
Uzone.id - Penjualan mobil baru di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Tapi di sisi lain, mobil bekas justru mengalami peningkatan pembeli. Kira-kira apa penyebabnya?
Penjualan mobil baru di Indonesia pada tahun 2025 secara wholesales turun 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan penjualan mobil penumpang turunnya lebih besar sampai 8,9 persen.Josua Pardede selaku Pengamat Ekonomi mengatakan penurunan penjualan kendaraan penumpang sejalan dengan tekanan terhadap kelas menengah. Penurunan penjualan mobil baru sendiri sudah menurun sejak tiga tahun terakhir.
Menariknya Josua mengungkap kalau kelas menengah yang tertekan ini pada akhirnya lebih membeli mobil bekas daripada mobil baru.
"Jadi indikasinya adalah justru malah kalau kita lihat data dari leasing companies, pembiayaan untuk mobil baru itu mengalami penurunan, tapi kalau kita lihat pembiayaan untuk mobil bekas itu justru malah jauh lebih berkembang," ujar Josua di IIMS 2026 baru-baru ini.
Menurut Josua, di tahun 2024 terjadi indikasi downtrading di tengah melemahnya daya beli konsumen. Ditandai dengan perlambatan yang lebih tajam pada pembiayaan kendaraan roda empat baru.
Berbanding terbalik dengan roda empat bekas yang masih tumbuh dan tren ini masih berlanjut hingga tahun 2025 kemarin.
"Jadi ini menginformasi bahwa yang kelas menengah itu membelanjakan used car (mobil bekas), nah menengah ke atas larinya ke EV (kendaraan listrik)," sebut Josua.
Fenomena ini akhirnya berdampak pada segmen mobil baru low cost green car (LCGC) yang banyak diminati kalangan menengah.
Mobil baru di segmen LCGC mengalami penurunan yang cukup drastis, merosot hingga sekitar 30 persen di 2025 kemarin jika dibandingkan dengan 2024.
"Dugaan kami sementara adalah, kalau kita bicara yang penjualan yang untuk segmen menengah ke bawah atau kelas menengah, karena dia terpengaruh atau menurunnya daya beli, masuk kepada used car, sehingga (penjualannya) LCGC drop," pungkasnya.
Fenomena ini pada akhirnya membuat penjualan mobil baru mengalami penurunan, justru segmen mobil listrik yang masih impor dari luar negeri yang semakin bertumbuh.
"Sehingga makanya value added untuk industri manufakturnya, khususnya otomotif, itu tidak besar. Makanya nanti harapannya, sebenarnya insentif diperlukan. Dan ini khususnya lagi kepada industri mobil listrik yang sudah ada pabrik," kata Josua.
Dengan kondisi seperti ini, Gaikindo selaku asosiasi industri otomotif mencanangkan target penjualan mobil secara nasional di angka 850.000 unit sepanjang tahun 2026.
Angka ini lebih tinggi ketimbang pencapaian pasar otomotif Nasional di 2025 yang cuma 803.687 (wholesales). Meski demikian, jumlahnya dinilai masih realistis untuk dicapai.