
Gadis itu duduk di atas kursi roda. Dia sedikit lemas karena sehari sebelumnya baru saja menjalani hemodialisis atau lebih dikenal dengan terapi cuci darah.
Perempuan bernama lengkap Viara Hikmatun Nisa itu merupakan satu dari sedikit anak yang menderita gangguan ginjal kronis. Penyakit ini membuat perawakan Viara tampak kecil, padahal usianya sudah memasuki 14 tahun.
Penyakit ginjal kronis memang kebanyakan menyerang orang dewasa. Tapi, bukan berarti menutup kemungkinan bisa menyerang anak.
Secara global, insiden gangguan ginjal pada anak mencapai 33,7 persen dengan angka kematian 13,8 persen. Sementara di Indonesia, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2017 mencatat sebanyak 212 anak dari 19 rumah sakit yang terdata mengalami gangguan ginjal.
Lihat juga:Kenali Gejala Gangguan Ginjal pada Anak |
Bangun dari koma, Viara menjalani rawat jalan dengan kondisi badan yang lemah. Tak lama, saat pemeriksaan rutin dokter menemukan ada kelainan pada fungsi ginjal.
Dari Malang, Viara kembali berpindah rumah sakit ke Surabaya. Saat diperiksa, dokter mendiagnosis Viara menderita penyakit lupus dan divonis gagal ginjal.
"Kemungkinan saat operasi berulang itu, Viara sudah menderita lupus tapi karena masih awal belum ada gejala. Itu sebabnya, imun Viara lemah dan lupus itu menyerang ginjal," kata spesialis anak yang kini merawat Viara, dr Eka Laksmi Hidayati saat berbicara dalam diskusi media di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (13/11).
Lupus memang menjadi salah satu penyebab gagal ginjal. Dari keseluruhan, sebanyak 14,6 persen gagal ginjal pada anak disebabkan oleh lupus. Sisanya disebabkan oleh sindrom nefrotik yang membuat protein bisa lolos ke urine sebanyak 16 persen, hipoplasia atau ginjal kecil 12,3 persen, dan 13,2 persen di antaranya tak diketahui penyebabnya.
Keadaan gagal ginjal membuat Viara harus rutin cuci darah dua kali dalam sepekan. Namun, terapi itu terkendala karena tak ada peralatan hemodialisis khusus untuk anak di Surabaya. Viara hanya satu-satunya pasien hemodialisis di kota Pahlawan itu.
Lihat juga:6 Kebiasaan Sehari-hari Perusak Ginjal |
Namun, demi kesembuhan, Viara terpaksa melakukan cuci darah dengan alat yang biasa digunakan orang dewasa. Tak ayal, Viara mengerang kesakitan.
"Setiap 30 menit harus diberhentikan karena si anak kesakitan sekali," ucap sang ayah, Syaihul Hady, dalam kesempatan yang sama. Dua tahun Viara rutin melakukan cuci darah dengan alat untuk orang dewasa itu.
Tak tega, Syaihul lalu membawa Viara pindah ke Jakarta agar bisa menjalani terapi dengan alat yang tepat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Syaihul dan keluarganya pindah menetap di Metropolitan demi mengejar kesembuhan Viara sejak 2015.
Mereka tinggal di Utan Kayu agar tak jauh rawat jalan ke RSCM. Maklum, setidaknya Viara mesti dua kali seminggu menjalani cuci darah. Selain terapi hemodialisis, Viara juga menjalani perawatan untuk meningkatkan berat badan. Saat tiba di RSCM berat badan Viara sempat turun menjadi 12 kg.
Tetap produktif
Walau terkungkung perawatan, bukan berarti Viara tak bisa berkarya. Dia gemar menggambar dan membuat kerajinan tangan.
"Suka menggambar atau buat gelang, kalung," ujar Viara.
Lihat juga:Sayuran Segar yang Ramah Ginjal |
Viara bahkan membawa semua peralatan kerajinannya itu saat menjalani hemodialisis di rumah sakit. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk berjualan kepada dokter, suster, dan pengunjung lain di rumah sakit. Empat tahun berobat di RSCM membuat Viara mampu mengumpulkan Rp10 juta dari hasil jualan kerajinan tangan.
"Anaknya aktif sekali. Dia buat kerajinan tangan lalu dijual. Sekarang tabungannya sudah Rp10 juta," ungkap Syaihul.
Selain menjual secara langsung, Viara juga menjual di dunia maya lewat akun Instagram-nya @viarahikni serla platform e-commerce seperti Tokopedia dan Buka Lapak dengan nama Viarashop.
Kini, Viara tengah menunggu antrian BPJS Kesehatan untuk menjalani transplantasi ginjal dari ibunya, Inwaningsih. Rencananya, Viara akan kembali menjalani operasi di RSCM pada Februari 2019.