
Perimenopause (premenopause) adalah sebuah masa transisi dari siklus menstruasi normal menuju menopause. Biasanya, ada beberapa gejala yang menandai kondisi ini, sehingga para wanita bisa mengetahui waktu reproduksi mereka akan berakhir. Kenali lebih dalam soal perimenopause dan gejalanya agar tak keliru mengartikannya
Setiap wanita akan mengalami masa ini, tetapi kondisi ini akan terjadi di usia yang berbeda pada setiap wanita.
Kebanyakan wanita yang berusia sekitar 40 tahun akan merasakan gejala dari masa transisi ini, tapi tidak sedikit pula wanita yang mengalami hal tersebut di usia 30-an.
Gejala perimenopause akan bertahan sampai Anda mencapai menopause, yaitu ketika indung telur berhenti melepaskan telur. Setelah itu, selama 1-2 tahun terakhir dari masa transisi ini, kemungkinan besar Anda akan mengalami gejala menopause.
Sebenarnya, durasi dan gejala perimenopause yang dialami oleh setiap wanita sangat beragam. Ada beberapa orang yang hanya merasakan gejalanya selama beberapa bulan, ada pula yang mengalaminya selama 3-4 tahun.
Beberapa gejala umum yang menandakan Anda sedang berada dalam masa transisi ini, antara lain:
Salah satu gejala perimenopause yang cukup umum adalah menstruasi tidak teratur.
Seperti dilansir dari laman American College of Obstetricians and Gynecologist, kadar hormon progesteron dan estrogen akan tetap stabil pada siklus menstruasi normal.
Ovulasi biasanya terjadi pada pertengahan siklus dan menstruasi akan terjadi sekitar 2 minggu setelahnya.
Akan tetapi, jika Anda mengalami premenopause, keteraturan tersebut mungkin tidak terjadi. Gejala yang akan muncul, seperti:
Hot flashes adalah gejala yang paling umum dari perimenopause. Biasanya, gejala ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.
Jika terjadi pada malam hari, hawa panas yang terasa di tubuh Anda ini akan membuat Anda berkeringat, dan disebut keringat malam.
Semakin dini Anda mengalami gejala ini, semakin lama pula hot flashes akan mengganggu aktivitas harian Anda.
Tidak jarang kualitas tidur dapat berkurang karena rasa panas tersebut membuat para wanita tetap terjaga pada malam hari. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang mungkin bisa Anda coba untuk menghadapi hot flashes, seperti:
Tidak jarang orang yang menjelang menopause identik dengan perubahan suasana hati yang tidak stabil. Mulai dari cepat marah hingga meningkatnya risiko depresi.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi suasana hati. Misalnya, produksi hormon estrogen dan progesteron yang berkurang membuat tubuh dan otak mengalami banyak perubahan, sehingga dapat berkaitan dengan suasana hati Anda.
Seiring bertambahnya usia, tidak jarang para wanita yang memasuki masa perimenopause mengalami penurunan hasrat seksual.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa ketidakstabilan hormon reproduksi, seperti estrogen dan progesteron, membuat Anda tidak begitu bergairah untuk berhubungan intim.
Akan tetapi, jika Anda memiliki kehidupan seks yang memuaskan sebelum menopause dimulai, kemungkinan hasrat seksual Anda tidak akan berubah drastis.
Selain gairah seks yang berubah, gejala umum dari perimenopause lainnya adalah tingkat kesuburan yang menurun.
Hal tersebut disebabkan oleh ketidakteraturan masa kesuburan Anda (masa ovulasi) yang membuat peluang kehamilan menjadi merosot tajam. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa mempunyai anak sama sekali.
Selama Anda masih mengalami menstruasi, meskipun tidak teratur, Anda masih berpeluang untuk hamil. Cobalah untuk berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi tepat.
Pada dasarnya, semua wanita pasti akan mengalami masa perimenopause dan kondisi ini sangat normal terjadi.
Meski normal, masa ini juga bisa diwarnai beberapa komplikasi, seperti:
Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan ke dokter karena dikhawatirkan terdapat gangguan pada sistem reproduksi Anda dan membutuhkan penanganan yang tepat.
The post Kenali Periode Perimenopause, Masa Transisi Wanita Menuju Menopause appeared first on Hello Sehat.