
Uzone.id — Myanmar dan Kamboja, dua negara Asia Tenggara ini menjadi perhatian global karena menjadi gudang jaringan kejahatan siber skala internasional. Selain menjadi sarang penipuan online, sisi gelap dari dua negara ini adalah perekrutan anggota yang kebanyakan dilakukan secara ilegal.
Salah satu yang marak saat ini adalah penipuan lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dari awal. Bukan hanya menargetkan warga di Asia Tenggara saja, ternyata penipuan lowongan pekerjaan ini menargetkan warga Asia lainnya, termasuk Korea Selatan.Lebih luas lagi, penipuan lowongan pekerjaan ini juga menargetkan korban-korban dari wilayah Eropa.
Gen Z Korea Selatan jadi Sasaran Empuk
Tidak hanya masyarakat Indonesia yang banyak dijebak dan diiming-imingi gaji tinggi ketika bekerja di Thailand, Myanmar dan Kamboja. Ternyata, anak-anak muda Korea Selatan juga banyak tergoda oleh harapan palsu tersebut.
Melansir dari South Morning China Post, Selasa, (28/10), anak-anak muda Korea Selatan banyak yang terjebak dalam iming-iming tersebut, dan tak sedikit yang terbang ke daerah tersebut untuk bekerja normal.
Namun, pada nyatanya ketika mereka sampai, mereka diminta untuk menjalankan penipuan online dan operasi judi online. Mereka semua akhirnya dieksploitasi, menjadi korban perusahaan kriminal yang tersebar di wilayah perbatasan Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan sekitarnya tanpa hukum.
Salah satu korban yang baru-baru ini jadi perhatian adalah kematian anak muda warga Korea Selatan yang meninggal pada Juli 2025 lalu. Diketahui, ia pergi ke Kamboja untuk menghadiri sebuah pameran, namun satu bulan kemudian dirinya ditemukan tidak bernyawa di dalam sebuah mobil.
Mengutip dari ABC Australia, korban ditemukan di daerah yang menjadi sarang penipuan tenaga kerja yang menargetkan warga Korea Selatan. Berdasarkan pemeriksaan forensik yang dilakukan, korban diketahui meninggal karena serangan jantung akibat penganiayaan.
Hal ini menimbulkan amarah di kalangan warga Korea Selatan, apalagi hingga saat ini terdapat lebih dari 2.000 WN Korea Selatan yang bekerja di pusat penipuan online di Kamboja dan Myanmar.
Nasib Tragis Influencer Muda Belarusia di Myanmar
Selain Kamboja, Myanmar juga menjadi negara yang cukup mengerikan jika membahas soal penipuan online. Kedua negara ini seperti ‘adik-kakak’ terlepas lokasi mereka yang tidak berbatasan langsung.
Kengerian di Myanmar terkait penipuan lowongan kerja hingga operasi judi online juga tak kalah ngeri, korbannya pun dari berbagai negara–termasuk dari Eropa.
Baru-baru ini, nasib tragis menimpa seorang influencer, model dan mantan peserta The Voice Belarusia bernama Vera Kravtsova. Model berusia 26 tahun ini menjadi korban sindikat perdagangan manusia lintas negara di Asia Tenggara, tepatnya di Myanmar.
Menurut laporan, pada 16 Oktober 2025 waktu setempat, Vera Kravtsova melakukan perjalanan ke Bangkok, Thailand, setelah menerima tawaran kerja sebagai model. Namun, begitu tiba di sana, ia diculik oleh kelompok kriminal lokal dan dibawa ke wilayah perbatasan Myanmar.
Selama penculikan, paspor dan ponsel Kravchova disita agar tidak bisa kemana-mana. Ia pun dipaksa terlibat dalam aktivitas kejahatan siber, termasuk skema penipuan romansa yang menargetkan korban-korban dari kalangan orang kaya. Ia diharuskan berpura-pura menjalin hubungan emosional untuk kemudian mencuri uang para korban.
Namun, ketika Kravchova tidak mencapai target yang ditetapkan, ia kemudian dijual kepada kelompok perdagangan organ pada awal Oktober dan dibunuh. Jenazahnya kemudian dikremasi.
Para penipu ini kemudian menghubungi keluarganya, menuntut imbalan sebesar USD500 ribu untuk pengembalian abunya.
Ribuan warga Indonesia ‘Terjebak’
Tak hanya negara lain saja, ribuan warga Indonesia juga terjebak dalam lingkaran hitam tersebut. Banyak dari mereka bekerja sebagai admin perjudian online, penipuan hingga investasi bodong di dua negara tersebut.
Baru-baru ini, pihak militer Myanmar berhasil melakukan penggerebekan di pusat scam online yang terletak di KK Park dan Myawaddy, perbatasan Myanmar-Thailand.
Dalam peristiwa ini, lebih dari 2 ribu orang ditangkap dan tak sedikit yang menjadikan kesempatan ini untuk kabur dari sarang kejahatan penipuan online tersebut, termasuk oleh WNI.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon pun menjelaskan perkembangan situasi di kawasan KK Park tersebut. Sebanyak 75 WNI dilaporkan kabur dari kompleks itu pada 22 Oktober 2025 lalu.
Kondisi para WNI pun bervariasi. KBRI Yangon menerima informasi langsung dari salah satu WNI di lokasi yang menyebutkan bahwa sebagian masih berada di dalam kawasan KK Park, sementara sebagian lainnya sudah keluar menuju daerah sekitar Myawaddy–Shwe Kokko untuk mencari tempat aman.
KBRI juga telah mendapat kabar bahwa sebanyak 20 WNI berhasil menyeberang ke wilayah Thailand melalui Sungai Moei. Identitas dan juga kondisi mereka pun tengah diverifikasi oleh pihak berwenang di Mae Sot, Thailand.