
Uzone.id — Situasi geopolitik yang terus bergejolak yang cuma berdampak secara nyata tapi juga di ruang digital. Bahkan, serangan siber diperkirakan akan terus meningkat di tengah kondisi ini.
Adrian Hia Managing Director APAC Kaspersky memprediksi kalau jumlah serangan siber akan semakin meningkat tahun ini, bahkan menjadi tahun dengan serangan siber tertinggi sepanjang sejarah.“Prediksi yang saya lihat adalah, jumlah serangan cyber security tahun ini, akan menjadi tahun tertinggi dalam sejarah,” katanya saat bertemu dengan awak media, Rabu, (08/04).
Lalu, apakah peningkatan serangan siber ini juga akan berdampak ke negara-negara non-konflik, termasuk Indonesia?Meski peperangan terjadi di negara lain seperti Iran, Amerika Serikat, Lebanon Palestina dan wilayah lainnya, tapi negara-negara lain yang tak ‘ikut campur’ pun tak lepas dari ancaman serangan-serangan siber tersebut, termasuk Indonesia.
“Suka tidak suka, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar se-ASEAN, negara ke-4 dengan populasi terbesar di dunia. Jumlah perangkat handphone pun jadi salah satu yang terbanyak di dunia. Jadi, suka tak suka, Indonesia akan menarik banyak serangan,” katanya.
Ia mengambil contoh negara Singapura, meski negara tersebut berhubungan baik dengan AS maupun China, namun hal tersebut tidak berpengaruh pada kondisi di ruang siber mereka.
“Kita mendapat serangan juga di tahun lalu, yang kebanyakan serangan berasal dari China. Jadi maksud saya, kita tidak selalu mendapat hal baik dari ‘teman baik’ kita tapi juga hal-hal yang kurang baik,” katanya.
Sama halnya dengan kondisi saat ini, meskipun Indonesia tak berkaitan langsung dengan kondisi geopolitik saat ini dan memiliki hubungan yang cukup baik dengan semua pihak, namun ini tak berarti Indonesia aman dari serangan siber yang meningkat akibat peperangan yang terjadi di belahan dunia lainnya.
“Dalam lingkungan keamanan siber saat ini, tak ada teman. Tidak penting apakah ada masalah geopolitik atau tidak, saya pikir dalam industri keamanan memang seperti itu,” ujarnya.
Terlepas dari itu, Adrian melihat bahwa situasi geopolitik yang terus bergejolak ini akan membuat setiap negara baik itu yang berkonflik maupun tidak akan menjadi lebih waspada dan melindungi diri dan data penting mereka di ruang digital.
Ia juga memprediksi bahwa peraturan soal data-data akan semakin diperketat dan akan banyak dipindahkan dari cloud ke infrastruktur lokal.
“Semakin banyak peraturan cyber security yang meminta kalian untuk menyimpan data. Saya memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan memindahkan data mereka,” katanya.
Jika sebelumnya banyak data disimpan di cloud, maka untuk infrastruktur kritikal seperti telekomunikasi, listrik, air, bandara, hingga perbankan, data tersebut akan mulai dikembalikan ke operator atau dikelola secara lebih lokal alih-alih mengandalkan cloud.