
Uzone.id — Tak hanya chatbot
milik Anthropic yang ikut terlibat dalam peperangan Amerika Serikat, pengakuan
terbaru dari Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika Serikat) menyebut bahwa
pihaknya menggunakan AI milik Elon Musk, Grok AI dalam operasi militer yang
menargetkan Iran.
“(Grok AI) memungkinkan pasukan AS untuk meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 sasaran berbeda dalam waktu 96 jam selama Operasi Epic Fury, yang menjadi bukti peningkatan efisiensi operasional yang signifikan berkat Model Grok Gov,” katanya dikutip dari The Hill.
Ia melanjutkan bahwa Grok AI menjadi satu antara empat model
AI yang saat ini mampu mendukung aplikasi keamanan nasional, bersama dengan
Claude, Gemini dan ChatGPT.
Sebagai informasi, Operasi Epic Fury sendiri terjadi pada 28
Februari hingga Mei 2026 lalu, dimana salah satu targetnya adalah Sekolah Dasar
Perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran, yang menewaskan ratusan pelajar dan
staf sekolah.
Dipilihnya Grok AI sebagai bagian dari otak penyerangan ini disebut karena fitur-fiturnya yang tidak ditemukan pada model AI lain, sayangnya Cameron enggan menyebut secara detail fitur-fitur tersebut.
“Model Grok Gov menawarkan fitur-fitur unik dalam XAI yang
tidak ditemukan pada model AI terdepan lainnya,” kata Cameron.
Pengakuan ini menjadi pengakuan blak-blakan pertama pejabat
pemerintahan soal penggunaan AI–khususnya Grok AI dalam serangan udara ke Iran.
Pernyataan Stanley ini ternyata punya tujuannya sendiri,
dimana pihak Pentagon ingin mempertahankan pusat data xAi di dekat Memphis,
yang dituduh mencemari udara.
“Pusat data ini memiliki fungsi yang dirancang khusus untuk
mendukung alur kerja perencanaan militer, pembuatan laporan, analisis prediktif
untuk logistik dan pemeliharaan, analisis red-teaming terhadap posisi musuh,
manajemen personel, hingga jalur pasokan medis,” tulis Stanley.