
Uzone.id - BYD bisa jadi baru saja mengukuhkan sebagai rajanya EV dunia sepanjang 2025, mengalahkan Tesla. Namun memasuki tahun 2026, pelemahan pasar EV China mulai berimbas ke BYD.
BYD memulai 2026 dengan hasil kurang memuaskan. Perusahaan asal China ini gagal untuk mempertahankan kinerja positif di pasar kendaraan roda empat China.Melansir Reuters pada Senin (02/02), BYD melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan penjualan sepanjang Januari 2026.
Jumlahnya pun terbilang cukup besar, sekitar 30,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian di Desember 2025. Membuat BYD harus gigit jari di awal tahun ini.
“Produsen kendaraan listrik China tersebut menghadapi ketidakpastian eksternal dan persaingan ketat di dalam negeri,” tulis Reuters.
Secara global, BYD hanya mencatatkan penjualan 210.051 kendaraan roda empat sepanjang Januari 2026. Kemudian produksi mereka turun sebesar 29,1 persen.
Sedangkan untuk pasar ekspor, BYD hanya berhasil membukukan angka 100.482 unit saja pada bulan lalu.
Situasi di atas disebut-sebut semakin memperpanjang rekor penjualan BYD yang terus anjlok sejak Juli 2025.
Sementara itu menurut laporan Carnewschina, pasar New Energy Vehicle (NEV) di China menunjukkan persaingan kian ketat.
Menurut data yang mereka miliki, para produsen saling berlomba-lomba untuk menyesuaikan harga mobil listrik hingga hybrid.
Membuat BYD dan perusahaan mobil China lain harus mencari strategi agar bisa terus kompetitif pada tahun ini.
Apalagi permintaan NEV diprediksi akan terus bergejolak pada kuartal pertama 2026. Kondisi tersebut didorong oleh pergeseran minat konsumen di Negeri Tirai Bambu.
Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius. Apalagi bagi BYD yang baru saja mengumumkan target penjualan mereka.
Sepanjang 2026, produsen asal Cina tersebut ingin ada 1,3 juta kendaraan roda empat berhasil terniagakan.
Pelemahan Pasar Mobil Cina Dimulai
Di sisi lain, kondisi yang saat ini dihadapi oleh BYD tidak terlalu mengejutkan. Sebab sebelumnya pasar kendaraan roda empat Tiongkok diprediksi bakal melambat.
Beberapa rintangan siap menghadang, semisal ketegangan perdagangan, pergeseran tarif serta ketidakpastian regulasi pemerintah.
Kondisi di atas memaksa para produsen untuk memikirkan kembali produksi, penetapan harga maupun strategi pasar.
Bahkan dikatakan bahwa puluhan produsen mobil listrik di Cina, berada dalam ancaman serius pada 2026.
Mereka kemungkinan besar akan menutup atau mengurangi operasinya pada tahun depan. Hal itu karena pertumbuhan industri melambat dan insentif dari pemerintah berakhir.