
Dalam khazanah pers Indonesia prakemerdekaan ada beberapa nama pelopor yang masyhur. Dimulai dari Tirto Adhi Soerjo sebagai biang pers bumiputra dengan terbitan Medan Prijaji-nya. Lalu ada Lanjumin Datuk Tumenggung si pemilik media terbesar Hindia Belanda Neratja. Atau wartawan Djamaludin Adinegoro yang terkenal dengan reportasenya ke Eropa.
Meski demikian jangan lupakan nama Parada Harahap. Di antara tokoh-tokoh itu, Parada adalah yang paling produktif memproduksi media. Juga dikenal sebagai salah satu wartawan yang punya nyali mewartakan kebobrokan kolonialisme.
Seturut Ensiklopedi Jakarta buku II (2005: 419), Parada adalah putra Batak kelahiran Asahan, 15 Desember 1899. Sebagai anak keluarga biasa, ia hanya sempat mengenyam Gouvernamentschool Twee de Klasse yang setingkat sekolah dasar. Namun begitu Parada kecil dikenal sebagai autodidak dan punya ketajaman ingatan. Ditambah dengan kepercayaannya dirinya yang besar, ia kemudian tumbuh jadi wartawan.
Soal pilihan hidupnya memasuki dunia kewartawanan ada juga asal-usulnya. Sebagaimana dijelaskan Toebagus Lutfi dalam laporan penelitian bertajuk King of the Java Press (PDF), semula Parada adalah seorang pembaca. Kebanyakan bacaannya adalah koran atau majalah yang dikirim kakaknya dari Bukittinggi.
“Kebiasaan membaca inilah yang nantinya menjadikan landasan bagi Parada Harahap, mengapa pada akhirnya ia demikian mencintai dunia pers dan publisistik,” tulis Toebagus.
Agaknya dewi keberuntungan Parada tak bersemayam di Sumatra. Dan memang, ia mendapat jejuluk raja media bukan di tanah kelahirannya, tapi di Jawa yang baru ia tapaki pada awal 1922.
Ia tiba di Jawa bersama istrinya dan memulai semuanya dari nol. Amir Husin Daulay mencatat Parada pertama kali jadi kuli tinta di harian Sin Po. Tak berapa lama ia lalu mendapat posisi redaktur kepala di media terbesar di Hindia Belanda masa itu, Neratja.
“Tepat 9 bulan kemudian ia mengeluarkan mingguan miliknya sendiri Bintang Hindia, hasil dari tabungannya,” tulis Amir.
Dari titik inilah kemudian peruntungannya berubah. Ia kini bukan lagi sekadar wartawan, tetapi juga pengusaha surat kabar. Bersama Metzelaar, pemilik percetakan De Unie, Parada menerbitkan beberapa media lain yang kian membesarkan namanya.
Kerajaan medianya dimulai dari pendirian kantor berita Algemene Pers en Nieuws Agentschaap alias Alpena. Kemudian berturut-turut ia bikin mingguan Bintang Timur, Jawa Barat, Sinar Pasundan, Semangat, dan De Volks Courant yang berbahasa Belanda.
Di antara semuanya, Bintang Timur adalah yang paling moncer dan berpengaruh. Dari mulanya mingguan, ia berkembang jadi harian. Menurut Toebagus Lutfi, salah satu faktor yang bikin Bintang Timur meroket adalah tulisan-tulisan Dokter Rivai, seorang tokoh pers yang cukup berpengaruh kala itu.
“DR. Rivai sering mengirimkan karangannya secara teratur dari Eropa, tempat ia bertugas. Dengan cara tersebut harian ‘Bintang Timur’ dapat memberikan informasi dan pendidikan yang lebih maju dan luas, tentang berbagai perkembangan dari belahan dunia lain,” tulis Toebagus.
Demikianlah julukan The King of Java Press itu berasal. Tapi, mengutip kalimat Tony Stark di film Avengers: Endgame (2019): part of the journey is the end, masa jaya itu nyatanya juga punya akhir. Agaknya Parada punya kelemahan di bidang manajemen finansial dalam menjalankan perusahaannya. Pada 1935 ia bangkrut gara-gara utang 35.000 gulden.
“Ia kumpulkan modal untuk kembali menerbitkan sebuah harian yang baru. Pada tahun 1935 terbitlah Tjaja Timoer sebuah harian selebar saputangan. Ia cari berita sendiri, tulis sendiri, zet sendiri, cetak sendiri, jual sendiri...,” tulis Amin.
Kerajaan Parada benar-benar habis ketika balatentara Jepang mendepak Belanda dari Indonesia pada 1942. Tiga bulan setelah pendudukan, Tjaja Timoer dipaksa tutup. Sejak itu Parada tak pernah lagi bisa jadi raja media meski tak benar-benar meninggalkan dunia kewartawanan.
Selepas Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Departemen Penerangan dan dipercaya mengelola hubungan pemerintah dan pers. Menurut M. Sjafe'i Hassanbasari dalam "Pers dan DPR, Riwayatmu Ini" yang terbit di Kompas (31/8/1995), sumbangsih Parada yang mencolok adalah kala ia membikin apa yang kini dikenal sebagai press room di DPR RIS pada 1950.
“Inilah kehadiran pertama suatu tempat khusus bagi wartawan berkumpul dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Dengan bantuan Panitera Parlemen, kegiatan sidang-sidang Parlemen RIS dihimpun dalam bentuk Ichtisar Parlemen yang selanjutnya disajikan kepada pers untuk kemudian disebarluaskan ke masyarakat,” tulis Sjafe’i.
Di masa senjanya, ia beralih profesi jadi pengajar. Bersama beberapa rekan sejawat, Parada merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik. Ia meninggal pada 11 Mei 1959, tepat hari ini 60 tahun lalu, hanya beberapa saat usai mengajar para calon wartawan muda yang bakal jadi penerusnya.
Baca juga artikel terkait PARADA HARAHAP atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi