Pasar Game RI Besar, tapi Cuannya Banyak Lari ke Luar Negeri
Pasar game Indonesia besar, tapi uang gamer mayoritas mengalir ke luar negeri karena developer lokal hanya berkontribusi 7%.

Ilustrasi gamer di Indonesia (Foto: Didin Bahana/Unsplash)
Highlight Artikel
- Mayoritas uang yang dibelanjakan gamer di Indonesia dan ASEAN mengalir kembali ke negara asal game, seperti AS, Jepang, dan Korea Selatan, karena industri pengembangan dan penerbitan game lokal masih pada tahap awal.
- Pendapatan industri game Indonesia diproyeksikan mencapai USD1,3 miliar pada 2025, dengan kontribusi nilai tambah USD1,8 miliar terhadap PDB, serta menopang sekitar 257.400 pekerjaan.
- Kontribusi terbesar industri game Indonesia berasal dari segmen hardware dan aksesori (47%), disusul eSports (24%), retail (22%), sementara developer dan publisher hanya menyumbang 7%.
- Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif berupaya mendorong konsumsi game lokal dan menjalin kemitraan dengan perusahaan global seperti Tencent untuk transfer pengetahuan, guna meningkatkan kontribusi developer dan publisher dalam negeri.
Uzone.id - Indonesia punya pasar game yang besar, tapi justru banyak developer dan publisher dalam negeri belum bisa menikmati ‘cuannya’. Disampaikan Cheng Wei Swee, Director and Deputy Head of Economic Strategy Access Partnership, banyak uang yang dibelanjakan para gamer malah mengalir kembali ke negara asal game, seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Korea Selatan.
Dalam sesi peluncuran laporan Tencent bersama Access Partnership bertajuk ‘The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia’, Cheng Wei mengatakan bahwa industri pengembangan dan penerbitan game di banyak negara Asia Tenggara masih berada pada tahap awal, sementara sebagian besar game populer berasal dari luar kawasan.
“Banyak orang membelanjakan uang untuk game di ASEAN, tetapi banyak dari pengeluaran tersebut mengalir kembali ke negara asal game, baik itu Amerika Serikat, Jepang, Korea, dan negara lainnya,” ujar Cheng, pada sesi yang masuk ke dalam agenda World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).
“Industri pengembangan dan penerbitan game di banyak negara ASEAN masih berada pada tahap awal. Banyak game yang viral dan menguntungkan masih berasal dari luar ASEAN,” lanjutnya.
Laporan tersebut mencatat pendapatan industri game Indonesia yang mencapai USD1,3 miliar (setara Rp23,4 triliun kurs saat ini) pada 2025.
Sementara kontribusi nilai tambahnya terhadap perekonomian Indonesia mencapai USD1,8 miliar (sekitar Rp32,4 triliun kurs saat ini) atau setara 0,12 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Industri ini juga menopang sekitar 257.400 pekerjaan atau 0,18 persen dari total lapangan kerja di Indonesia.
Kontribusi nilai tambah tersebut, jelas Cheng Wei, bukan cuma berasal dari pendapatan langsung industri. Perhitungannya turut mencakup dampak tidak langsung dari rantai pasok lokal serta aktivitas ekonomi yang tercipta dari pengeluaran perusahaan dan pekerja di industri game.
Menariknya, kontribusi terbesar industri game Indonesia bukan dari pengembangan atau penerbitan game-nya, melainkan dari segmen hardware dan aksesori yang menyumbang 47 persen. Kemudian disusul segmen eSports sebesar 24 persen, retail 22 persen, lalu developer dan publisher baru mencapai 7 persen.
Cheng menilai besarnya kontribusi hardware tidak mengejutkan. Indonesia, Malaysia, dan Thailand memang memiliki basis manufaktur yang lebih kuat dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
“Indonesia, Malaysia, dan Thailand merupakan kekuatan manufaktur. Banyak aktivitas manufaktur berada di negara-negara tersebut, sehingga tidak mengejutkan jika ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif mereka,” jelasnya.
Indonesia juga dinilai punya keunggulan lain dari industri eSports. Besarnya pasar dan komunitas memungkinkan Indonesia menjadi tuan rumah berbagai turnamen internasional maupun kompetisi tingkat akar rumput di banyak daerah.
Namun, pekerjaan rumah terbesarnya tetap meningkatkan kontribusi developer dan publisher. Bukan hanya agar uang yang dibelanjakan para gamer dapat berputar di dalam negeri, tetapi juga supaya game buatan Indonesia bisa menjangkau pasar global.
“Hal penting yang perlu dikerjakan adalah pengembangan dan penerbitan game. Bagaimana kita bisa memiliki game yang bagus di kawasan ini, termasuk Indonesia, sehingga mampu menarik pemain dari seluruh dunia,” katanya.
Ekraf akui pasar dan developer game lokal masih timpang
Di kesempatan yang sama, Direktur Game dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Luat Sihombing, mengakui masih ada ketimpangan antara besarnya pasar game Indonesia dengan kemampuan industri pengembangannya.
Menurutnya, sebagai pelaku bisnis, developer akan memilih produk dan pasar yang memberikan peluang pendapatan lebih pasti.
“Kita memang tidak match antara market dengan developernya. Developer kita, karena pelaku bisnis, pasti mencari mana yang lebih pasti buat mereka dari sisi setup dan revenue,” jelas Luat, menjawab pertanyaan tim Uzone.id terkait ‘porsi’ segmen developer dan publisher game di RI yang baru 7 persen.
Ketimpangan tersebut juga dipengaruhi pesatnya penetrasi perangkat mobile di Indonesia sejak 2015. Di sisi lain, mengembangkan dan menjalankan bisnis game mobile juga butuh modal yang jauh lebih besar.
“Di Indonesia, mungkin sejak 2015 penetrasi mobile device lebih kencang. Sementara model bisnis di mobile membutuhkan kapital yang jauh lebih besar. Itu yang sebenarnya membuatnya tidak match,” lanjutnya.
Meski demikian, Luat mengatakan tidak ada salahnya apabila developer Indonesia membidik pasar global, apalagi Indonesia memiliki budaya serta IP lokal yang bisa menjadi pembeda di pasar global.
Di pasar lokal, konten yang sangat spesifik juga masih punya peluang besar. Salah satu contohnya adalah Bus Simulator Indonesia yang menawarkan pengalaman berkendara dengan kendaraan, suasana, dan berbagai elemen khas Indonesia.
Contoh lainnya adalah Coral Island buatan Stairway Games. Berdasarkan laporan Access Partnership, game tersebut telah terjual lebih dari satu juta kopi dengan pendapatan melampaui USD25 juta.
Luat menjelaskan, untuk meningkatkan porsi developer dan publisher, pemerintah akan mendorong konsumsi game lokal sekaligus menjalin kerja sama dengan perusahaan global seperti Tencent. Kerja sama tersebut diharapkan membuka transfer pengetahuan kepada talenta dan studio Indonesia.
“Dari sisi pemerintah, kita mencoba mendorong konsumsi lokal. Dalam perjalanannya, kita juga menjalin partnership dengan pemain global seperti Tencent,” ujar Luat.
“Studio lokal nantinya bisa bekerja sama dengan studio yang dimiliki Tencent agar ada transfer pengetahuan kepada sumber daya manusia di Indonesia. Harapannya, ini menjadi snowball effect yang memperbesar kemampuan talenta kita dan meningkatkan kepercayaan pemodal,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, industri game di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand menghasilkan kontribusi nilai tambah sebesar USD8,2 miliar (setara Rp147,9 triliun dengan kurs saat ini) serta menopang 646.800 pekerjaan pada 2025.
Dengan dukungan kebijakan yang lebih kuat, Cheng Wei menyebut kalau kontribusinya diproyeksikan naik menjadi USD14,2 miliar (setara Rp256,2 triliun kurs saat ini) dan menopang 1,16 juta pekerjaan pada 2030.
FAQ Artikel
Mengapa pasar game Indonesia yang besar belum banyak dinikmati developer lokal?
Pasar game Indonesia memang besar, namun mayoritas uang yang dibelanjakan para gamer justru mengalir kembali ke negara asal game populer (seperti AS, Jepang, Korea) karena industri pengembangan dan penerbitan game di Indonesia masih berada pada tahap awal dan hanya menyumbang 7% dari total kontribusi industri.
Berapa kontribusi ekonomi industri game Indonesia pada 2025?
Pada 2025, pendapatan industri game Indonesia diproyeksikan mencapai USD1,3 miliar (sekitar Rp23,4 triliun). Kontribusi nilai tambahnya terhadap perekonomian mencapai USD1,8 miliar (sekitar Rp32,4 triliun) atau setara 0,12% dari PDB, serta menopang sekitar 257.400 pekerjaan.
Apa segmen industri game yang paling besar kontribusinya di Indonesia?
Kontribusi terbesar industri game Indonesia bukan dari pengembangan atau penerbitan game, melainkan dari segmen hardware dan aksesori yang menyumbang 47%. Diikuti oleh eSports sebesar 24%, retail 22%, sedangkan developer dan publisher hanya 7%.
Bagaimana pemerintah berupaya meningkatkan kontribusi developer game lokal?
Pemerintah, melalui Kementerian Ekonomi Kreatif, berupaya mendorong konsumsi game lokal dan menjalin kerja sama dengan perusahaan global seperti Tencent. Harapannya, kerja sama ini dapat membuka transfer pengetahuan kepada talenta dan studio di Indonesia, serta meningkatkan kepercayaan pemodal.
Muhammad Faisal Hadi Putra
Jurnalis
-2.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)
