icon-category Entertainment

Pandji Bicara Soal Stand Up, Capres Anies dan Hubungan dengan Ahok

  • 20 Jul 2018 WIB
  • Bagikan :

    Uzone.id - Pandji Pragiwaksono, boleh dibilang adalah penghibur sejati. MC bisa, jadi aktor ok, ngelawak lucu banget, dan ngerap ya bolehlah.

    Dari sekian profesi entertaiment yang dijalani, mungkin nama Pandji berkibar sebagai komika. Pria kelahiran 18 Juni 1979 ini, dikenal sebagai komika yang suka mengangkat tema sosial, budaya, dan nasionalisme.

    Prestasinya sebagai komika cukup mentereng, dia telah menggelar setidaknya 5 kali pertunjukan Stand Up spesial.

    Terbaru, dia akan menggelar konser spesial di Plenarry Hall JCC, awal tahun 2019. Ini menjadikannya sebagai pelawak atau komika yang pertama mengadakan acara di sana. Dan laku.

    Padahal tadinya, banyak yang meragukan Pandji akan sukses, setelah keputusannya menjadi juru bicara bagi Anies Baswedan, di Pilkada lalu menimbulkan pro dan kontra.

    Pandji datang ke Kantor Uzone.id, menjelaskan sejumlah hal soal shownya, Stand Up Comedy, rencana Anies yang didorong menjadi Capres dan soal Ahok. Ya, soal Ahok.

    Simak wawancaranya berikut ini bersama dengan Susetyo Dwi Prihadi.

    Masih suka dipanggil “Kena Deh”? (Awal karirnya di TV, Pandji memadu acara reality show Kena Deh, yang membekas cukup lama).

    Allhamdulilah berkat perjuangan di ranah stand up komedik, dulu dari 10 orang,  8 orang manggil si “ kena deh”. Sekarang dari 10, 9 setengah orang sudah manggil stand up comedy.
    Sisanya masih manggil kena deh.

    Sekarang semua level mulai dari menteri, tukang parkir sudah menggenal sebagai standup comedy.

    Awal mula bisa tertarik di Stand Up Comedy?

    Saya berterima kasih kepada DVD Bajakan di Kota Kembang (Bandung).

    Dulu saya kuliah di Bandung, di ITB. Karena gak punya duit ya, makanya beli DVD Bajakan di pasar gitu. 

    Saat itu beli 10 DVD bajakan gratis 1. Dulu saya beli 10 dvd bajakan dapat 1, mikir 1 nya apa ya.


    Nah, lihat ada DVD judulnya Robin Willimas Live on Broadway. fotonya kayak bukan film, cuma berdiri doang.

    Dulu belum tahu apa itu standup comedy, lalu saya ambil, bawa pulang, saya tonton. baru tahu, oh ini standup. Tapi gak pernah ngelakuinnya.

    Nah, waktu sudah pindah ke Jakarta, udah mulai siaran, waktu itu juga ngerap. Bikin konser mini, di sela konser, saya selipkan stand up, saya rekam saya upload di YouTube.

    Dari situ ada stasiun TV, yang waktu itu mau bikin kompetisi standup namanya Stand Up Comedy Indonesia. Kompetisi itu meledak dan meledak sampai saat ini. Dan saya ngikut di dalamnya.

    Jadi komika, ribet ya? Harus paham teori ngelawaknya, kayak call back, roasting dan sebagainya.

    Kalau saya percaya teori itu dibuat utuk mebantu orang yang tak bisa ngelawak secara natural.

    kayak teman saya di sekolah, dia selalu bisa menyelesaikan tugas matematika, tapi dengan metode dia sendiri bukan dari yang diajarkan sekolah.

    Sama dengan Stand up conedy, ada banyak orang bisa melakukannya secara natural, bahkan tidak menulis. Tapi untuk orang yang tidak bisa melakukannya secara natural ada yang disebut teori dan itu bisa mereka pelajari, komedi itu seperti hal lain juga, ada ilmunya.


    Sule cerita soal komeng, bahwa tiap minggu Komeng ngumpul bersama teman-temamnya, 10 orang pelawak semua.

    dari situ mereka cela-celan, temanya ditentukan, soal kendaraan. “ah muka lo kayak knalpot”, “bisa aja lo ban dalam.

    Dari becandaan kayak gitu nempel di kepala, kemudian akan digunakn saat manggung di kemudian hari.

    Bayangin orang kayak komeng aja latihan, semua komedian kayak gitu. termasuk yang slapstick.

    Termasuk Sule, pasti dia melakukan latihan terlebih dahulu. Dia pernah melakukan Standup dan dia bilang dispilin ilmunya juga ada yang menulis.

    Di Standup Comedy, 95 persen harus ditulis, karena komedinya semua harus dikonsep. karena lawakan kita datang dari verbal, datang dari kata-kata.

    Salah milih kata, salah milih analogi, salah milih in atau cara kita masuk ke dalam topik kadang jokenya gak kena. Makanya harus ditulis dulu.

    Apalagi zaman sekarang, salah ngomong netizen bisa marah. Makanya semuanya dikonsep dulu.

    Tapi ada komika atau pelawak ada yang pernah menyinggung, bahkan Pandji pun pernah melakukannya sampai meminta maaf.

     Ini kesimpulan saya belum tentu bener. Komedi tidak menyinggung orang yang tersinggung.

    Jadi makanya saya bikin video di YouTube saya, tidak mungkin meminta komedian untuk menyinggung, kenapa? Karena semua orang tersinggung atas alasan yang berbeda2.

    contoh, kita jangan SARA, oke anggaplah kita tidak boleh ngomongin SARA, itu kita sampingkan. Kemarin ada orang yang tersinggung sama Soleh (Solihun, komika) gara-gara dia bahas soal motor, oke gak boleh ngomongin motor.

    Ada lagi yang bikin joke soal polisi,tersinggung, oke gak boleh lagi ngomongin polisi. Lama-lama abis topiknya, karena semua orang tersinggung.

    Saya kasih contoh cerita,  saya pernah makan di rumah teman saya, terus ibunya minta tolong “Pandji, tolong ambilkan piring itu dong.”

    Tangan kanan saya lagi megang sesuatu, saya kasih pakai tangan kiri kemudian saya bilang “Maaf ya tante pakai tangan kiri.”

    Dia nanya “Kenapa minta maaf, saya ini kidal loh, jadi menurut kamu saya seumur hidup tidak sopan?”

    Poinnya apa? kita niat Sopan aja kita masih dianggap menyingggung.

    Jadi saya bilang ke semua standup komedian, bahwa semua orang bisa ngomong apa saja, asal bisa bertanggung jawab.

    Dan kita harus ingatkan, kalau ada orang yang tersinggung, belum tentu anda benar.

    Bisa ceritakan soal Stand Up Spesial loe yang terbaru?

    Pragiwaksono, nama Stand Up Spesial saya yang kelima, itu kayak konser sih, yang pertama itu Bhinneka Tunggal Tawa, Merdeka Dalam Bercanda, Mesakke Bangsaku, Juru Bicara dan terakhir Pragiwaksono.

    Kenapa Pragiwaksono? Karena Pragiwaksono itu nama saya, dan dalam pertunjukan ini akan banyak bicara soal saya.

    Dari saya lahir, sampai saya dewasa.ngomongin hal-hal yang terjadi dalam hidup saya,yang membuat saya mengambil keputusan seperti ini, saya orangnya seperti ini.

    Kayak pasca pilkada, orang banyak nanya soal saya, kenapa Pandji kayak gitu, kenapa memutuskan seperti itu. Saya akan bahas semua di sana.

    Pragwiiksano, juga berarti kebijaksanaan, menurut bapak saya ya, gak tahu ya bapak saya bener apa gak. Karena menurut dia Wicaksono itu bijakasana,

    kebijaksanaan, menurut saya adalah, sesuatu yang harus dimiliki oleh bangsa kalau kita mau bertahan sebagai sebuah bangsa. Karena pemahaman Indonesia soal persatuan, menurut saya, masih intermediate (menengah).

    Saya tahu, nanti ada yang bilang, Pandji mau ngomongin persatuan yang bener aja? dia adalah orang yang salah.

    Saya mau ngasih argumen di pertunjukan ini bahwa ada yang kurang tepat dari bangsa ini memahami persatuan.

    Setelah jadi juru bicara Anies Baswedan dan jadi kontroversi, banyak orang yang ragu Pandji akan kembali Stand Up lagi.

    Saya juga malah bingung, banyak yang bilang Pandji gak stand up, gak laku lagi.

    Banyak teman juga nanya “Gimana lo?  (setelah Pilkada DKI Jakarta)? “Kan di sosial media lo gitu (diserang haters).

    Gue jawab,”Hidup saya gak berubah.”

    Gua akhirnya bilang kayaknya kita harus berhenti mengambil keputusan yang ada di sosial media, deh.

    Karena sangat tidak akurat. Fahri Hamzah aja berbeda loh antara di media sosial dengan saat ketemu.

    Dalam konteks kampanye, siapa yang masih ingat influencer Ahok gede banget (jumlahnya), bahkan lebih gede dari Agus. tapi tidak akurat menggambarkan apa yang terjadi.

    Contoh lain, Hillary Clinton (saat pilpres AS) jauh antara media sosial media dengan hasilnya. Jadi, kita harus keluar dari kotak kaca, bahwa dunia sosmed itu sama dengan dunia nyata.

    Lagipula.

    a, saya sering diserang di sosmed, gak ada pilkada pun
    b, orang kalau liat saya sehari-hari ya sama aja. Buktinya, 4.000 tiket Pragiwaksono Show laku terjual dalam 4 jam

    Laku 4.000 tiket dalam beberapa jam. Orang Indonesia kekurangan hiburan berkualitas banget?

    Semua orang butuh hiburan, cuma memang senangnya murah. Makanya saya tersanjung dibayar mahal, karena penyanyi sold out di Plenarry Hall itu susah.

    Yang spesial apa di Pragiwaksono Show, selain tempatnya mewah?

    Sebenarnya yang spesial, orang yang menonton saya dari awal Standup spesial tahu, saya jarang membicarakan soal diri saya, orangtua saya, gak pernah tuh. ini pertama kali, dan menjadi layer baru.

    Plennary Hall memang sangat spesial, tidak pernah ada komedian grup atau tunggal yang melakukan pertunjukan di situ.Bahkan komedian internasional belum ada yang manggung di situ.

    Plenarry Hall itu tempat seniman manggung, Glen Fredly, Slank,  dan seniman semua yang anggp besar.

    Juga ada daycare, saya baru tahu belakangan bahwa cetusan itu keuntungan besar, karena ada penonton gak tau nitip dimana anaknya, kita kasin peniitipan. Bahkan ada app untuk memantaunya.

    Selain itu, pertama kali pertunjukan ini didesain ramah difabel, tuna daksa, tuna rungu. targetnya agar penonton mandiri.

    Ada bit yang spesial?

    Ada bit, ada nulis betapa susahnya, dicermati situasi, penonton, orang baru ngeh itu sulit atau susahnya.

    Saat promosikan Prawiksono, Pandji semacam ngeprank netizen, ujung-ujungnya ternyata acara Standup. Kok Bisa?

    Rencana sudah dari panjang, rencana itu datang dari masalah, meeting ke masalah ke depan, harga mahal venue mahal, ga ada jaminan sponsor, politik lagi berisik lagi, susah menandingi nya.

    Ibaratnya kalau bukan sirup dan obat maag susah jualan di bulan Puasa. daripada lawan, kita tunggangi.

    Ide datang pas tahu pasang billboard, dengan pakai batik ala caleg. Karena netizen sesungguhnya gampang ditebak, netizen akan ramai. narasi yang di kepala mereka itu yang dikeluarkan. Padahal gak ada bilang saya mau nyaleg.


    Tadinya mau masang baliho di jakarta, tapi mahal, jadi saya pindah langsung ke Bandung. saya mikit titik di Bandung yang banyak orang Jakarta dimana ya, jadi saya taruh di cihampelas.

    Dan di Jogja juga ada, bilboard langsung ramai.

    Selain itu saya cari handsign mirip OK oce, saya kasih salam persatuan, sangat viral, car free day saya datang, foto sama orang Parpol, teman saya orang PAN, kurang rame.

    Saya hubungi partai yang mayoritas gak suka secara umum.

    Saya juga minta Arie Keriting agar bikin settingan ribut. Itu semua bagian dari rencana.

    Gimana rasanya bohongin masyarakat?

    Saya gak bohongin, saya gak pernah bilang mau nyaleg, bahkan ada media hubungi saya wawancara, gak pernah saya bilang maju caleg

    Saya ditanya,” Jadi mas pandji mau maju?” “Ya kalau masyarakat menghendaki,” di artikelnya jadi alasan pandji maju nyaleg.

    Tapi saya seneng, intinya, saya butuh orang yang suka dan gak suka saya. Karena Pilihpandji.com situs yang bikin awarness makin tinggi.

    Rahasia bisa marketing yang sukses?

    Gue suka baca buku I can cr8, Thomas Alva Edison bilang kalau mau jadi inovator sukses sering lihat atau pelajari di luar industri itu,Kanye West bilang kalau mau sukses, saya ga mau denger musik rap, tapi di luar itu. hal itu yang nempel banget di kepala saya.

    Walau saya Stand up comedian, saya ingin belajar hal lain di luar itu. dari sesuatu yang ga ada hubungan sama sekali.

    Yang bikin saya bangga, orang-orang yaang benci saya tanpa sadari ikut promosikan Pilihpandji.com.

    Masih suka kontak dengan Mas Anies Baswedan?

    Masih, malah semalam ada misscall dari mas Anies. Walau jarang ketemu atau WA jarang dibalas.

    Kalau diminta bantuan sering, biasanya stafnya, mau seniman diundang cara apa itu, undangan selalu datang tapi saya ga bisa karena sibuk.

    sebenarnya  zaman pak Ahok,diminta bersama organisasinya Pemprov DKI Jakarta diundang isi acara. Malah saya mengisi acara di zaman pilkada.

    Jadi bersebranganpun antara saya dengan Pak Ahok ga papa, saya ga papa.

    Politik itu kayak sepakbola, yang ramai fans. merekanya (pemain) mungkin nongkrong bareng.

    Kalau mas Anies maju jadi Capres, setuju?

    Tidak setuju. Alasan banyak, dari awal kampanye, saya bilang kalau belum selesai menjabat dan maju, akan berhadapan dengan saya.

    Saya memilih mas Anies, untuk jadi Gubernur untuk membenahi Jakarta, bukan menjadi batu pijakan.

    Saya khawatir, kalau mas Anies maju, ke depannya banyak posisi Gubernur Jakarta akan menjadi batu pijakan

    Pak Jokowi pindah dan Mas anies. Nanti, siapapun mau jadi capres, nyagub dulu lagi.

    Selain itu, kalau Mas Anies jadi Presiden, Bang Sandi akan naik (Jadi Gubernur), saya kurang yakin karena banyak faktor.

    Pertama, komunikasi publik, dulu kita kecewa punya gubernur karena komunikasi yang tak baik. ironisnya Bang Sandi juga mengalami hal sama, mungkin kaget kali ya pejabat publik.

    Karena yang diungkapkan itu menjadi sorotan, beliau belum bisa dengan bijak memilih becandaan yang gak hati-hati.

    kayak gini, kalau mau jadi gubernur susah.


    Gubernur sangat politis, dalam peta politik krusial, kemampuan politik itu butuh skli tersendiri. Gak kaget kalau dia naik,  banyak ramai-ramai yang minta dia turun.


    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini