
Uzone.id - Pasar smartphone global diprediksi bakal memasuki periode terburuk di tahun ini, setidaknya menurut laporan terbaru Counterpoint bertajuk ‘Smartphone Market Outlook Tracker’. Dilaporkan, pengiriman smartphone dunia akan anjlok hingga 13,9 persen secara tahunan menjadi 1,08 miliar unit.
Counterpoint juga menyebut, proyeksi ini bahkan lebih buruk dibanding perkiraan sebelumnya. Pada Februari lalu, pasar smartphone global sempat diperkirakan turun 12,4 persen. Angka pengiriman tersebut juga menjadi ‘rekor baru’ sebagai volume tahunan terendah sejak tahun 2013.Penyebab utamanya adalah krisis pasokan memori yang memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini juga diperparah oleh tekanan geopolitik, termasuk konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz, yang menambah ketidakpastian di rantai pasok global.
Krisis memori bikin pasar makin tertekan
Diungkapkan Principal Analyst Counterpoint, Yang Wang, krisis memori menjadi salah satu gangguan terbesar dari sisi pasokan untuk industri smartphone. Menurutnya, situasi ini berbeda dari perlambatan yang dipicu melemahnya permintaan, seperti saat pandemi Covid-19 pada periode 2022-2023.
“Krisis memori adalah peristiwa sisi pasokan yang paling mengganggu yang pernah dihadapi industri ponsel pintar,” kata Yang Wang.
“Berbeda dengan perlambatan yang didorong oleh permintaan, seperti yang terlihat selama COVID dan tahun 2022-23, kontraksi saat ini tidak akan merespons penyesuaian harga, saluran, dan perencanaan produk,” lanjutnya.
Info saja, komponen seperti DRAM dan NAND menjadi bagian penting dalam produksi smartphone, baik untuk RAM maupun penyimpanan internal. Ketika pasokannya terganggu atau harganya naik, produsen tidak hanya menghadapi biaya produksi yang ikut terkerek, tapi juga risiko keterbatasan komponen.
Hal ini yang membuat vendor harus lebih berhati-hati dalam mengatur produksi dan pengiriman perangkatnya ke pasaran. Apalagi, dijelaskan Yang Wang, tekanan kali ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyesuaikan harga, kanal penjualan, maupun perencanaan produk.
Artinya, tekanan yang dihadapi industri smartphone tahun ini bukan sekadar soal bagaimana vendor mengatur strategi jualan. Masalahnya ada di pasokan komponen utama, sehingga ruang gerak produsen menjadi lebih terbatas.
Yang Wang menggambarkan kondisi ini sebagai tekanan yang lebih struktural, karena menyentuh komponen inti dalam produksi smartphone. Dengan kata lain, selama pasokan memori belum membaik, vendor akan tetap menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan perangkat di pasar.
“Krisis memori adalah penyebab langsungnya, namun cerita yang lebih dalam bersifat struktural, dengan merek yang lebih sedikit, harga yang lebih tinggi, siklus penggantian yang lebih lama, dan pasar yang semakin menghargai kontrol rantai pasokan dan kedalaman ekosistem dibandingkan ambisi volume,” jelasnya.
“Merek yang akan muncul dengan kekuatan terbesar adalah merek yang memanfaatkan krisis ini untuk mempertajam portofolionya, bukan sekadar bertahan,” pungkas Yang Wang.