
Anda mungkin pernah berpura-pura sakit demi menghindari ujian di sekolah. Atau sebagai alasan tak bisa memenuhi deadline kantor. Atau, jangan-jangan Anda juga pernah pura-pura sakit supaya terhindar dari hukuman? Dalam dunia psikologi, perilaku ini dikenal dengan nama malingering.
Pelaku malinger bahkan bisa dengan sengaja menaikkan suhu termometer dengan mendekatkannya ke lampu, atau menukar maupun mengontaminasi sampel urin, dengan tujuan mengecoh petugas medis.
Malingering tidak bisa dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun, dalam buku panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), malingering mendapatkan kode V. Artinya, kondisi ini perlu mendapat perhatian. Ini karena perilaku malingering dapat merugikan pelaku medis lewat penyalahgunaan fasilitas, pelaksanaan tes yang tidak perlu, dan penipuan terhadap pihak lain.
Pelaku malingering berpura-pura sakit untuk berbagai tujuan yang menguntungkan diri sendiri. Terkadang seseorang berpura-pura sakit untuk mendapatkan kompensasi secara finansial, namun bisa juga demi keuntungan sosial, interpersonal, dan lainnya.
Menurut American Psychiatric Association, malingering alias berpura-pura sakit seringnya terjadi untuk mendapatkan tujuan-tujuan berikut :
Pemeriksaan kesehatan bisa memastikan apakah seseorang benar sakit atau hanya berpura-pura. Namun, dokter juga bisa melakukan Pemeriksaan Status Mental dan biasanya pelaku malingering akan menampakkan gejala sebagai berikut:
Memberikan penjelasan yang samar (tidak jelas) saat ditanya oleh dokter
Pengamatan jangka panjang bisa membantu mengekspos kepura-puraan, karena pelaku biasanya kesulitan mempertahankan kondisi pura-pura sakit tersebut dalam jangka waktu yang lama.
Pelaku malingering juga biasanya tidak punya cukup pengetahuan tentang gejala penyakit yang ia “alami”, sehingga saat dilakukan tes fisik, ia akan kesulitan meniru reaksi yang seharusnya terjadi di tubuhnya.
Melakukan sesi tanya-jawab atau konsultasi, di mana petugas medis menanyakan sejumlah pertanyaan bertubi-tubi dalam waktu yang cukup lama, akan membuat pelaku kewalahan karena harus “mengarang” jawaban dalam waktu kilat. Akibatnya, Anda akan menemukan jawaban yang saling berkontradiksi atau tidak konsisten.
Evaluasi psikologi juga direkomendasikan untuk mendeteksi malingering. Psikolog memiliki panduan wawancara klinis yang ilmiah dan objektif, untuk mengetahui apakah seorang pasien memberikan jawaban yang jujur, atau jika ia melebih-lebihkan kondisi sebenarnya.
The post Pura-pura Sakit Demi Menghindari Hukuman? Inilah yang Namanya ‘Malingering’ appeared first on Hello Sehat.