
Setengah jam saya berbincang dengan Djoko Kirmanto, ada 10 kali kata "rasa bangga" diucapkan mantan Menteri Pekerjaan Umum era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini. Rasa bangga itu ditujukan pada mobil sport utility vehicle (SUV) merek Esemka berkelir hitam yang dibeli dia pada 2013.
Esemka adalah mobil hasil rakitan siswa sekolah menengah kejuruan di Surakarta. Pada masa Wali Kota Solo Joko Widodo, mobil ini naik daun karena dipakai orang yang kelak menjadi presiden itu sebagai kendaraan dinas. Alhasil, Esemka menjadi buah bibir di kalangan menteri kabinet SBY.
Djokir, sapaan akrab Kirmanto, adalah menteri pertama yang membeli Esemka Rajawali R2. Disusul Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu Roy Suryo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan.
Mobil Esemka Rajawali R2 memiliki kapasitas mesin 1.600 cc, transmisi manual dengan lima percepatan, dilengkapi anti lock brake system.
Angan-angan untuk mendapatkan mobil Esemka sebenarnya sudah ada pada Djokir sejak Jokowi menjabat Wali Kota Solo. Tapi, baru terealisasi setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Djokir merogoh kocek pribadi Rp150 juta buat membawa mobil SUV berkapasitas angkut 5 penumpang ini tiba di rumah dinasnya di Kompleks Menteri Jalan Widya Chandara No 20, Jakarta Selatan. Jenis R2 adalah penyempurnaan dari model sama yang dipakai Jokowi berkapasitas 7 penumpang.
Wali Kota Solo Joko Widodo pernah berkata ia tak menyangka Esemka yang dirakit para siswa SMK dari kotanya mendapatkan peminat luar biasa. Klaimnya mencapai ribuan. Semuanya "demam" mobil Esemka, dari pejabat pemerintah dan lembaga memesan mobil tersebut.
Ada cerita menarik soal penentuan siapakah pemegang STNK mobil Esemka nomor satu. Sabar Budi, Humas PT Solo Manufaktur Kreasi, perakit Esemka, mengatakan ada "perebutan" nomor satu STNK antara Djoko Kirmanto dan Roy Suryo
"Kami juga sempat bingung ... Kami konsultasikan ke Pak Wali [Jokowi]. Tapi kami kemudian menentukan Pak Djoko yang akan pegang STNK nomor satu," ucap Sabar
Maka, pemilik pertama STNK untuk mobil Esemka bernomor polisi B 1127 BRL jatuh pada Djoko Kirmanto.
Djokir, yang dibesarkan dari keluarga militer, menunjukkan layar ponselnya kepada saya seraya membuka galeri foto. Ia memperlihatkan foto hasil jepretan akhir bulan lalu soal mobil Esemka R2 miliknya, yang kini ada di garasi rumah anaknya di Kompleks Perumahan Pengairan Tomang, Jakarta Barat.
Mobil Esemka itu sudah dihibahkan kepada anaknya setelah setahun digunakan Djokir. Seiring usia mobil bertambah, beberapa suku cadang perlu diganti seperti aki, tapi tak semua onderdil ini mudah didapatkan.
"Kalau anak saya bilang soal [Esemka], 'Onderdilnya agak susah'," kata dia.
Sopir pribadi Djokir, yang 30 tahun bekerja untuk keluarga ini, mengeluhkan hal sama. Selain itu Esemka SUV kurang nyaman dan masih memakai persneling manual.
Dengan kondisi Jakarta yang macet, mobil Esemka bukan pilihan terbaik. Ia bikin kita pegal dan cepat capek. Maka, bila pergi berdinas, si sopir lebih memilih Alphard untuk mengantar Djokir.
Sulit mendapatkan suku cadang Esemka karena mobil yang gelembungnya dibesarkan sebagai "mobil nasional" ini memakai komponen dari pelbagai negara, sebut saja mesinnya ada yang dari Cina, Italia, atau komponen lain diproduksi dari Thailand, Korea Selatan, dan Jerman.
Pendeknya, banyak komponen Esemka dari pelbagai jenisnya belum dibuat di Indonesia.
Dwi Budhi Martono, guru Teknik Otomotif SMKN 2 Surakarta yang membimbing siswa untuk proyek Esemka, berkata kepada kami: “Tidak semua kendaraan Esemka 100 persen dari satu lokasi karena masih prototiping."
Baca juga artikel terkait ESEMKA atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat