
Polusi udara menjadi persoalan serius di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Pada pertengahan tahun 2019, masalah tentang buruknya kualitas udara di negara ini menjadi semakin serius dibicarakan.
Warga Jakarta memang akrab dengan polusi udara. Tapi tak hanya Jakarta saja yang tak beruntung. Beberapa daerah di luar Jawa, seperti Kota Pekanbaru, Kota Dumai, dan sejumlah provinsi di Kalimantan pun dibayangi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap yang merusak kualitas udara.
Studi Afif Khan bersama koleganya dalam penelitian terbaru mereka yang dipublikasikan pada Agustus 2019 menemukan hubungan erat polusi lingkungan dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan.
Studi Khan, dkk. menganalisis dua dataset 151 juta individu yang terdapat pada dataset klaim asuransi di Amerika Serikat dan kesehatan dari 1,4 juta penduduk Denmark yang tercatat dalam daftar perawatan nasional.
Pada studi tersebut, Roberts, dkk menganalisis masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja yang dikaitkan dengan tingkat paparan polusi udara PM2.5 dan NO2 saat anak berusia 12 tahun. Di situ observer mengidentifikasi 284 anak-anak di London, Inggris Raya.
Dari riset tersebut, para ahli menemukan bahwa anak-anak berusia 12 tahun yang hidup di lingkungan berpolusi tiga sampai empat kali lebih mungkin mengalami depresi berat saat mereka berumur 18 tahun.
Dalam ulasan penelitian milik Roberts, dkk. oleh The Guardian para ilmuwan menemukan 75 persen masalah kesehatan mental dipengaruhi oleh masa anak-anak atau remaja, ketika otak mereka sedang berkembang.
“Tingkat polusi udara yang tinggi tidak baik untuk Anda, terutama untuk masa anak-anak Anda, baik itu kesehatan fisik atau mental,” ujar Helen Fisher dari Kings College London kepada The Guardian.
Penelitian yang dilakukan oleh Khan, dkk. dan Roberts, dkk. jelas membuktikan bahwa polusi udara tak hanya membawa dampak bagi kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental penduduknya.
Dalam studi Jacob King berjudul “Air pollution, mental health, and implications for urban design: a review” (2018) memaparkan bahwa paparan O3 dan PM2.5 secara terus-menerus bisa mengakibatkan kerusakan neurovaskular. Gangguan pada sistem saraf itulah yang menyebabkan tekanan pada otak manusia.
Temuan ini diperkuat oleh studi Anna Gladka, Joanna Rymaszewska, dan Tomasz Zatonski (PDF). Dalam studi yang terbit pada 2018 itu mereka membeberkan mekanisme kerusakan struktur otak akibat kondisi udara yang buruk.
Gladka, dkk. menyebutkan bahwa partikel beracun yang terbawa oleh udara tersebut akan masuk ke dalam saluran pernapasan kita dan turut serta dalam aliran darah ke otak. Akibatnya, partikel yang terakumulasi bisa mengganggu kinerja otak, mengakibatkan kemunculan penyakit seperti Alzheimer atau Parkinson, penyakit yang bisa menjadi faktor risiko dari depresi.
King menambahkan, ada faktor lain yang bisa menjadi pemicu meningkatnya gangguan psikologis pada orang di daerah berpolusi, misalnya penyakit kronis yang diderita akibat paparan udara, serta keadaan emosional yang buruk. Sebab bisa saja, buruknya kualitas udara terjadi akibat kepadatan lalu lintas jalanan atau suara bising mesin-mesin industri.
Jika menilik kasus di Jakarta, pengukuran kualitas udara milik IQAir pada Kamis, 22 Agustus 2019 tertulis bahwa kualitas udara di Jakarta menduduki peringkat kedua terburuk di dunia di angka 159 dan PM2.5 pada angka 71.1 mikrogram/m3.
Jika melihat hasil studi-studi tersebut, sudah semestinya pemerintah terdorong mengatasi berbagai masalah polusi udara di Indonesia supaya tak membawa masalah yang lebih serius.
Baca juga artikel terkait KABUT ASAP atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika