
-
Radio adalah barang mewah sebelum Indonesia merdeka. Begitu juga lemari es. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno ingin agar dua barang yang dicap mewah itu bisa dinikmati orang-orang Indonesia. Keinginan Bung Karno itu terngiang terus di kepala pemuda Thayeb Mohammad Gobel. Kebetulan, pemuda Gorontalo ini bekerja di NV Behring—Perusahaan dagang di Jalan Pinangsia 75, Jakarta—yang punya perakitan radio dengan suku cadang dari Austria.
Gobel tak berlama-lama di Behring, tempatnya mempelajari seluk-beluk radio. Pengalaman kerja di Dasaad Moesin Concern, Fasco, dan lainnya, membuat Gobel berani berwirausaha bersama kawan-kawannya. Tak main-main, mereka membangun pabrik radio. “Tahun 1954, sewaktu saya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co, dengan mengambil tempat di Cawang,” aku Theyeb Gobel dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia Dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang (1994) yang disusun Ramadhan KH.
Berkat televisi-televisi perusahaan Gobel itulah masyarakat Indonesia bisa liat gambar hidup tanpa harus ke bioskop atau layar tancap. Berkat televisi-televisi itu pula Televisi Republik Indonesia (TVRI) mulai eksis di mata orang-orang Indonesia.
Sebagai pengusaha elektronik nasional di era Sukarno, tentu saja Gobel akhirnya bertemu sang presiden. “Bung Karno sudah tahu akan transistor radio merek Tjawang dan Leppin Product yang sudah populer di tengah masyarakat, sampai-sampai di pedesaan, jauh dari ibu kota Jakarta,” tulis Ramadhan.
Dalam pertemuan itu, Sukarno bertanya, “mengapa memilih usaha radio transistor?” Gobel pun menjawab: “Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak.”
Setelah Sukarno jatuh dari kursi Presiden setelah 1966, usaha Gobel tak ikut jatuh. Saat itu keran penanaman modal asing di Indonesia dibuka, dan perusahaan-perusahaan multinasional asing pun masuk ke Indonesia. Ini berkat Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 (UU No.1/1967) tentang Penanaman Modal yang disahkan sejak 10 Januari 1967.
Di saat yang sama, kesulitan ekonomi membuat kawan Gobel menjual saham mereka kepada Gobel. Maka PT Transistor Radio Mfg. Co berubah nama menjadi PT Gobel & Tjawang Concern.
Gobel juga mendapat manfaat masuknya modal asing itu. Dengan modal patungan bersama Matsushita, berdirilah National Gobel pada 1970. National Gobel belakangan menjadi Panasonic Manufacturing Indonesia. Usaha Gobel kemudian berkembang. Pada 1974, pabrik lokal Met Gobel berdiri.
Setelah Thayeb Gobel meninggal pada 21 Juli 1984, tepat hari ini 35 tahun silam, usahanya tidak mati. Panasonic tak hanya bertahan, tapi juga berkembang. Pada 1987, pabrik baterai PT. Panasonic Gobel Battery Industry diresmikan. Hingga kini, baterai-baterai perusahaan ini menjadi produk ekspor. Ketika terjadi musim pengurangan karyawan seiring kelesuan ekonomi tanah air, pabrik ini tetap berproduksi dan mengekspor.
Setelah Panasonic Gobel Battery Industry diresmikan, anak perusahaan lain seperti PT Panasonic Gobel Indonesia; PT. Panasonic Shikoku Electronics Indonesia; PT. Panasonic Electronic Device Indonesia; PT. Panasonic Electric Works Gobel Sales Indonesia; PT. Panasonic Electronic Device Batam; PT. Panasonic Semiconductor Indonesia; PT. Panasonic Lighting Indonesia pun berdiri sebelum tahun 1995.
Baca juga artikel terkait GOBEL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi