Digilife

Peneliti Siber: Telegram Jadi Rumah ‘Menarik’ Bagi Peretas Dark Web

  • 20 September 2021
  • Bagikan :

    Ilustrasi Foto: Mika Baumeister/Unsplash

    Uzone.id - Telegram menjadi aplikasi perpesanan alternatif yang banyak dipilih setelah aplikasi WhatsApp. Popularitas dari aplikasi ini telah meningkat karena fitur privasi yang dinilai aman oleh masyarakat serta fitur lainnya yang mudah digunakan.

    Orang-orang banyak pindah ke Telegram karena kebijakan terbaru WhatsApp. Keduanya menjadi aplikasi yang dituju oleh pengguna yang ingin privasinya lebih terjaga saat berkomunikasi digital. 

    Tapi ternyata, privasi yang terus ditawarkan tersebut malah menjadikan aplikasi tersebut disalahgunakan untuk tujuan lain.

    Seperti dalam studi terbaru yang dilakukan Cyberint, sebuah perusahaan keamanan siber mengatakan bahwa Telegram menjadi sarang menarik bagi para penjahat dunia maya.

    Mengutip dari Mashable, Senin, 20/09/2021, Cyberint melaporkan bahwa para hacker menjual dan berbagai data-data pribadi yang telah dibobol di aplikasi Telegram.

    Baca juga: Dianggap Ketinggalan Jaman, Telegram Ejek WhatsApp Soal Fitur Baru

    Jika dulu ada Dark Web yang menjadi sarang kejahatan siber serta aktivitas gelap internet, sekarang Telegram menjadi pilihan karena mudah digunakan dan tidak terlalu dimoderasi.

    Alasan lain mengapa para peretas ini banyak pindah ke Telegram karena Dark Web tidak bisa diakses sembarang orang dan sangat tertutup rapat bagi orang luar. Sedangkan untuk aplikasi ini, orang-orang dengan mudah bisa mengunduhnya dan melakukan obrolan ‘rahasia’ dengan privasi end-to-end encryption. Ditambah adanya fitur obrolan hingga 200 ribu pengguna.

    Analis Tal Samra dari Cyberint menyebutkan fitur-fitur inilah yang mendorong adanya kenaikan hingga 100 persen dalam penggunaan Telegram di kalangan penjahat siber. 

    Tercatat dalam temuan Cyberint, adanya peningkatan dari 172ribu link di tahun 2020 menjadi satu juta lebih tahun ini.

    “Layanan pesan terenkripsinya makin populer dikalangan pelaku ancaman siber yang melakukan aktivitas penipuan dan menjual data curian. Hal ini karena (aplikasi tersebut) lebih nyaman digunakan daripada Dark Web,” kata Tal Samra.

    Baca juga: Twitter Bisa Sembunyikan Tweet Lama hingga Hapus Followers

    Penyebutan istilah tertentu oleh peretas yang digunakan saat mereka menjajakkan email-email dan kata sandi curian naik sekitar ‘empat kali lipat’ saat 2020 dan 2021. 

    Seperti salah satu saluran hacker yang sudah dihapus Telegram bernama ‘Combolist’, mereka menjual dan membagikan dump data yang mereka miliki. Saluran ini memiliki anggota sebanyak 47 ribu orang saat Telegram menghapusnya.

    Data-data pribadi yang dijual di Telegram diantaranya, data keuangan, dokumen pribadi, malware, panduan peretasan dan kredensial akun online.

    Telegram telah mendapatkan laporan ini dan segera menghapus saluran-saluran yang menjual kumpulan big data berisi email dan password. Perusahaan perpesanan ini juga menyebut bahwa mereka memiliki kebijakan menghapus data pribadi yang dibagikan tanpa persetujuan.

    Selain itu, Telegram juga mengatakan bahwa mereka memiliki tambahan kekuatan moderator yang profesional untuk menghadapi adanya masalah ini.