapai tujuan, sebelum dekade ini berakhir telah mendaratkan manusia di bulan dan kembali ke bumi dalam keadaan selamat," katanya.
Pidato tersebut cukup ampuh untuk menutup rasa malu AS atas Insiden Teluk Babi. Kennedy Bahkan turut melakukan langkah politis dengan "mengajak" Soviet bersama-sama pergi ke bulan dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 20 September 1963. Namun, dua bulan dua hari pasca pidato tersebut, Kennedy tewas dibunuh saat berada di Dallas. Berbutir peluru nyantol di kepala, tenggorokan, dan pinggulnya dengan Lee Harvey Oswald yang tertuduh sebagai pembunuhnya.
Kendati demikian, momentum tersebut justru kian menguatkan AS sebagai sebuah bangsa. Misi mendaratkan manusia di bulan tetap dipegang teguh oleh seluruh rakyatnya. Setelah kerja keras bertahun-tahun, Apollo 11 berhasil diluncurkan dari Kennedy Space Center di Florida Space pada 16 Juli 1969. Yang selanjutnya terjadi adalah sejarah: astronot bernama Neil Armstrong menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya di bulan.
Meski spektakuler, pendaratan AS ke bulan memunculkan banyak teori konspirasi: (1) Bintang tidak terlihat di bulan, (2) Bendera AS terlihat berkibar, (3) Mustahil melewati radiasi sabuk Van Allen, (4) Tidak ada misi lanjutan ke bulan, (5) Arah bayangan di sejumlah foto dokumentasi tampak tidak seragam, (6) Jejak kaki di bulan, (7) Foto latar yang sama, (8) Kawah yang diakibatkan oleh Wahana NASA, (9) Batu dengan huruf "C" di atasnya (10) Crosshair yang menghilang di foto, hingga (11) Objek yang seharusnya terlihat gelap.
Sutradara kenamaan, Stanley Kubrick, pun juga kena tuduhan merekayasa pendaratan di bulan, semata karena magnum opus-nya, 2001: A Space Odyssey, dianggap kelewat realistis sebagai sebuah produk fiksi. Teori mereka, sebagaimana pernah dicatat Guardian, kurang lebih begini:
"Pada 1968 Stanley diam-diam didekati NASA yang memintanya untuk menyutradarai tiga adegan pendaratan di permukaan bulan. Stanley bekerja selama 16 bulan di dalam set khusus di Huntsville, Alabama, untuk menciptakan rekaman misi Apollo 11 dan 12."
Namun, sebagaimana teori konspirasi lain, tuduhan tersebut hanyalah "cocoklogi" tanpa disertai bukti yang kuat. Alih-alih NASA menyewa Stanley, kenyataannya Stanley-lah yang menyewa dua anggota NASA, Frederick Ordway dan Harry Lange selama produksi 2001: A Space Oddysey.
Semua bermula pada tahun 1974, ketika Bill Kaysing, seorang wartawan dan pegawai bagian hubungan masyarakat kontraktor NASA, menerbitkan buku berjudul We Never Went to the Moon: America's Thirty Billion Dollar Swindle. Buku tersebut menyimpulkan bahwa Amerika telah memalsukan pendaratan di bulan berdasar hasil investigasi pada rekaman dan foto-foto yang dirilis oleh NASA. Sejak terbitnya buku tersebut, buku dengan tema serupa—yang kelak diikuti dengan berbagai situsweb—jadi makin banyak bermunculan.
Berbagai contoh teori konspirasi tersebut pun terus dibantah. Seperti, misalnya, bagaimana bendera AS tetap terus berkibar di lingkungan hampa udara. Menurut Michael Rich, astronom University of California, bendera menjadi kusut atau bergelombang karena tenaga yang dikeluarkan Armstrong dan astronaut Buzz Aldrin saat menancapkan tiang ke daratan. Bentuknya tidak berubah karena gravitasi Bulan enam kali lebih rendah dibandingkan Bumi.
Sementara tentang kenapa jejak kaki Aldrin tetap bertahan kendatipun situasi di bulan sangat kurang kelembaban, Mark Robinson, profesor di Arizona State University, memberikan penjelasan ilmiahnya. Tanah bulan tertutup lapisan batu dan debu yang sangat halus dan mudah terkompres yang dinamakan "regolith." Lantaran partikel tanah juga kohesif, dan tidak adanya atmosfir di bulan, maka jejak kaki Aldrin akan tetap bertahan di sana bahkan hingga jutaan tahun kemudian.
Serangkaian foto yang diambil Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) dan diperlihatkan NASA pada tahun 2012 sejatinya telah menjadi bukti kuat bahwa pendaratan di bulan memang terjadi. Salah satunya adalah foto tempat pendaratan Apollo 11 yang masih menampakkan bekas pada tanah hingga tetap bertahannya bendera AS yang ditancapkan enam awak kala itu.
Armstrong pun diisukan telah pindah agama ke Islam usai mendarat di bulan. Tidak jelas betul darimana sumber hoaks ini. Kabar itu konon muncul ketika ia mengunjungi Mesir pada 1970. Adapun isu lain merujuk kepada kunjungannya ke sebuah masjid di Turki yang juga pernah didatangi oleh Malcolm X untuk salat. Lainnya lagi melibatkan sebuah lagu berjudul "Gema Suara Adzan di Bulan" yang ditulis oleh seorang penyanyi Indonesia bernama Suhaemi.
Semula Armstrong tidak pernah benar-benar mengklarifikasi atau menyanggah kabar tersebut. Namun, karena rumor tersebut terus meluas dan dipercaya, pemerintah AS pun bahkan turut bereaksi. Pada Maret 1983, Kementerian Luar Negeri AS mengirimkan surat ke seluruh kedutaan dan konsulatnya di negara-negara berpenduduk muslim yang kurang lebih berisi sanggahan terkait rumor tersebut.
Hanya saja, cara tersebut tak cukup untuk meredam isu yang terus bergulir dan bahkan berkembang ke cerita yang baru lagi: para awak Apollo 11 menemukan bahwa bumi memancarkan cahaya dan konon bersumber dari Kakbah di Mekah. Konteks segala hoaks ini adalah untuk menunjukkan betapa Mekah adalah pusat dunia dan agar orang meyakini bahwa AS akan malu jika pahlawan terbesarnya ternyata seorang muslim.
Dalam biografinya, First Man: The Life of Neil A. Armstrong, Armstrong sendiri telah menjelaskan bahwa sejak masih muda ia sudah mendaku sebagai seorang Deis: kepercayaan filosofis yang menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu "Sebab Pertama yang tidak bersebab" yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta tetapi tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya.
Hingga Armstrong wafat pada 25 Agustus 2012, hari ini tujuh tahun lalu, berbagai teori konspirasi yang menyebutkan bahwa pendaratan di bulan adalah hoaks, masih tetap bertahan dan dipercaya oleh segelintir orang. Entah sampai kapan.
Baca juga artikel terkait PENDARATAN DI BULAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy