
Sejak 2017, Paulo Dybala menyadari kalau masa depannya di Juventus tidak akan banyak dipengaruhi dirinya sendiri. Tak peduli seberapa besar tekadnya untuk membela Juventus sampai mampus, Dybala tahu kalau akan ada titik ketika Si Nyonya Tua tak membutuhkannya lagi.
"Saya tidak bisa menjamin saya akan berada di Juventus selamanya. Keputusan seperti itu tidak bergantung pada diri saya," tutur Dybala seperti diwartakan Calciomercato saat itu.
Selain karena kesadaran akan situasinya, saat itu Dybala tak menyembunyikan kekecewaan pada klubnya. Dia merasa Juventus terlalu mudah melepas pemain macam Paul Pogba dan Dani Alves, yang menurut Dybala bisa membawa prestasi signifikan jika dipertahankan di Turin.
"Saya harus mengakui kalau saya sangat merindukan Dani Alves dan Pogba. Alves memiliki visi dan kepercayaan diri yang hebat, dia salah satu pemain terbaik yang pernah saya lihat. Pogba adalah kawan terdekat saya, kami punya hubungan yang bagus di dalam dan luar lapangan," jelas dia.
Dua tahun kemudian, La Joya akan mengalami apa yang sudah dilakukan Juventus kepada Alves dan Pogba. Seperti diwartakan Goal, pada bursa transfer musim panas 2019 ini, Juventus membuka negosiasi dengan klub manapun yang bersedia merekrut Dybala dengan mahar minimal 100 juta paun.
Tak lama berselang, gayung bersambut. Manchester United, klub asal Inggris, menawarkan Romelu Lukaku--striker yang diidam-idamkan Maurizio Sarri--sebagai opsi pertukaran dengan Dybala. SkySports melaporkan, Selasa (30/7/2019) lalu, agen Dybala telah tiba di Manchester untuk menghadiri negosiasi dengan pihak Manchester United dan Lukaku.
Hingga saat ini, manajer MU, Ole Gunnar Solskjaer belum menjamin pertukaran antara Lukaku dan Dybala bakal terlaksana.
"Saya tidak berbicara untuk rumor atau spekulasi apapun tentang pemain lain. Tapi tentu, kami sedang bekerja dalam satu atau dua transfer, seperti yang saya katakan sebelumnya. Masih ada 10 hari sebelum liga dimulai dan kami berharap bisa mengumumkan satu atau dua pemain baru," tutur Solskjaer.
Kepindahan Dybala sangat mungkin terlaksana. Keberadaan Paul Pogba, pemain yang punya hubungan dekat dengannya semasa berseragam Juventus disinyalir bakal jadi magnet yang bisa menarik Dybala mendekat ke Old Trafford.
Masalah baru terdeteksi ketika Allegri mendepak Higuain dari Juve pada musim 2018/2019.
Terbiasa bermain sebagai pemain yang berdiri di belakang Higuain bikin Dybala kesulitan saat tandemnya pergi. Maka, Allegri pun memilih memasang Mario Mandzukic sebagai ujung tombak andalan selama semusim terakhir.
Situasi semakin parah ketika Allegri mulai banyak mengandalkan skema 4-3-3. Tak ada tempat di belakang striker karena ketimbang menempatkan Dybala sebagai gelandang, Allegri jelas lebih memilih memplot pemain yang lebih punya kemampuan murni di pos tersebut, sebut saja Miralem Pjanic, Sami Khedira atau Emre Can.
Kehadiran Cristiano Ronaldo pada musim yang sama menjadi batu sandungan terakhir untuk Dybala. Ronaldo mendapat posisi paten di sayap kiri dan mau tak mau Dybala lebih banyak bermain sebagai winger kanan.
Posisi ini jelas tidak ideal karena Dybala merupakan pemain kidal. Selain itu, Dybala jelas tak cocok bermain sebagai winger dalam sepakbola modern. Sebab dia bukan pemain yang didesain untuk membantu tim bertahan di tepi lapangan, seperti yang dilakukan winger-winger sepakbola modern pada umumnya.
Hasilnya bisa ditebak. Selama musim 2018/2019 Dybala lebih banyak turun sebagai pemain pengganti. Rapornya juga menurun drastis, cuma bisa mengemas lima gol dan empat assist dari 30 laga Serie A.
Kedatangan pelatih anyar Juventus, Maurizio Sarri pada musim panas ini sempat mengembuskan sedikit angin segar. Kepada media-media Italia, Sarri mendaku punya berbagai skenario untuk melibatkan Dybala dalam komposisinya.
"Saya pikir Dybala bisa menjadi false nine, karena kami bisa bermain dengan skema sedikit berbeda, misal dengan 4-3-1-2 dengan Dybala berdiri tepat di belakang dua striker," kata Sarri seperti dilansir Football-Italia.
Namun faktanya, janji Sarri sejauh ini belum terlihat. Sepanjang tur pramusim, mantan juru taktik Napoli dan Chelsea itu tetap lebih banyak mengandalkan komposisi 4-3-3 favoritnya. Dan sebagaimana pada era Allegri, tak banyak opsi yang dia berikan untuk Dybala.
Kini, yang dibutuhkan Dybala adalah tim yang mau memberikan kesempatan baginya untuk bermain di posisi ideal. Entah sebagai ujung tombak atau false-nine seperti saat di Palermo atau menjadi tandem tunggal seorang striker murni. Dan apabila Ole Gunnar Solskjaer bisa menjamin kemungkinan itu, menjatuhkan pilihan pada MU bukanlah opsi buruk untuk Dybala.
Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan