
Petitih “sedia payung sebelum hujan” bisa jadi sudah tak relevan lagi atau sebaliknya meski di era serba digital saat ini. Kemunculan aplikasi-aplikasi prakiraan cuaca dalam genggaman ponsel pintar atau smartphone membuat segala hal soal proyeksi cuaca harian bisa jadi andalan.
Pada toko aplikasi seperti Google Play maupun App Store ada banyak aplikasi prakiraan cuaca yang tersedia, antara lain Weather, AccuWeather, Weather Underground, hingga Info BMKG milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia. Namanya memang beda-beda, tapi fungsi aplikasi-aplikasi itu kurang lebih sama untuk memprediksi cuaca.
Secara umum, aplikasi-aplikasi prakiraan cuaca tersebut bersumber dari basis data yang hampir serupa. Mengutip The New York Times, di Amerika Serikat, tempat sebagian besar aplikasi prakiraan cuaca berasal, data dapat diperoleh melalui National Weather Service, NASA, National Oceanic and Atmospheric Organization, satelit, balon udara pengamat cuaca, stasiun pengamatan lokal, serta beragam lokasi sensor lainnya.
World Meteorological Organization, organasiasi kumpulan para BMKG sedunia, mengklaim memiliki lebih dari 10.000 titik stasiun pengamatan cuaca di seluruh dunia. Titik-titik tersebut menjadi fondasi utama pengumpulan data bagi pengumpulan informasi soal prakiraan cuaca.
Data dari berbagai lokasi itu hadir dalam rupa data soal temperatur, titik embun, kumpulan awan, kecepatan dan arah angin, curah hujan, dan beberapa rupa data lainnya.

“Kami mendapat banyak hujatan dari meteorolog yang mengatakan bahwa komputer tidak dapat melakukannya dan kamu selalu membutuhkan manusia di sana untuk menentukan cuaca,” ucap Adam Grossman, pembuat aplikasi bernama Dark Sky.
“Tapi manusia sangat payah soal memperkirakan. Ketika prakiraan cuaca akan dilakukan jauh lebih baik menyerahkannya pada komputer,” ucapnya kepada The New York Times.
“Algoritma membuat beberapa asumsi tentang atmosfer. Algoritma tersebut memberikan perkiraan di mana kondisi atmosfer tertentu akan terjadi,” ucap Chris Maier pada Business Insider.
Algoritma digunakan terutama karena sangat banyak data yang perlu diolah. AccuWeather, salah satu aplikasi ini memiliki algoritma sendiri bernama RealFeel.
Keyakinan memperkirakan cuaca pada algoritma tersebut dibantah oleh Dannis Mersereau dalam tulisannya di Gawker. Ia mengatakan bahwa “prakiraan cuaca berkualitas diciptakan oleh para prakirawan terlatih yang menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk melengkapi model data.”
Sehingga tak semata pada algoritma. Serta tak bisa dipungkiri bahwa tak ada algoritma yang sempurna dan tiap pengembang aplikasi prakiraan cuaca memiliki algoritmanya sendiri-sendiri. Ini membuat perbedaan hasil prakiraan tak terhindarkan.
Meskipun dua pendekatan tersebut terasa berbeda, kolaborasi keduanya sesungguhnya bisa saja dilakukan. Ini karena kombinasi keduanya menjadi sama pentingnya.
“Analisa bareng kita olah untuk menghasilkan gambaran pola angin, konsentrasi kelembaban udara, dan lainnya. Algoritma pasti (juga dipakai). Tidak bisa satu-satu semuanya harus (berbarengan antara algoritma, superkomputer, dan analisa ahli), karena data ada banyak dan tidak hanya dari Indonesia saja. Kita bertukar data dengan internasional,” terang Mulyono.
Apa yang diungkapkan Mulyono senada dengan keyakinan Kevin Doerr dari Weather Channel. “Kami adalah sebuah organisasi yang mempekerjakan ratusan meteorolog, ditambah dengan ilmu komputasi (algoritma komputer) yang dibutuhkan untuk menghasilkan prakiraan,” ungkapnya.
Perbedaan hasil yang ditampilkan tiap aplikasi prakiraan cuaca memang tak bisa dicegah. Para pengguna aplikasi sangat mungkin mendapatkan prakiraan yang tidak akurat atau meleset. Bagi yang menyandarkan informasi cuaca dari aplikasi, tentu saja tidak salah. Namun, bagi yang meyakini tetap membawa payung/jas hujan sebelum gerimis datang tentu itu pun sebuah pilihan.
Baca juga artikel terkait APLIKASI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin