
Alissa Wilkinson sedang duduk dengan tenang di kursi bioskop, menanti Coco ditayangkan. Film animasi ini berkisah tentang seorang anak 12 tahun bernama Miguel Rivera yang tanpa sengaja berpindah ke dunia orang mati.
Ide cerita ini mengambil konsep Dia de Muertos, sebuah tradisi di Meksiko yang memperingati kematian para leluhur. Di Meksiko, Dia de Muertos menjadi hari libur nasional yang diperingati setiap 31 Oktober dan berakhir pada 2 November. Sejak 2008, Dia de Muertos dimasukkan dalam daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO.
Wilkinson, juga ribuan penonton lain di seluruh dunia berangkat dengan tujuan utama menonton Coco. Tapi para penikmat film-film rilisan Pixar sudah tahu, akan selalu ada film animasi pendek yang ditayangkan sebelum film utama dimulai. Untuk menemani Coco, film animasi pendek yang diputar adalah Olaf's Frozen Adventure, film sempalan Frozen, yang berkisah tentang petualang Olaf, sang boneka salju dalam menyambut Natal.
Namun, ternyata film ini menimbulkan kegelisahan banyak orang.
"Sekitar 10 menit setelah Olaf diputar, seorang pria berusia 20-an berbisik dan bertanya, 'Ini film Coco kan?", yang lalu ditimpali pertanyaan serupa dari seorang bapak tiga baris di belakangnya. Wilkinson mengangguk.
Olaf's Frozen Adventure memang tidak bisa dianggap sebagai film pendek yang selalu muncul di film-film Pixar sebelumnya. Pasalnya, durasi Olaf's mencapai 21 menit. Maka, beberapa orang yang kesal di bioskop itu keluar
dari gedung dan menanti Coco dimulai. Wilkinson menuliskan pengalamannya itu untuk Vox.
"Sebagian besar orang yang pernah menyaksikan film Pixar, mereka tahu akan ada film pendek sebelum film utama, dan itu bukan masalah. Tapi kalau kamu tidak bersiap untuk film pendek 21 menit, Olaf's Frozen Adventure terasa tak ada akhirnya," tulis Wilkinson.
Di Meksiko, kekesalan serupa juga menyeruak. Situs berita Mexico, Excelsior, menulis tentang kekesalan terhadap Olaf's yang terlalu panjang. Selain itu, pemutaran Olaf's tanpa pengumuman durasi dianggap "memaksa" penonton menyaksikan sesuatu yang tak ingin mereka tonton. Beberapa beranggapan, kehadiran Olaf's adalah bentuk rasisme.
"Para penonton keluar dari gedung bioskop dengan protes," tulis Excelsior. "Jaringan bioskop mendengarkan protes kalian, kamu sekarang akan menyaksikan Coco tanpa film pendek Frozen."
Setelah mendapat kritikan keras soal durasi yang terlalu panjang, akhirnya Disney memutuskan menarik Olaf's dalam seluruh bioskop di Amerika Serikat pada 8 Desember 2017. Hal serupa juga dilakukan di Indonesia lewat jaringan XXI.
Lewat akun Twitter resmi Cinema XXI, mereka menulis: "Info: atas permintaan pihak studio, sejak 15 Desember film pendek Olaf's Frozen Adventure sudah tidak ditayangkan sebagai pembuka film animasi Coco."
Namun di Indonesia, para penonton terbelah. Beberapa mengatakan bahwa Olaf's adalah film pendek yang bagus dan seru. Sejumlah penonton lainnya mengatakan penghentian itu tepat, karena durasi yang memang terlalu panjang. Dan tentu saja, khas Indonesia, ada yang membawanya ke isu agama. Penghentian film Olaf's dianggap merupakan pemaksaan pihak yang tak suka melihat atribut Natal.