icon-category Startup

Pendiri Uber Travis Kalanick Hengkang dari Perusahaan

  • 25 Dec 2019 WIB
Bagikan :

(Foto: Axelle/Bauer-Griffin/FilmMagic)

Uzone.id -- Pendiri sekaligus mantan CEO Uber, Travis Kalanick mengundurkan diri dari jajaran dewan eksekutif perusahaan per 31 Desember 2019.

Dari pernyataan resmi Uber, Kalanick akan fokus mengembangkan bisnis barunya dan proyek-proyek filantropis lainnya.

Sebelum mengajukan pengunduran diri, Kalanick diketahui sedang memproses penjualan saham miliknya di Uber sejak 2017. Pada pekan lalu, Kalanick telah menjual sahamnya sebesar US$383 juta (setara Rp5,3 triliun), sehingga saham yang dia miliki berkurang sampai di bawah 10 persen.

Mengutip TechCrunch, Kalanick juga baru-baru ini telah menjual saham sisanya itu.

Baca juga: Tahun Baru, Gojek Matikan 5 Layanan

Sejauh ini, Kalanick dikenal berkontribusi terhadap industri makanan on-demand melalui startup CloudKitchen yang fokus pada properti harga terjangkau dan mengubahnya menjadi restoran yang beroperasi tanpa konter, tempat duduk, ataupun layanan offline -- semuanya berbasis aplikasi dan pengiriman online melalui kurir.

Kalanick bersama miliuner asal Kanada, Garrett Camp mendirikan Uber pada 2009 di San Francisco, Amerika Serikat. Idenya bermula dari pemikiran kalau transportasi bisa lebih murah dengan konsep berbagi atau patungan. 

Dari sinilah tercetus konsep ride-sharing, di mana pengemudi mobil yang notabene bukan karyawan Uber, menjadi mitra perusahaan dalam menyediakan jasa transportasi. Semuanya adalah bagi hasil.

Baca juga: Grab Caplok Uber di Indonesia 

Kalanick kemudian menjadi CEO Uber, menggantikan koleganya, Ryan Graves yang menjabat selama 10 bulan.

Setelah melalui pro dan kontra karena bisnis Uber dianggap mematikan taksi konvensional dan kontroversi lainnya di berbagai negara, Kalanick akhirnya mundur dari kursi CEO pada 2017 dan digantikan oleh Dara Khosrowshahi sampai sekarang.

Pada Maret 2018, Uber memutuskan untuk menjual layanannya di Asia Tenggara kepada Grab. Kesepakatan akuisisi ini sudah termasuk operasi Uber di Asia Tenggara, termasuk layanan Uber Eats. 

Tentu hal ini menarik di Indonesia sebab bersatunya Uber dengan Grab menandakan keduanya akan bersaing dengan perusahaan lokal Gojek. 

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini